Jenazah Pasien Dimuat Pakai Pick-up Padahal Ada Ambulans, Anggota DPRD Sikka Sayangkan Sikap Puskesmas Bola, Minta Dinkes Evaluasi

waktu baca 4 menit
Keterangan foto: jenazah warga Hebar, Desa Mahe Tanah yang dibawa ke rumah duka menggunakan mobil pick up pada Kamis (15/10/2026) malam.

MAUMERE-Keputusan Puskesmas Bola, Kabupaten Sikka, yang tidak mengizinkan keluarga menggunakan mobil ambulans untuk mengantar jenazah Tadeus Kruut (70) ke kampung halamannya di Hebar, Desa Mahe Tanah, Kecamatan Doreng pada Kamis (15/10/2026) malam, menuai sorotan dari anggota DPRD Sikka.

Anggota DPRD Sikka, Agustinus Feliksius Segon dan Yohanes Yos de Peskim, sama-sama menyayangkan kejadian tersebut. Keluarga Tadeus akhirnya harus menyewa mobil pick-up seharga Rp 400.000 untuk membawa jenazah ke Kampung Hebar, Desa Mahe Tanah, Kecamatan Doreng, pada Kamis (15/10/2026) malam.

Padahal, berdasarkan informasi yang diterima anggota DPRD tersebut, Puskesmas Bola memiliki dua unit mobil ambulans. Keluarga disebut telah meminta bantuan kendaraan itu, tetapi tidak mendapatkannya dengan alasan bahan bakar minyak (BBM) tidak mencukupi.

Agustinus Feliksius Segon menilai, keterbatasan BBM semestinya tidak serta-merta menjadi alasan untuk menolak permintaan keluarga, terutama ketika mereka sedang berduka dan kesulitan mendapatkan kendaraan untuk membawa jenazah.

“Jadi, ini kan sangat disayangkan kalau seandainya hanya alasan BBM,” kata Feliks saat diwawancarai pada Jumat (16/10/2026) malam.

Menurut dia, apabila persoalannya hanya bahan bakar, perlu dipertimbangkan solusi yang memungkinkan ambulans tetap digunakan untuk membantu keluarga, tanpa mengabaikan kebutuhan rujukan pasien dalam kondisi darurat.

“Biasanya kan keluarga bisa tanggung 100-200 untuk ganti BBM-nya, ya tetapi kan ini alasan sampai dengan muat di pick-up lagi dengan kondisi tanpa peti mati, ini kan sangat kasihan,” ujarnya.

Feliks mengaku prihatin setelah melihat foto jenazah yang diangkut menggunakan mobil pick-up.

Ia meminta Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka mengevaluasi kebijakan penggunaan mobil ambulans di puskesmas agar pelayanan kepada masyarakat tidak berhenti pada persoalan administratif.

“Maka saya pikir ini yang harus menjadi evaluasi dan perlu ada tanggapan, Dinkes Sikka harus ini ambil sikap juga,” katanya.

Ia juga berpandangan bahwa kebijakan di lapangan perlu mempertimbangkan situasi yang dihadapi masyarakat, terutama ketika keluarga tidak memiliki pilihan kendaraan lain.

“Perlu ada kebijakan untuk kepentingan untuk pendekatan pelayanan kepada masyarakat,” ujarnya.

Sorotan serupa disampaikan Anggota DPRD Sikka, Yohanes Yos de Peskim. Ia menilai persoalan BBM yang menyebabkan mobil ambulans tidak dapat digunakan untuk membantu keluarga membawa jenazah perlu menjadi perhatian serius Dinas Kesehatan Sikka.

Menurut Are, demikian ia disapa, puskesmas merupakan fasilitas pelayanan kesehatan dasar yang seharusnya didukung dengan sarana dan prasarana memadai, termasuk kesiapan kendaraan untuk menunjang pelayanan kepada masyarakat.

Ia mengatakan, Puskesmas Bola yang menjadi salah satu fasilitas rujukan rawat inap di wilayah tersebut semestinya dapat memberikan contoh pengelolaan pelayanan yang baik.

Ia menegaskan, persoalan ketersediaan BBM tidak boleh dianggap sepele apabila sampai menghambat pelayanan kepada masyarakat.

“Nah, kalau hal sepele yang model macam BBM saja bisa jadi soal, itu kan kasihan,” ujarnya.

Are menilai, pemerintah daerah perlu memberi perhatian lebih terhadap pembenahan pelayanan kesehatan di tingkat puskesmas, terutama terkait ketersediaan fasilitas penunjang.

Menurut dia, keluhan mengenai kendaraan ambulans bukan hanya menyangkut Puskesmas Bola, terjadi juga di puskesmas lainnya. Karena itu, ia meminta Dinas Kesehatan Sikka menata persoalan tersebut secara menyeluruh.

“Karena urusan kesehatan ini kan urusan dasar wajib yang memang kita harus urus. Kita sadar memang, di daerah ini belum terlalu fokus membenahi pelayanan kesehatan di tingkat puskesmas, terutama ketersediaan fasilitas penunjang,” katanya.

Ia melanjutkan, persoalan ambulans di sejumlah puskesmas perlu menjadi perhatian agar kendaraan yang tersedia benar-benar dapat mendukung pelayanan ketika dibutuhkan.

“Nah, kan keluhan tentang kendaraan mobil ambulans ini kan bukan hanya di Puskesmas Bola. Di Puskesmas Bola ada ambulans, tapi BBM tidak ada. Di Pusekasmas lain kan bahkan ada ambulans yang dibiarkan rusak. Itu harusnya ke depan jadi fokusnya Dinas Kesehatan untuk bereskan fasilitas begitu, apa pun caranya,” ujar Are.

Are juga menyoroti kondisi keluarga yang harus membawa jenazah menggunakan mobil pick-up, meskipun mereka telah meminta bantuan ambulans.

Menurut dia, keluarga yang sedang berduka tentu berharap jenazah anggota keluarganya dapat diantar dengan layak. Apalagi, dalam kasus ini, keluarga disebut bersedia memberikan uang untuk pengisian BBM apabila hal tersebut menjadi kendala.

“Masyarakat kan ingin orang sudah meninggal diurusin dengan baik seperti diantar paakai ambulans, jangan dibiarkan kayak begitu, menyedihkan sekali,” katanya.

Ia mempertanyakan kesiapan operasional kendaraan apabila alasan BBM juga berpotensi menghambat pelayanan rujukan pasien yang masih membutuhkan penanganan medis.

“Harusnya BBM di ambulans itu kan selalu posisi ready, tidak boleh kosong, kan harusnya begitu,” ujar Are.

Are meminta adanya penjelasan resmi dari Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka mengenai persoalan tersebut. Ia berharap pemerintah tidak hanya memberikan alasan, tetapi juga menjelaskan langkah perbaikan yang akan dilakukan.

“Tinggal kita tunggu saja ini, harus ada penjelasan resmi dari pihak dinas dan tidak usah ngeles, alasan macam-macam lagi. Kalau salah ya bilang mengaku salah saja,” katanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *