Headline

Sikka Dapat Kucuran Rp 73 Miliar untuk Revitalisasi 101 Sekolah, Rp 13 Miliar Khusus Sekolah Terdampak Bencana

waktu baca 5 menit

MAUMERE-Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan mengalokasikan anggaran Rp 73 miliar untuk program revitalisasi sarana dan prasarana 101 sekolah di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), tahun 2026.

Dari total anggaran yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tersebut, Rp 13 miliar secara khusus dialokasikan untuk 11 sekolah yang terdampak bencana. Sementara Rp 60 miliar lainnya diperuntukkan bagi 90 sekolah yang masuk dalam program revitalisasi reguler.

Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (PKO) Kabupaten Sikka, Patrisius Pederiko, mengatakan kedua program tersebut memiliki sasaran yang berbeda.

“Total alokasi anggaran yang dikucurkan untuk program ini mencapai Rp 73 miliar. Rinciannya, sebesar Rp 60 miliar dialokasikan untuk 90 sekolah reguler, dan Rp 13 miliar untuk 11 sekolah terdampak bencana. Dana tersebut bersumber langsung dari APBN melalui Kementerian Pendidikan,” kata Patrisius kepada media, Rabu (23/9/2026).

Program revitalisasi reguler menyasar 90 sekolah dari jenjang PAUD/TK, SD hingga SMP. Sedangkan anggaran pascabencana diperuntukkan bagi 11 bangunan SMP yang mengalami kerusakan akibat bencana alam.

Patrisius menjelaskan, pelaksanaan revitalisasi dilakukan secara bertahap. Pada tahap pertama, pekerjaan difokuskan pada 16 sekolah reguler yang terdiri dari delapan TK/PAUD, dua SD, dan enam SMP.

“Pengerjaan tahap pertama telah berlangsung sejak Juli lalu dan saat ini sudah memasuki tahap finishing,” ujarnya.

Sementara itu, pengerjaan pada 46 SD lainnya sempat mengalami keterlambatan akibat gempa bumi yang melanda wilayah Sikka. Namun, rekomendasi pelaksanaan kegiatan telah diterbitkan pada pekan ini.

Dengan keluarnya rekomendasi tersebut, sejumlah sekolah mulai melakukan pembongkaran bangunan yang akan direvitalisasi.

Berbeda dengan program reguler, 11 SMP yang masuk dalam program pascabencana masih berada pada tahapan penyelesaian administrasi dan proses pencairan anggaran melalui Bank BNI.

“Untuk 11 SMP yang masuk dalam program pascabencana, prosesnya saat ini sedang berada dalam tahapan penyelesaian administrasi dan pencairan anggaran melalui Bank BNI. Beberapa sekolah juga telah mengajukan rekomendasi pembongkaran gedung,” kata Patrisius.

Dinas PKO Kabupaten Sikka memberikan perhatian khusus terhadap 11 sekolah yang mengalami kerusakan akibat bencana. Pemerintah daerah menargetkan seluruh pekerjaan tersebut dapat diselesaikan sebelum akhir tahun.

“Untuk 11 sekolah penanganan bencana ini, kami sudah tekankan bahwa seluruh prosesnya harus rampung pada Desember 2026. Pengerjaan tidak boleh lewat ke tahun 2027,” tegas Patrisius.

Dapodik Jadi Dasar Penentuan Sekolah

Patrisius juga mengingatkan kepala sekolah agar memastikan data pokok pendidikan (Dapodik) selalu diperbarui dan sesuai dengan kondisi sebenarnya.

Menurut dia, data mengenai tingkat kerusakan bangunan serta keterbatasan sarana dan prasarana yang tercatat dalam Dapodik menjadi salah satu dasar Kementerian Pendidikan dalam menentukan sekolah penerima program revitalisasi.

“Kementerian menentukan sekolah mana yang layak menerima program revitalisasi berdasarkan data dasar di Dapodik. Oleh karena itu, saya meminta para kepala sekolah untuk memastikan data Dapodik mereka selalu valid dan diperbarui secara berkala,” ujarnya

Di tengah pelaksanaan proyek revitalisasi, Dinas PKO Kabupaten Sikka memastikan kegiatan belajar mengajar (KBM) tetap berlangsung.

Patrisius mengatakan sekolah telah menyiapkan skema pembelajaran sementara karena sejumlah ruang kelas harus dikosongkan selama proses pembangunan.

“Untuk proses KBM yang terdampak revitalisasi ini, hampir semua ruang kelas diperbaiki. Oleh karena itu rata-rata sekolah membutuhkan penyesuaian tempat belajar sementara agar aktivitas pembelajaran tetap berjalan aman,” katanya.

Salah satu sekolah penerima program revitalisasi adalah SDN Contoh Maumere. Kepala sekolahnya, Yustina Ina Deran, menyambut baik program tersebut karena kondisi sejumlah bangunan sekolah sudah membutuhkan perbaikan.

Yustina mengatakan, delapan ruang kelas dan satu perpustakaan yang dibangun sejak sekitar 1990-an mengalami kerusakan pada sejumlah bagian dan dinilai tidak lagi ideal untuk mendukung kegiatan belajar mengajar.

“Puji Tuhan, di tahun 2026 ini kami mendapatkan anggaran revitalisasi. Realisasi proyek sudah mulai berjalan sejak awal September,” ujar Yustina, Rabu (23/9/2026).

Menurut Yustina, bagian bangunan yang membutuhkan perbaikan cukup banyak, mulai dari atap, plafon, lantai hingga cat dinding.

“Fasilitas yang paling mendesak untuk diperbaiki hampir semua, mulai dari atap, plafon, lantai hingga cat dinding yang sudah pudar,” tambahnya.

Selain perbaikan bangunan, program tersebut juga mencakup penataan lingkungan sekolah melalui pemasangan paving block pada halaman yang digunakan untuk upacara bendera.

SDN Contoh saat ini memiliki 15 rombongan belajar (rombel). Sebanyak delapan rombel sedang menjalani proses rehabilitasi, sedangkan tujuh rombel lainnya masih dapat digunakan.

Untuk menjaga agar pembelajaran tetap berlangsung, pihak sekolah menerapkan sistem belajar bergilir atau shift. Pola tersebut merupakan kelanjutan dari sistem pembelajaran darurat yang sebelumnya diterapkan setelah gempa bumi.

“Kami melanjutkan pembelajaran menggunakan sistem shift dan semuanya berjalan dengan baik. Shift pagi diisi oleh kelas 1, 2, dan 3. Sementara untuk shift siang digunakan oleh kelas 4, 5, dan 6,” jelas Yustina.

Ia berharap revitalisasi tersebut dapat membuat lingkungan sekolah menjadi lebih aman dan nyaman bagi siswa maupun tenaga pendidik.

“Sekolah kami berada di tengah kota dan sering menjadi sampel kunjungan berbagai pihak. Kami membutuhkan gedung yang layak untuk menampung 355 peserta didik serta 30 orang personel,” katanya.

Jumlah Sekolah di Sikka

Patrisius menyebutkan, Kabupaten Sikka saat ini memiliki 223 satuan pendidikan PAUD yang seluruhnya berstatus swasta.

Pada jenjang TK terdapat 93 sekolah, dengan rincian 10 sekolah negeri dan 83 sekolah swasta.

Untuk jenjang SD terdapat 338 sekolah, terdiri dari 214 sekolah negeri dan 124 sekolah swasta. Sedangkan pada jenjang SMP terdapat 91 sekolah, dengan 51 sekolah negeri dan 40 sekolah swasta.

Jumlah guru di Kabupaten Sikka tercatat sebanyak 5.040 orang.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 2.816 merupakan guru ASN dan 304 guru non-ASN yang bertugas di sekolah negeri. Sementara di sekolah swasta terdapat 288 guru ASN dan 1.632 guru non-ASN.

Keterangan foto: Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (PKO) Kabupaten Sikka, Patrisius Pederiko

Sekolah Dasar Katolik (SDK) Nitung di Kecamatan Palue, Kabupaten Sikka yang mengalami kerusakan berat akibat gempa, Sabtu (15/8/2026). Foto: Istimewa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Exit mobile version