Anggaran Rp 3,2 Miliar, Kampung Nelayan Merah Putih di Nangahure, Sikka Mulai Dibangun, Target Rampung Desember 2026

waktu baca 5 menit

MAUMERE-Pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) di Nangahure, Kelurahan Wuring, Kecamatan Alok Barat, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), resmi dimulai dengan peletakan batu pertama pada Selasa, 13 Oktober 2026. Proyek senilai Rp3.214.500.000 ini ditargetkan rampung pada akhir Desember 2026.

Pembangunan tersebut dikerjakan oleh PT Arum Daya Sentausa. Kehadiran KNMP diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir melalui penyediaan fasilitas penunjang aktivitas nelayan, mulai dari tambatan perahu hingga sarana penanganan hasil tangkapan.

Bupati Sikka, Juventus Prima Yoris Kago, mengatakan, pembangunan KNMP di Nangahure sempat menghadapi sejumlah kendala dan dinamika di tengah masyarakat. Namun, melalui komunikasi dan dukungan berbagai pihak, termasuk Komandan Pangkalan TNI Angkatan Laut (Danlanal), proses pembangunan akhirnya dapat dimulai.

“Memang proses kita untuk sampai pada hari ini itu ada beberapa hal yang sempat menjadi kendala, tetapi sejak kedatangan menteri di bulan Februari, awal tahun kalau tidak salah, itu yang membuat semuanya menjadi lancar,” kata Juventus.

Ia mengapresiasi pihak-pihak yang telah membantu menyelesaikan dinamika tersebut sehingga pembangunan dapat berjalan. Menurut dia, masyarakat perlu memahami bahwa program KNMP ditujukan untuk mendukung aktivitas dan meningkatkan kesejahteraan nelayan, bukan sebaliknya.

“Prinsipnya satu, bahwa pemerintah hadir di sini untuk membantu Bapak, Mama semua. Mana ada orang bangun kampung nelayan bikin susah Bapak, Mama? Justru ada kampung nelayan itu membantu Bapak, Mama,” ujarnya.

Juventus menjelaskan, KNMP dirancang sebagai ekosistem pendukung kegiatan perikanan dari hulu hingga hilir. Nelayan tidak hanya membutuhkan tempat untuk menambatkan perahu, tetapi juga fasilitas untuk mendaratkan, menyimpan, dan memasarkan ikan hasil tangkapan.

“Melaut, pulang, parkir, sandar di sini, taruh ikan di sini, siapa yang mau beli, mau simpan ikan esnya di mana, kan begitu. Dia punya alurnya. Nah, itu yang menurut kami penting,” katanya.

Ia menambahkan, keberadaan fasilitas tersebut diharapkan membuat aktivitas nelayan lebih mudah dan efisien, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat di sekitar kawasan pesisir.

Karena itu, Bupati meminta masyarakat ikut mendukung pelaksanaan pembangunan, termasuk menjaga komunikasi dengan pelaksana proyek dan pemerintah agar pekerjaan dapat diselesaikan sesuai target.

“Hari ini kita peletakan batu pertama, mulai besok kita kerja sama-sama, bantu. Di sela-sela waktu kita melaut, setelah salat, mari datang ke sini, duduk, lihat kita punya bapak-bapak, mama-mama yang kerja ini, kita bantu semampu kita biar bisa lebih cepat,” ujarnya.

Menurut Juventus, percepatan pembangunan akan memberikan manfaat langsung kepada masyarakat. Ia berharap seluruh pihak, mulai dari pemerintah kelurahan, kecamatan, pemerintah daerah, hingga masyarakat setempat, mengambil bagian dalam mendukung kelancaran pekerjaan.

“Kalau semua kerja lebih cepat juga manfaat bukan buat pemerintah,” katanya.

Delapan lokasi KNMP dialokasikan untuk Sikka

Sementara itu, Wakil Sah Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Pembangunan KNMP Kabupaten Sikka, Amrita Wahyu, mengatakan pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih merupakan salah satu program Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir melalui penyediaan infrastruktur yang dibutuhkan nelayan.

Ia menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Sikka dan masyarakat yang telah membantu penyiapan lokasi serta kelengkapan administrasi sehingga pembangunan di Nangahure dapat dimulai.

“Untuk diketahui bahwa pada tahun ini, Kabupaten Sikka dipercaya dan mendapat alokasi pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih sebanyak delapan titik lokasi, salah satunya di Kelurahan Wuring ini,” kata Amrita.

Menurut dia, alokasi delapan lokasi tersebut merupakan bentuk perhatian pemerintah pusat terhadap kebutuhan infrastruktur perikanan di Kabupaten Sikka. Pembangunan diharapkan memberikan manfaat nyata bagi nelayan, terutama dalam mendukung aktivitas produksi dan penanganan hasil tangkapan.

Khusus di Nangahure, sejumlah fasilitas yang direncanakan meliputi tambatan perahu, bangunan shelter pendaratan ikan, pabrik es portabel, kios perbekalan, sarana air bersih dan sumur bor, penerangan jalan kawasan, jalan lingkungan, serta saluran drainase.

Namun, Amrita menjelaskan bahwa pekerjaan yang dilaksanakan pada tahap ini berfokus pada pembangunan fondasi. Pembangunan bangunan fasilitas akan dilanjutkan oleh Direktorat Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan KKP.

“Kami hanya membangun fondasi, tapi akan diteruskan oleh Direktorat Jenderal Penguatan Daya Saing/KKP juga untuk bangunannya,” jelasnya.

Ia berharap keberadaan berbagai fasilitas tersebut tidak hanya membuat kawasan pesisir lebih tertata dan higienis, tetapi juga meningkatkan efisiensi penanganan hasil tangkapan, memperlancar distribusi ikan, serta memberikan kenyamanan bagi nelayan dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.

Meski demikian, menurut Amrita, pembangunan infrastruktur harus diikuti dengan tanggung jawab bersama dalam pemanfaatan dan pemeliharaan fasilitas. Sinergi pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan masyarakat dinilai penting agar sarana yang dibangun dapat digunakan secara optimal dan berkelanjutan.

Dikebut agar selesai sesuai target

Amrita mengakui pelaksanaan pembangunan telah mengalami keterlambatan dari jadwal kontrak awal. Karena itu, pekerjaan perlu dipercepat agar dapat diselesaikan sesuai target pada Desember 2026.

“Memang kita sudah terlambat dari kontrak awal, tapi nanti kita akan percepat. Dari kontraktor sudah menyanggupi, sehingga diharapkan sesuai dengan target dan bisa langsung dimanfaatkan oleh masyarakat sini,” ujarnya.

Ia berharap pelaksanaan proyek tetap memperhatikan ketepatan waktu, mutu pekerjaan, dan transparansi agar hasil pembangunan benar-benar sesuai kebutuhan masyarakat nelayan.

Di sisi lain, Bupati Sikka menyebut Nangahure termasuk lokasi yang dapat melanjutkan pembangunan. Dari delapan titik KNMP yang dialokasikan untuk Kabupaten Sikka, beberapa lokasi lain masih menghadapi persoalan karena berada di kawasan Taman Wisata Alam (TWA).

“Ada surat dari Kementerian Kehutanan kalau tidak salah itu untuk kemudian ditinjau ulang titiknya. Ini yang sedang kita upayakan,” kata Juventus.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *