Kepsek dan Wali Kelas Ungkap Keseharian Siswa SD di Sikka yang Meninggal Bunuh Diri: Dikenal Periang

waktu baca 4 menit

MAUMERE-AP (10) siswa kelas V SDN Lirikelang, Desa Wuliwutik, Kecamatan Nita, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), dikenal sebagai anak yang periang dan mudah bergaul dengan teman-temannya di sekolah.

Kepala SDN Lirikelang, Hendrikus Hewer, mengatakan, selama mengikuti kegiatan belajar mengajar, AP tidak menunjukkan perubahan perilaku yang mencolok.

Ia juga tidak melihat tanda-tanda yang membuat pihak sekolah mencurigai adanya persoalan yang sedang dialami anak berusia 10 tahun itu.

“Kalau saya boleh katakan, anaknya itu periang,” kata Hendrikus saat ditemui di sekolah, Rabu (21/10/2026) pagi.

Menurut Hendrikus, AP termasuk siswa yang berani ketika mengikuti kegiatan pembelajaran di kelas. Ketika guru memberikan soal atau tugas, ia kerap menjadi salah satu siswa yang pertama mengangkat tangan dan maju ke depan untuk mengerjakannya.

Bagi Hendrikus, keberanian itu merupakan salah satu hal positif yang ia lihat dari diri AP selama berada di sekolah.

“Kalau namanya diberi tugas, justru dia orang pertama yang angkat tangan dan maju ke depan untuk menyelesaikan soal. Soal salah atau benar, itu kemudian, tetapi bahwa dia berani,” ujarnya.

Hendrikus mengaku tidak melihat adanya perubahan yang mencurigakan pada AP, termasuk pada hari terakhir korban mengikuti kegiatan belajar di sekolah.

Pada Selasa (20/10/2026), AP masih mengikuti pelajaran seperti biasa hingga waktu pulang sekolah. Pihak sekolah baru mengetahui kabar duka tersebut pada malam hari melalui pesan di grup WhatsApp.

“Kami juga tadi malam baru mendapat berita lewat grup WhatsApp bahwa salah satu anak didik kami, namanya AP, meninggal,” katanya.

Hendrikus mengatakan, peristiwa tersebut mengejutkan pihak sekolah. Sebab, selama pemantauan mereka, AP terlihat dapat bergaul dengan baik, baik bersama teman sebaya maupun dengan para guru.

Ia pun mengaku belum mengetahui secara pasti persoalan yang melatarbelakangi peristiwa tersebut.

Gambaran serupa disampaikan wali kelas V, Ambrosius Maksi. Ia mengenang AP sebagai anak yang periang, supel, dan senang bergaul dengan teman-teman sekelasnya.

Secara akademik, kata Ambrosius, kemampuan AP berada pada tingkat rata-rata. Meski demikian, ia melihat ketertarikan tersendiri pada diri AP ketika mengikuti pelajaran matematika.

“Anaknya periang, supel, dia suka bergaul dengan temannya. Dia lebih menyukai matematika. Kalau ada pertanyaan, dia langsung kerja di depan,” kata Ambrosius.

Ambrosius mengatakan, keberanian AP untuk maju mengerjakan soal tetap terlihat meskipun ia belum tentu memberikan jawaban yang benar. Baginya, hal itu menunjukkan bahwa AP tidak segan terlibat dalam kegiatan pembelajaran.

Ia juga mengaku tidak melihat perubahan sikap atau perilaku Albert dalam satu hingga dua hari sebelum peristiwa tersebut.

“Dari sikapnya, tingkah lakunya, dari cara bicaranya, tidak mencurigakan. Sehingga kalau menurut saya sebagai wali kelas, dia dalam keadaan normal dan baik-baik saja,” ujarnya.

Sekolah Sebut Tidak Ada Tugas Membawa HP

Keterangan foto: Wali kelas V, Ambrosius Maksi saat menunjukan bangku dan meja belajar AP (10) siswa kelas V yang meninggal gantung diri, Selasa (20/10/2026) malam.

Keterangan mengenai keseharian AP di sekolah turut menjadi perhatian setelah muncul informasi bahwa korban sempat berselisih paham dengan ibunya pada pagi hari sebelum kejadian.

Perselisihan itu, berdasarkan informasi awal dari kepolisian, berkaitan dengan permintaan AP untuk membawa telepon genggam atau HP ke sekolah.

Hendrikus menegaskan, pihak sekolah tidak pernah meminta siswa membawa HP untuk kepentingan pembelajaran pada hari tersebut.

Ia mengatakan, kondisi ekonomi keluarga siswa di wilayah itu juga menjadi salah satu pertimbangan sekolah untuk tidak mewajibkan penggunaan HP dalam kegiatan belajar mengajar.

“Kami dari pihak sekolah tidak menegaskan kepada anak-anak untuk membawa HP. Kalau ada tugas yang mengharuskan mereka membawa HP, itu tidak ada,” katanya.

Penegasan serupa disampaikan Ambrosius. Menurut dia, tidak ada tugas maupun kegiatan pembelajaran yang mengharuskan siswa kelas V membawa HP pada hari itu.

Ia menjelaskan, kegiatan sekolah berlangsung seperti biasa. Setelah kegiatan belajar, para siswa mengikuti latihan menyanyi di ruang perpustakaan sebelum pulang sekitar pukul 12.25 Wita.

“Tidak ada pesan dari wali kelas untuk mereka membawa HP ke sekolah,” tegas Ambrosius.

Sekolah yang berada di Desa Wuliwutik itu kini berduka atas meninggalnya salah satu peserta didiknya.
Kepsek Hendrikus mengatakan, pihak sekolah berencana mendatangi rumah duka untuk menyampaikan belasungkawa kepada keluarga.

Namun, saat wawancara berlangsung, mereka masih berkoordinasi dengan pihak kepolisian.

AP diketahui tinggal bersama kedua orang tuanya di di RT 017/RW 05, Dusun Lirikelang, Desa Wuliwutik, Kecamatan Nita, Kabupaten Sikka.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *