Dapat Bantuan Air Bersih dan Family Kit dari PMI Sikka, Warga Pulau Dambila: Terima Kasih PMI

MAUMERE-Senyum warga Pulau Dambila, Desa Parumaan, Kecamatan Alok Timur, Kabupaten Sikka, tampak ketika kapal motor yang membawa relawan Palang Merah Indonesia (PMI) Cabang Sikka tiba di pesisir kampung mereka, Kamis (10/9/2026) pagi.
Kedatangan sembilan relawan PMI Sikka kali ini membawa sesuatu yang sangat dibutuhkan warga: air bersih. Sebanyak 2.500 liter air bersih dibawa dari Pelabuhan Nangahale menuju Pulau Dambila untuk memenuhi kebutuhan warga yang selama bertahun-tahun kesulitan mendapatkan air tawar untuk memasak dan minum.
Selain air bersih, PMI Sikka juga menyerahkan 14 paket bantuan bagi kelompok rentan, yakni satu ibu hamil dan 13 ibu menyusui di Pulau Dambila.
Bantuan tersebut disambut warga yang sejak pagi telah berkumpul di sekitar tambatan perahu. Anak-anak PAUD dan sejumlah siswa SDN Pangabatang juga ikut menyambut kedatangan para relawan.
Setelah kapal tiba, warga bersama relawan PMI memindahkan air bersih menggunakan selang menuju bak penampungan yang telah disiapkan di pesisir.

Di sela kegiatan tersebut, relawan PMI juga memberikan edukasi kepada warga dan anak-anak.
Dua relawan, Sandri Parera dan Iin Koten, memberikan sosialisasi singkat mengenai layanan Restoring Family Link (RFL) PMI. Anak-anak kemudian diajak bernyanyi bersama sebelum mendapat edukasi mengenai cara mencuci tangan yang baik dan benar.
Edukasi tersebut disampaikan Koordinator WASH dalam program Tanggap Darurat Bencana (TDB) Gempa Bumi PMI Cabang Sikka, Helmi Boli.
PMI Sikka juga menyerahkan tiga lembar terpal untuk digunakan siswa dan guru SDN Pangabatang. Sekolah tersebut mengalami keretakan akibat gempa bumi yang mengguncang wilayah Sikka pada 15 Agustus 2026.
Helmi Boli mengatakan, PMI Sikka sebelumnya merencanakan membawa 5.000 liter air bersih ke Pulau Dambila. Namun, rencana tersebut harus disesuaikan dengan kapasitas kapal yang digunakan.
“Hari ini PMI Kabupaten Sikka melakukan distribusi bantuan air bersih ke Pulau Dambila, Desa Parumaan, di mana rencana awal menyalurkan sebanyak 5.000 liter air bersih tetapi dalam pelaksanaan kapal yang kami sewa itu kapasitas muatan bisa 2.500 liter air. Jadi kami bisa bawa 2.500 liter ke Pulau Dambila,” kata Helmi.
Air bersih tersebut diperuntukkan bagi 74 kepala keluarga di Pulau Dambila.
Selain air bersih, PMI memberikan perhatian khusus kepada kelompok rentan.

“Sesuai data yang kami dapat dari Pemdes Parumaan, ibu hamil ada 1 orang sementara ibu menyusui ada 13 orang. Jadi, kita memberikan paket untuk ibu hamil dan ibu menyusui sejumlah 14 paket,” ungkapnya.
Paket family kit tersebut berisi sejumlah kebutuhan dasar, di antaranya sabun mandi, pasta gigi, sikat gigi, susu bayi, bubur Sun, sarung dan kelambu.
Koordinator Tanggap Darurat Bencana (TDB) Gempa Bumi PMI Sikka, Octavianus Aryo Adithyo, mengatakan penyaluran bantuan ke Pulau Dambila merupakan bagian dari upaya PMI membantu memenuhi kebutuhan dasar warga yang terdampak bencana maupun masyarakat di wilayah yang memang memiliki keterbatasan akses.
Distribusi air bersih dan family kit dilakukan dengan mempertimbangkan kebutuhan warga, terutama kelompok rentan yang membutuhkan perhatian lebih selama masa tanggap darurat.
Octavianus mengatakan PMI terus berupaya menjangkau wilayah-wilayah yang memiliki keterbatasan akses, termasuk kawasan kepulauan, sehingga bantuan tidak hanya terpusat di wilayah yang mudah dijangkau,” ungkapnya.
Ia juga mengatakan, penyaluran bantuan ke Pulau Dambila juga menjadi bagian dari upaya PMI untuk memastikan warga tetap mendapatkan dukungan selama masa tanggap darurat gempa bumi di Kabupaten Sikka.
Keterbatasan Air Minum Bersih Telah Dialami Bertahun-Tahun
Bagi warga Pulau Dambila, bantuan air bersih dari PMI bukan sekadar bantuan pascabencana. Persoalan air telah menjadi bagian dari keseharian mereka jauh sebelum gempa bumi 15 Agustus 2026.
Warga tidak memiliki sumber air tawar yang cukup untuk kebutuhan konsumsi. Air sumur yang tersedia di pulau tersebut cenderung payau sehingga lebih banyak digunakan untuk mandi dan mencuci.
Untuk mendapatkan air minum dan memasak, warga harus menyeberang laut menuju wilayah Dusun Nebura, Desa Kojagete.
Air dari Mata Air Ledaune 1 diangkut menggunakan jeriken dan dibawa kembali ke Pulau Dambila menggunakan kapal.
Warga bahkan harus mengeluarkan biaya untuk mendapatkan air tersebut.
Sumulia, warga Pulau Dambila, mengatakan kebutuhan air bersih sudah lama menjadi persoalan utama masyarakat.
“Terima kasih PMI,” kata Sumulia.

