Cerita Relawan Promkes PMI Jawa Timur Dampingi Warga Terdampak Gempa di Pulau Palue hingga Daratan Sikka

MAUMERE-Di tengah masa transisi darurat menuju pemulihan pascagempa bumi yang mengguncang Flores, Sabtu, 15 Agustus 2026, kerja-kerja kemanusiaan tidak hanya berbicara tentang bantuan logistik dan pembangunan kembali rumah warga.
Edukasi tentang kesehatan, kebersihan, serta pendampingan psikososial bagi anak-anak juga menjadi bagian penting dari pemulihan.
Hal itu dilakukan relawan Promosi Kesehatan (Promkes) Palang Merah Indonesia (PMI) Pusat yang ditugaskan ke wilayah terdampak gempa di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur.
Salah satu relawan tersebut adalah Khairul Rasyid, relawan PMI Jawa Timur yang bersama dua relawan lainnya mendapat penugasan dari PMI Pusat untuk memberikan layanan promosi kesehatan di wilayah terdampak.
Khairul ditemui pada Senin (28/9/2026) sore di Kampung Dobo, Desa Iantena, Kecamatan Kangae, saat memberikan layanan promkes kepada puluhan anak bersama relawan PSP PMI Sikka.
Kegiatan tidak dibuat seperti penyuluhan formal. Anak-anak diajak belajar tentang perilaku hidup bersih dan sehat sembari bermain. Salah satunya melalui permainan ular tangga yang diselingi pesan-pesan kesehatan.
“Yang mana mencontohkan bagaimana perilaku hidup bersih dan sehat, dan bagaimana promosinya. Sehingga nanti bisa dilanjutkan oleh teman-teman Sikka sendiri,” kata Khairul.
Menurut dia, materi promosi kesehatan yang dibawa para relawan antara lain cara mencuci tangan menggunakan sabun dengan enam langkah yang benar, kewaspadaan terhadap rabies dan demam berdarah dengue (DBD), serta cara menyimpan dan mengelola air agar aman dikonsumsi.
Khairul bersama Maulidi dan Aryo Hadiyanto mendapat penugasan selama dua pekan. Dua relawan berasal dari PMI Pamekasan, Jawa Timur, sementara satu lainnya dari PMI Jakarta Timur.
Mereka tiba di wilayah Flores pada 22 September 2026. Sehari kemudian, tim bergerak menuju Pulau Palue dan menghabiskan sekitar empat hari memberikan pelayanan di wilayah tersebut.
“Ini kita penugasan itu dua minggu. Satu minggu di Ende kemarin, dan satu minggu ini di Sikka,” ujar Khairul.
Pengalaman selama berada di Palue menjadi bagian yang paling membekas bagi Khairul.
Ia melihat langsung kondisi wilayah atas Palue yang terdiri dari empat desa di wilayah pegunungan dengan akses yang cukup sulit. Medan menuju wilayah tersebut, kata dia, ekstrem sehingga membutuhkan kendaraan berpenggerak empat roda.

“Yang paling parah itu empat desa di atas pegunungan. Kita juga treknya ke sana itu juga ekstrem sekali, sehingga kita memerlukan kendaraan 4×4,” katanya.
Menurut Khairul, persoalan yang paling terasa bagi masyarakat Palue bukan hanya kerusakan bangunan akibat gempa, tetapi juga keterbatasan air bersih.
Di wilayah bawah, kata dia, masyarakat masih menemukan air, tetapi kondisinya payau. Sementara di empat desa wilayah atas, persoalan air bersih semakin terasa.
“Di sana yang paling sulit adalah air bersih. Karena di desa di wilayah pesisir itu ada, tapi air payau dia. Apalagi di wilayah atas,” ujarnya.
Ia juga melihat kondisi sejumlah fasilitas pendidikan yang mengalami kerusakan. Anak-anak terpaksa mengikuti kegiatan belajar mengajar di luar bangunan sekolah menggunakan tenda darurat.
“Bangunan sekolah yang hancur, mereka harus belajar di luar kelas dengan tenda-tenda darurat,” kata Khairul.
Bersama tim WASH, relawan PMI juga mencoba memikirkan cara mengaktifkan kembali fasilitas produksi air yang tersedia di wilayah tersebut.
Salah satu peralatan yang menjadi perhatian adalah Watergen. Menurut Khairul, teknologi tersebut bekerja dengan mengambil uap air dari udara untuk menghasilkan air.
Ia berharap dukungan tenaga ahli dapat diberikan untuk mengaktifkan kembali peralatan tersebut sehingga dapat membantu memenuhi kebutuhan air masyarakat.
Setelah menyelesaikan pelayanan di Palue, tim kembali ke daratan Sikka.
Khairul mengatakan, promosi kesehatan tidak berhenti ketika masa tugas relawan dari luar daerah berakhir. Karena itu, mereka juga melakukan koordinasi dengan relawan PMI Sikka agar edukasi kesehatan dapat terus dilanjutkan.
“Promosi kesehatan ini tetap dilanjutkan,” katanya.

Pada hari kedua pelayanan di daratan Sikka, tim mengunjungi Sekolah Luar Biasa (SLB) untuk bertemu dengan anak-anak berkebutuhan khusus.
Selain memberikan edukasi mengenai cuci tangan dan perilaku hidup bersih dan sehat, kegiatan juga dikemas dalam suasana bermain agar anak-anak dapat merasa terhibur setelah mengalami situasi pascagempa.
Sore harinya, Khairul bersama relawan PSP PMI Sikka melanjutkan kegiatan di Kampung Dobo, Desa Iantena.
Puluhan anak berkumpul. Mereka bermain, belajar, dan menerima pesan-pesan sederhana tentang kesehatan.
Bagi Khairul, pendekatan seperti itu penting karena promosi kesehatan tidak selalu harus dilakukan melalui penyuluhan yang kaku.
Anak-anak dapat menerima pesan kesehatan melalui permainan dan interaksi langsung.
Khairul mengatakan, meski masa tanggap darurat telah berakhir dan wilayah terdampak memasuki fase transisi menuju pemulihan, kebutuhan masyarakat Palue masih cukup besar.
Ia melihat kondisi warga yang harus bertahan dengan berbagai keterbatasan sebagai sesuatu yang luar biasa.
“Hancur semua. Kebanyakan hancur. Dan kasihan, dengan keterbatasan itu mereka bisa bertahan. Itu sudah luar biasa menurut saya,” ungkapnya.
Karena itu, ia berharap perhatian terhadap Palue tidak berhenti seiring berakhirnya masa tanggap darurat.
“Di sana sangat butuh. Memang sangat butuh dengan keadaan warga seperti itu, dan dengan keterbatasan yang sedemikian rupa,” katanya.
Khairul berharap tetap ada dukungan dari PMI maupun pemerintah untuk masyarakat Pulau Palue, terutama dalam memenuhi kebutuhan dasar dan mempercepat pemulihan.
“Mungkin ada sentuhan PMI atau sentuhan dari pemerintah untuk memang perhatian khusus ke Pulau Palue,” ujarnya.
Penugasan Khairul dan dua relawan Promkes PMI Pusat berakhir pada Selasa (29/9/2026). Mereka dijadwalkan kembali ke daerah masing-masing melalui penerbangan siang.
Meski masa tugas berakhir, Khairul menilai keberadaan relawan lokal tetap menjadi bagian penting dalam memastikan pelayanan dan edukasi kesehatan terus berjalan bagi warga terdampak gempa.
