Headline

Marinus Manis: Sambutan Hangat untuk Jokowi di NTT Adalah Bentuk Penghormatan Rakyat

waktu baca 3 menit
Anggota DPRD Nusa Tenggara Timur (NTT) dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Marinus Manis,

KUPANG-Anggota DPRD Nusa Tenggara Timur (NTT) dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Marinus Manis, menilai sambutan hangat masyarakat terhadap kunjungan Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) ke NTT merupakan bentuk penghormatan rakyat kepada seorang pemimpin yang dinilai pernah hadir dan dekat dengan masyarakat.

Menurut Marinus, antusiasme masyarakat tidak semestinya langsung ditafsirkan sebagai bagian dari kepentingan politik. Ia meminta para pengamat politik tidak terburu-buru menarik kesimpulan hanya dari sudut pandang politik praktis.

“Saya sebagai kader PSI dan juga Anggota DPRD NTT ingin menyampaikan kepada para pengamat politik yang hari ini begitu sibuk menafsirkan kedatangan Bapak Joko Widodo ke NTT,” ujar Marinus kepada media ini, Kamis (30/7/2026).

Ia mengatakan, selama memimpin Indonesia, Jokowi dikenal sebagai sosok pemimpin yang merakyat dan membangun kedekatan dengan masyarakat melalui berbagai kunjungan langsung ke daerah.

“Bapak Joko Widodo adalah contoh pemimpin yang merakyat. Sosok yang mampu hadir di tengah masyarakat, mendengarkan langsung suara rakyat, dan membangun kedekatan tanpa sekat,” katanya.

Marinus menilai, kesan tersebut masih melekat di hati masyarakat NTT. Menurutnya, seorang pemimpin akan dikenang bukan hanya karena jabatan yang pernah diemban, tetapi juga karena kedekatan yang dibangun dengan rakyat.

“Pemimpin yang merakyat adalah pemimpin yang tidak hanya berada di atas panggung, tetapi mau turun langsung ke tengah masyarakat. Dan bagi banyak orang, sosok Pak Jokowi telah memberikan gambaran tentang bagaimana seorang pemimpin bisa dekat dengan rakyatnya,” ujarnya.

Ia menambahkan, kedekatan itu menjadi alasan mengapa nama Jokowi masih memiliki tempat tersendiri di hati sebagian masyarakat NTT.

“Itulah mengapa nama Jokowi tetap memiliki tempat tersendiri di hati sebagian masyarakat NTT. Karena pada akhirnya, seorang pemimpin akan dikenang bukan hanya dari jabatan yang pernah diemban, tetapi dari jejak pengabdian dan kedekatan yang dirasakan langsung oleh rakyat NTT,” katanya.

Marinus juga mengingatkan agar masyarakat NTT tidak dipandang hanya sebagai objek politik atau sekadar angka dalam kontestasi pemilu.

“Saya percaya bahwa politik yang sehat adalah politik yang menghargai rakyat. Politik yang tidak meremehkan ingatan rakyat. Dan politik yang tidak memaksa rakyat melupakan siapa yang pernah hadir bersama mereka,” ucapnya.

Ia melanjutkan bahwa masyarakat memiliki pengalaman dan penilaian sendiri terhadap para pemimpin yang pernah datang mendengar aspirasi mereka.

“Jangan melihat rakyat NTT hanya sebagai angka statistik, sebagai suara dalam pemilu, atau sekadar sebagai bagian dari mesin politik. Rakyat NTT punya hati. Rakyat NTT punya ingatan. Rakyat NTT punya pengalaman,” tegasnya.

Karena itu, menurut Marinus, sambutan meriah masyarakat kepada Jokowi patut dimaknai sebagai bentuk penghormatan, bukan semata-mata sebagai manuver politik.

“Bisa jadi, itu adalah bentuk penghormatan rakyat kepada seorang pemimpin yang pernah mereka kenal dan rasakan kehadirannya,” ujarnya.
Marinus pun mengingatkan para pengamat politik agar tidak membaca sikap masyarakat hanya dari balik meja analisis.
“Saya justru ingin mengingatkan para pengamat politik, jangan sampai terlalu jauh membaca rakyat dari balik meja. Jangan karena Pak Jokowi sudah tidak lagi menjadi Presiden, lalu kita menganggap hubungan beliau dengan rakyat otomatis berakhir. Tidak! Jabatan itu ada batas waktunya. Kekuasaan itu bisa berganti. Tetapi hubungan emosional seorang pemimpin dengan rakyat tidak selalu berhenti ketika masa jabatannya selesai,” ungkapnya.

Ia menegaskan, Jokowi telah menjadi bagian dari perjalanan bangsa dan meninggalkan jejak yang masih diingat oleh sebagian masyarakat NTT. Karena itu, ia mengajak semua pihak menghormati pilihan dan sikap masyarakat dalam menyambut kedatangan mantan presiden tersebut.

“Maka mari kita berhenti meremehkan kecerdasan rakyat. Kalau rakyat menyambut Pak Jokowi, hormati! Kalau rakyat masih mengenang Pak Jokowi, hormati! Kalau rakyat masih memiliki kedekatan emosional dengan Pak Jokowi, hormati! Itulah demokrasi,” tegas Marinus.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Exit mobile version