Ia mengatakan warga Dambila tidak memiliki sumber air tawar yang bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan makan dan minum sehari-hari.
“Kami sudah lama mengalami kekurangan air bersih, di Dambila tidak ada sumber air bersih, air sumur yang ada hanya bisa dipakai untuk mandi dan cuci karena air payau, sementara untuk air bersih untuk makan minum mesti ambil di Desa Kojagete,” ungkap Sumulia.
Siti Susanti, warga Desa Parumaan, mengatakan warga biasanya membawa 10 hingga 20 jeriken dalam sekali perjalanan mengambil air.
Air dalam jeriken berukuran sekitar 20 liter tersebut dibeli dengan harga Rp2.000 per jeriken.
“Per jeriken itu hitungan sekarang sudah Rp2.000,” katanya.
“20 liter,” ujarnya.
Dengan jumlah tersebut, warga dapat menghabiskan sekitar Rp20 ribu hingga Rp30 ribu untuk sekali perjalanan mengambil air.
“Iya, bisa sampai 30 ribu,” ujar Siti.
Air yang dibawa dari Nebura terutama digunakan untuk memasak dan kebutuhan minum keluarga.
Pemdes Berharap Akses Air Bersih Dibangun
Kepala Seksi Pelayanan Pemdes Parumaan, Karim, mengatakan persoalan air bersih di wilayah kepulauan Desa Parumaan bukan persoalan baru yang muncul setelah gempa.
Pulau Dambila dan Pangabatang merupakan wilayah yang sejak lama membutuhkan akses air bersih yang lebih memadai.
“Untuk memperoleh air bersih, kita mesti mengambil air bersih menggunakan perahu ke desa tetangga di Kojagete,” ujar Karim.

Menurut dia, kebutuhan air bersih tersebut dirasakan oleh warga di sejumlah wilayah Desa Parumaan.
“Rata-rata semua kepala keluarga membutuhkan air bersih di mana di Dusun C ini ada 200 KK lebih yang mana mencakup Pulau Dambila dan Pulau Pangabatang,” tuturnya.
Gempa bumi 15 Agustus 2026, kata Karim, juga menambah beban warga karena sebagian masyarakat masih mengalami trauma akibat gempa besar tahun 1992.
“Kalau terkait dengan bencana gempa bumi pada 15 Agustus lalu, warga khususnya di Desa Parumaan ini sangat ketakutan karena pertama mereka trauma dengan gempa tahun 1992, kemudian pada saat hari kejadian itu khususnya Desa Parumaan mereka banyak yang mengungsi,” ungkap Karim.
“Mereka mengungsi itu mereka cari daratan yang lebih tinggi karena awalnya itu kita dapat berita bahwa ada potensi tsunami makanya banyak warga yang mengungsi dengan tenda darurat seadanya,” lanjutnya.
Karim berharap persoalan air bersih di wilayah kepulauan tersebut mendapat perhatian lebih serius dan tidak hanya mengandalkan bantuan ketika terjadi bencana.
“Selaku Pemdes Parumaan, kami berharap baik pemerintah maupun yayasan atau pihak lainnya untuk bisa membantu kami di Pulau Dambila dan Pangabatang untuk bisa mendapatkan akses air bersih yang memadai,”
