Serahkan SK Penegerian SDK Hilahobuai di Desa Werang, Bupati Juventus: Kita Jangan Sampai Lupakan Jasa Sanpukat

waktu baca 5 menit

MAUMERE-Bupati Sikka, Juventus Prima Yoris Kago, mengingatkan masyarakat agar tidak melupakan jasa misi Katolik dalam merintis pendidikan di Flores.

Ia menyampaikan terima kasih kepada Yayasan Pendidikan Umat Katolik (Sanpukat) yang telah berperan besar dalam membuka akses pendidikan bagi masyarakat Sikka, termasuk di wilayah Kecamatan Waiblama.

Pesan itu disampaikannya saat menyerahkan Surat Keputusan (SK) penegerian SDK Hilahobuai menjadi SD Negeri Hilahobuai di Desa Werang, Kecamatan Waiblama, Sabtu (17/10/2026) pagi.

Menurut Juventus, banyak sumber daya manusia asal Waiblama yang kini menjadi guru, sarjana, hingga pejabat pemerintahan berkat kehadiran lembaga pendidikan yang dirintis oleh misi Katolik.

Ia menegaskan, perubahan status sekolah swasta menjadi sekolah negeri tidak boleh menghapus sejarah perjuangan lembaga misi dalam membangun pendidikan di daerah ini.

“Kalau omong sejarah, kita harus akui bahwa pendidikan kita tidak lepas dari campur tangan misi. Yang pertama menggerakkan pendidikan di Flores itu adalah misi. Sampai kapan pun kita tidak dapat melupakan itu,” kata Juventus.

Ia melanjutkan, perkembangan pendidikan kemudian melibatkan peran negara dan pemerintah melalui pembangunan sekolah-sekolah negeri. Meski demikian, masyarakat tetap harus mengingat bahwa lembaga misi merupakan bagian penting dari sejarah awal pendidikan di Flores.

“Tetapi cikal bakal pendidikan tidak boleh kita lupakan itu,” tegasnya.

Juventus juga mengakui bahwa banyak pengelola sekolah swasta datang mengajukan permohonan agar sekolah mereka dinegerikan. Menurut dia, pemerintah perlu mempertimbangkan kondisi sekolah swasta saat ini, terutama karena situasi sosial masyarakat telah berubah dibandingkan masa lalu.

“Memang banyak yang datang ke saya, minta sekolah dinegerikan. Saya bilang kalau kami, pemerintah daerah, khususnya saya, kenapa, karena saya tahu betul kondisi sekolah swasta kita, tidak sama seperti sekolah swasta yang dulu, dengan kondisi sosial masyarakat yang sudah berbeda,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua panitia penegerian SDK Hilahobuai, Bernadus Bala mengatakan, penegerian SDK Hilahobuai menjadi salah satu langkah untuk menjawab harapan masyarakat Desa Werang terhadap keberlanjutan dan peningkatan mutu pendidikan di wilayah tersebut.

Ia menuturkan, perjalanan sejarah SDK Hilahobuai yang bermula pada 1943. Saat itu, sekolah ini masih dikenal sebagai sekolah rakyat yang didirikan di Hobuai atas prakarsa Kepala Kampung Romanus Rongan, dengan dukungan Pater Grodh, SVD, serta masyarakat dari sejumlah kampung di sekitarnya.

Sekolah pertama kali dibangun di atas tanah milik Simon Susar. Para siswa berasal dari Hobuai, Werang, dan Watutena. Dalam perkembangannya, sekolah kemudian dipindahkan ke kampung Hila untuk mendekatkan akses pendidikan bagi anak-anak dari Hila Watuwolon dan wilayah sekitarnya.

Pemindahan tersebut dilakukan atas inisiatif Kapitan Rapa Ipir bersama masyarakat dan pemerintah setempat. Sekolah selanjutnya dibangun di atas tanah milik Rofinus Rema.
Pada 1946, sekolah itu resmi menjadi Sekolah Dasar Katolik Hilahobuai di bawah asuhan Sanpukat.

Perjalanan sekolah ini tidak selalu berjalan mulus. Pada 1992, bangunan sekolah mengalami kerusakan berat akibat gempa bumi. Kegiatan belajar mengajar pun sempat dipindahkan ke lapangan umum Desa Werang dengan menggunakan bangunan darurat.

Saat itu, kegiatan pendidikan berlangsung dengan enam rombongan belajar, enam guru, dan seorang tenaga tata usaha. Setelah beberapa waktu, kegiatan belajar kembali dilanjutkan di bangunan lama dengan sarana dan prasarana seadanya.

Pada 2000, melalui kerja sama Sanpukat dan pemerintah, SDK Hilahobuai memperoleh bantuan pembangunan empat ruang kelas permanen, yang kemudian disusul dengan penambahan tiga ruang kelas.

Selanjutnya, pada 2019, sekolah kembali memperoleh bantuan pemerintah melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) untuk pembangunan tiga ruang kelas permanen. Namun, kebutuhan pembenahan sarana lainnya, termasuk kantor kepala sekolah dan perpustakaan, masih menjadi bagian dari perjalanan sekolah tersebut.

Perjuangan panjang itulah yang mengiringi harapan masyarakat dan Pemerintah Desa Werang agar SDK Hilahobuai beralih status menjadi sekolah negeri.

Apresiasi juga disampaikan Pelaksana Tugas Kepala SDK Hilahobuai, Maria Anjelina Dolosta, S.Pd. Ia mengaku senang sekaligus terharu karena perjuangan untuk menjadikan sekolah tersebut berstatus negeri akhirnya terwujud.

Maria mengatakan dirinya telah mengabdi sebagai guru di sekolah itu sejak 2005. Selama kurang lebih dua tahun terakhir, ia menjalankan tugas sebagai pelaksana tugas kepala sekolah.

“Peristiwa hari ini luar biasa. Saya senang dan terharu karena sekolah swasta ini kami telah perjuangkan lama. Saya sebagai Plt. kepala sekolah kurang lebih dua tahun dan hari ini telah resmi dinegerikan oleh Bupati Sikka,” tuturnya.

Sementara itu, Penjabat Kepala Desa Werang, Rusnadi Rus, menyebut penegerian sekolah tersebut merupakan hasil perjuangan panjang yang melibatkan banyak pihak.

“Sebagai pemerintah desa, saya menyampaikan terima kasih banyak, karena memang proses sampai ke SD negeri ini adalah proses perjuangan. Di balik perjuangan itu ada pengorbanan tentunya, di balik pengorbanan ada keindahan tersendiri sehingga hari ini bisa terjawab,” katanya.

Ia menegaskan, pemerintah desa mendukung perubahan status sekolah tersebut dan berharap penegerian itu menjadi momentum untuk meningkatkan kualitas pendidikan bagi anak-anak di Desa Werang dan sekitarnya.

“Harapan saya, berkaitan dengan serah terima SK hari ini di SDN Hilahobohai, kami pemerintah desa sangat mendukung, kemudian kami menyampaikan terima kasih banyak,” ujarnya.

Kegiatan penyerahan SK dan peresmian SD Negeri Hilahobuai turut dihadiri Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Sikka, Patrisius Pederiko, pastor pembantu Paroki Tanarawa, Pater Deta, CP, Camat Waiblama, Lasarus Gunter, Camat Talibura, Fransiskus Ismail, Penjabat Kepala Desa Werang, Rusnadi Rus, pengawas sekolah serta tokoh masyarakat dan warga Desa Werang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *