Awal Musim Hujan Mundur, Kekeringan Meluas di Enam Kecamatan di Sikka
MAUMERE-Awal musim hujan di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), diperkirakan baru terjadi pada akhir Desember 2026. Kondisi ini menjadi tantangan bagi masyarakat, terutama petani yang bergantung pada curah hujan, di tengah kekeringan yang meluas ke enam kecamatan.
Forecaster BMKG Sikka, Mulya Afiyanto, menjelaskan awal musim hujan di wilayah Sikka diperkirakan terjadi pada Desember dasarian III, yakni sekitar 21–31 Desember.
Menurut Mulya, kondisi tersebut tergolong terlambat dibandingkan pola musim hujan yang pada periode tertentu mulai terjadi pada November dasarian III atau awal Desember.
Ia menjelaskan, kondisi iklim global, termasuk fenomena El Nino, dapat memengaruhi waktu datangnya musim hujan, jumlah curah hujan, hingga durasi musim hujan.
Ketika El Nino berlangsung, awal musim hujan cenderung mundur, curah hujan berkurang, dan periode musim hujan menjadi lebih pendek.
“Jadi, memang itu tantangan sekali buat kita di Sikka,” kata Mulya saat menjelaskan pengaruh kondisi iklim terhadap pola hujan di wilayah Sikka, Senin (19/10/2026).
Dampak perubahan pola hujan ini terutama dirasakan sektor pertanian. Petani yang mengandalkan hujan untuk mengolah lahan dan menanam komoditas pangan berisiko mengalami gagal panen jika ketersediaan air tidak mencukupi.
Mulya menggambarkan musim hujan di Sikka terkadang berlangsung singkat. Petani mulai menanam jagung ketika hujan turun, tetapi saat tanaman membutuhkan air untuk tumbuh hingga menghasilkan, hujan justru berhenti.
Karena itu, penentuan waktu tanam menjadi penting untuk mengurangi risiko kerugian. BMKG, kata dia, bekerja sama dengan Dinas Pertanian Sikka dalam penyediaan informasi iklim yang dapat menjadi acuan bagi petani, salah satunya melalui kalender tanam.
Kekeringan Meluas di Enam Kecamatan
Di tengah perkiraan mundurnya musim hujan, Pemerintah Kabupaten Sikka terus melakukan penanganan kekeringan dan menyalurkan bantuan air bersih kepada masyarakat terdampak.
Bupati Sikka, Juventus Prima Yoris Kago, menyebut enam kecamatan yang wilayahnya mengalami dampak kekeringan, yakni Doreng, Kangae, Kewapante, Bola, Lela, dan Palue.
Pemerintah daerah telah menyalurkan bantuan air bersih ke sejumlah wilayah, termasuk Doreng, Kangae, dan Palue. Distribusi berikutnya dilakukan secara bertahap untuk menjangkau wilayah lain yang membutuhkan.
Bupati mengapresiasi peran wartawan yang terus menyampaikan informasi mengenai kondisi masyarakat di desa-desa terdampak kekeringan.
Menurutnya, pemberitaan dari lapangan membantu pemerintah memperoleh informasi mengenai kebutuhan masyarakat sekaligus menjadi bagian dari keterbukaan informasi tentang penanganan bencana.
Ia mengatakan pemerintah daerah terus berupaya memperluas jangkauan distribusi air bersih seiring dengan kebutuhan masyarakat yang masih berlangsung.
Pelaksana Tugas Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Sikka, Pet Poling Wairmahing, mengungkapkan jumlah wilayah yang membutuhkan bantuan air bersih berpotensi bertambah.
Laporan baru masih diterima BPBD, termasuk pada hari ketika pemerintah daerah menyampaikan perkembangan penanganan kekeringan.
“Sebetulnya ada lebih dari yang kita data ini,” ujarnya, Selasa (20/10/2026).
Pet Poling menjelaskan, kekeringan tidak selalu melanda seluruh desa dalam satu kecamatan. Dalam satu kecamatan yang memiliki beberapa desa, hanya sebagian desa yang mungkin mengalami kesulitan air bersih dan membutuhkan bantuan.
Ia menyebut Kewapante, Kangae, dan Nele sebagai beberapa wilayah yang kerap membutuhkan pasokan air bersih saat musim kering.
Untuk mendukung distribusi, BPBD berkoordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Sikka serta Palang Merah Indonesia (PMI) Sikka.
Dukungan dari sejumlah pihak tersebut membuat pemerintah memiliki sekitar empat mobil tangki untuk membantu penyaluran air bersih.
Selain mengandalkan armada yang tersedia, pemerintah juga menyiapkan anggaran operasional, termasuk untuk bahan bakar kendaraan. Jika armada yang ada tidak mencukupi, BPBD dapat menyewa kendaraan milik masyarakat guna membantu pendistribusian air.
Pet Poling meminta pemerintah desa dan kecamatan yang wilayahnya mengalami kekeringan agar segera menyampaikan laporan resmi kepada BPBD sehingga kebutuhan masyarakat dapat ditangani lebih cepat.
Ia mengatakan dalam kondisi tertentu, BPBD dapat lebih dahulu membantu masyarakat sembari menunggu kelengkapan administrasi permohonan dari pemerintah desa atau kecamatan.
Pantauan media ini, Bupati Sikka, Juventus Prima Yoris Kago pada Rabu (21/102/2026) siang melakukan kunjunga kerja melihat secara langsung dampak kekeringan berkepanjangan yang dialami warga di Kampung Hepang, Desa Nenbura, Kecamatan Doreng, Kabupaten Sikka.
Pada kesempatan itu, Bupati Juventus menyerahkan bantuan berupa air tangki 10.000 liter dan 2 unit tandon air kepada warga Kampung Hepang.
Ket

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan