Mobil Ambulans Puskesmas Wualadu, Sikka Sudah Dibiarkan Rusak 7 Bulan, Pasien Rujukan Sering Pakai Pick-up

waktu baca 5 menit
Keterangan foto: Mobil ambulans Puskesmas Wualadu yang dibiarkan rusak dan terparkir di halaman Puskesmas Wualadu.

MAUMERE-Mobil ambulans Puskesmas Wualadu, Kecamatan Doreng, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), mengalami kerusakan selama berbulan-bulan. Akibatnya, pelayanan rujukan pasien terkendala dan keluarga pasien terpaksa mengeluarkan biaya tambahan untuk menyewa kendaraan, termasuk mobil pick-up, agar pasien bisa dibawa ke rumah sakit.

Kepala Puskesmas Wualadu, Herman, mengatakan ambulans tersebut sudah rusak sebelum dirinya mulai bertugas pada 1 Juli 2026. Berdasarkan informasi yang diterimanya dari staf, kerusakan kendaraan itu diperkirakan telah berlangsung hampir satu tahun.

“Jujur saja, saya masuk di sini tanggal 1 Juli 2026, mobil ini sudah rusak sebelum saya masuk,” kata Herman saat diwawancarai.

Herman mengaku belum mengetahui secara pasti sejak kapan ambulans tersebut mengalami kerusakan. Namun, kondisi itu membuat pihaknya harus mencari alternatif kendaraan untuk melayani pasien yang membutuhkan rujukan ke fasilitas kesehatan yang lebih lengkap.

Menurut Herman, Puskesmas Wualadu selama ini bekerja sama dengan Puskesmas Habibola untuk menangani rujukan pasien dalam kondisi darurat. Kedua puskesmas tersebut saling membantu ketika salah satunya membutuhkan dukungan kendaraan ambulans.

“Untuk kasus-kasus emergensi, Puskesmas Wualadu bekerja sama dengan Puskesmas Habibola. Jadi, kami saling menopang dalam proses rujukan,” ujarnya.
Namun, kerja sama tersebut tidak selalu berjalan lancar ketika ambulans Puskesmas Habibola juga sedang digunakan untuk mengantar pasien atau menjalankan tugas lainnya.

Dalam situasi seperti itu, pihak Puskesmas Wualadu terpaksa mengupayakan kendaraan lain yang tersedia di sekitar wilayah tersebut agar pasien segera mendapat penanganan di rumah sakit.

“Mau tidak mau, kita harus menyelamatkan nyawa. Mobil-mobil yang ada di sekitar ini dengan sendirinya kita harus upayakan, tidak melihat seperti apa, tapi menyelamatkan nyawa dulu supaya cepat ke rumah sakit,” kata Herman.

Ia mengungkapkan, selama kurang lebih tiga bulan bertugas di Puskesmas Wualadu, sudah empat kali pasien dirujuk menggunakan kendaraan sewaan. Tiga di antaranya merupakan ibu hamil, sedangkan satu lainnya pasien umum.

“Selama saya ada di sini baru empat kali. Bumilnya tiga, pasien umum satu. Puji Tuhan, selamat semua,” tuturnya.
Meski seluruh pasien tersebut selamat, penggunaan kendaraan sewaan menimbulkan biaya tambahan bagi keluarga pasien.

Herman menjelaskan, jika menggunakan ambulans Puskesmas Habibola, biaya operasional seperti bahan bakar minyak (BBM) serta kebutuhan pengemudi ditanggung Puskesmas Wualadu. Namun, apabila menggunakan kendaraan sewaan, biaya transportasi menjadi tanggungan keluarga pasien.

“Kalau dengan ambulans Habibola, semua dibebankan pada Puskesmas Wualadu, baik BBM, makan minum sopir dan lain sebagainya,” jelasnya.

Herman mengatakan, pihaknya telah menyampaikan kondisi ambulans yang rusak tersebut kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka melalui surat resmi. Ia juga telah mengajukan analisis kebutuhan fasilitas kesehatan, termasuk ambulans, tenaga kesehatan, dan alat kesehatan.

“Secara regulasi saya sudah menyampaikan ke Pak Kadis bahwa mobil ambulans Wualadu posisi rusak. Saya juga sudah membuat analisis kekurangan, bahkan kerusakan mobil, kekurangan mobil untuk mendapatkan mobil ambulans ini,” ungkapnya.

Menurut Herman, satu unit ambulans sudah memadai untuk menunjang pelayanan di Puskesmas Wualadu yang merupakan puskesmas rawat jalan.

“Untuk rawat jalan satu ambulans. Saya rasa cukup. Satu ambulans sudah bisa memenuhi itu,” katanya.

Ia berharap usulan kebutuhan tersebut dapat ditindaklanjuti melalui mekanisme pengadaan fasilitas kesehatan, termasuk pengusulan kepada pemerintah pusat.

Selain persoalan ambulans, Herman menyebut Puskesmas Wualadu masih menghadapi keterbatasan tenaga kesehatan. Saat ini terdapat 24 tenaga yang bertugas di puskesmas. Jika tenaga kesehatan yang bertugas di jaringan desa ikut dihitung, jumlahnya mencapai 27 orang.

Ia mengatakan, Puskesmas Wualadu masih kekurangan perawat dan bidan. Fasilitas kesehatan tersebut juga belum memiliki tenaga kesehatan lingkungan maupun tenaga laboratorium.

Tokoh Muda Doreng Soroti Pelayanan Rujukan Pakai Kendaaraan Sewaan oleh Pasien

Kondisi ambulans yang rusak tersebut turut mendapat sorotan dari tokoh muda Kecamatan Doreng, Febronius Wilfridus. Ia mengatakan, persoalan ketiadaan ambulans untuk rujukan pasien di Puskesmas Wualadu sudah berlangsung sekitar tujuh bulan.

Menurut Oni, demikian ia akrab disapa, Kecamatan Doreng memiliki dua puskesmas, yakni Puskesmas Habibola dan Puskesmas Wualadu. Namun, ketika ambulans Wualadu rusak, pelayanan rujukan pasien sangat bergantung pada ketersediaan ambulans dari fasilitas kesehatan lain.

“Informasi yang kami dapat itu bahwa mobil ambulans Puskesmas Wualadu ketiadaan biaya perawatan, bahkan biaya perbaikan mobil yang rusak. Kapus Wualadu juga membenarkan ambulans dalam keadaan rusak saat kunjungan kami ke Puskesmas Wualadu beberapa waktu lalu,” ungkap Oni, Sabtu (17/10/2026) pagi.

Ia menjelaskan, bantuan ambulans dari Puskesmas Habibola tidak selalu tersedia karena kendaraan tersebut juga melayani rujukan pasiennya sendiri. Begitu pula ketika Puskesmas Wualadu berupaya meminta bantuan dari Puskesmas Hewokloang, kendaraan rujukan tidak selalu bisa digunakan jika sedang bertugas.

Akibatnya, menurut Oni, pasien yang membutuhkan rujukan kerap harus menggunakan kendaraan umum. Pada siang hari, pasien bisa diantar menggunakan mobil angkutan pedesaan, sedangkan pada malam hari keluarga pasien harus mencari mobil pick-up sendiri.

“Kami sering kali melihat Puskesmas Wualadu merujuk pasiennya itu pakai mobil taksi umum di siang hari. Sementara kalau kejadian malam hari, keluarga pasien dipaksakan untuk sendiri mencari mobil pick-up. Sementara beban biayanya dibebankan kepada pasien,” katanya.

Oni menilai persoalan tersebut bukan sekadar kerusakan kendaraan, tetapi menyangkut akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan, terutama dalam situasi darurat yang membutuhkan penanganan segera.

“Menjadi pertanyaan kami, kondisi hari ini di manakah hadirnya pemerintah, negara hadirnya di mana, soal urgensinya layanan kesehatan di Kecamatan Doreng,” ujar Oni.

Sebagai tokoh muda Doreng, ia menilai penanganan persoalan kesehatan di Puskesmas Wualadu belum menunjukkan keseriusan yang memadai.

Ia menegaskan, ketersediaan ambulans untuk rujukan pasien merupakan kebutuhan mendesak yang harus mendapat perhatian pemerintah daerah.

“Kami menilai Dinkes Sikka tidak serius dan tidak jeli melihat persoalan ini, karena persoalan ini sudah tujuh bulanan,” tegas Oni.

Oni berharap Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka segera menindaklanjuti persoalan tersebut agar pelayanan rujukan di Puskesmas Wualadu tidak terus bergantung pada ambulans fasilitas kesehatan lain atau kendaraan sewaan yang biayanya harus ditanggung keluarga pasien.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *