Sentra Industri “Tenun Ikat Jata Kapa” di Maumere Bantuan Kementerian Perindustrian Senilai Rp 2 Miliar Kini Mangkrak dan Tidak Beroperasi

MAUMERE-Sentra Industri Kecil dan Menengah (IKM) Jata Kapa di Jalan Litbang, Kelurahan Kota Uneng, Kabupaten Sikka, yang dibangun dengan fasilitas peralatan produksi senilai sekitar Rp 2 miliar, kini mangkrak dan tidak lagi beroperasi.
Sentra IKM Jata Kapa yang berada di belakang Gedung Sikka Innovation Center (SIK) merupakan bantuan dari Kementerian Perindustrian. Fasilitas tersebut diresmikan oleh Bupati Sikka saat itu, Yoseph Ansar Rera, pada 13 Februari 2018 dengan tujuan memberdayakan para perajin tenun ikat di Kabupaten Sikka. Namun, delapan tahun setelah diresmikan, fasilitas beserta peralatan bernilai miliaran rupiah itu belum kembali dimanfaatkan secara optimal.
Kepala Dinas Perdagangan, Perindustrian, Koperasi, dan UKM Kabupaten Sikka, Valerianus Samadaor, mengatakan kondisi sentra itu sudah tidak beroperasi ketika dirinya mulai menjabat sebagai kepala dinas.
“Kami sudah berdiskusi untuk mencari pihak ketiga untuk mengelola. Namun, kami masih kesulitan karena beberapa pihak menilai kerja sama dengan pemerintah itu ribet. Selain itu, tidak banyak juga orang yang bergerak di bidang usaha ini,” kata Valerianus kepada media, Senin (13/7/2026).
Menurutnya, pengelolaan oleh pihak ketiga dibutuhkan agar Sentra Jata Kapa tidak hanya menjadi bangunan kosong, tetapi kembali berfungsi sebagai pusat edukasi, produksi, pelatihan, dan pemasaran tenun ikat.
Ia mengakui pemerintah sebenarnya ingin mengaktifkan kembali sentra tersebut. Namun, keterbatasan anggaran membuat pemerintah belum mampu membiayai operasional maupun membayar tenaga kerja yang dibutuhkan.
Kepala Seksi Bidang Industri Dinas Perdagangan, Perindustrian, Koperasi, dan UKM Kabupaten Sikka, Aurelius Elenprino, menjelaskan Sentra Jata Kapa dilengkapi dengan 10 unit alat tenun tradisional yang telah dimodifikasi serta 30 unit mesin jahit skala industri untuk mengolah kain tenun menjadi berbagai produk jadi.
“Semua mesin dalam kondisi baik dan ada beberapa unit yang butuh perbaikan. Sesekali ada satu orang yang kami pekerjakan untuk datang menghidupkan mesin tersebut,” ujarnya.
Nilai keseluruhan peralatan produksi di sentra tersebut diperkirakan mencapai sekitar Rp 2 miliar.
Aurelius mengatakan, sebelum berhenti beroperasi, Sentra Jata Kapa mempekerjakan sekitar 15 orang penenun dan penjahit dari kelompok tenun lokal. Namun, saat pandemi Covid-19 terjadi, anggaran pemerintah dipangkas sehingga para pekerja terpaksa dirumahkan dan aktivitas sentra berhenti sejak 2021.
“Mereka dirumahkan karena kami tidak bisa membiayai mereka lagi,” katanya.
Meski demikian, hubungan kerja sama dengan Kelompok Tenun Ikat Dala Mawarani tetap berjalan. Dinas masih menyediakan bahan baku, sementara para penenun bekerja dari rumah.
“Kami menyiapkan bahan baku dan mereka memproduksi kain tenun yang kemudian kami beli dan suplai ke NTT Mart. Saat ini kami terkendala obat celup (pewarna),” ujar Aurelius.
Ketua Kelompok Tenun Ikat Dala Mawarani, Avelina Yosephina, mengungkapkan kelompoknya mulai bekerja di Sentra Jata Kapa pada 2020. Namun, setahun kemudian mereka harus berhenti bekerja di sentra akibat pandemi.
“Kami dirumahkan tetapi tetap dianjurkan menenun dari rumah. Hasil kain tenun langsung dibeli oleh pihak dinas dengan harga Rp500 ribu per lembar,” katanya.
Saat masih bekerja di sentra, kata Avelina, setiap penenun dan penjahit menerima gaji sekitar Rp1,8 juta per bulan. Berbeda dengan saat bekerja dari rumah, mereka tidak lagi memperoleh gaji tetap dan hanya dibayar berdasarkan hasil tenunan yang dibeli pemerintah.
Avelina berharap pemerintah dapat kembali mengaktifkan Sentra Jata Kapa sehingga para penenun bisa bekerja bersama seperti sebelumnya.
Menurutnya, bekerja di sentra membuat para penenun lebih fokus sehingga mampu menghasilkan sekitar 50 lembar sarung tenun ikat dalam tiga bulan. Sebaliknya, ketika bekerja dari rumah, produktivitas menurun karena harus membagi waktu dengan pekerjaan rumah tangga.
“Kalau di rumah waktunya terbagi untuk memasak, mengurus anak, dan pekerjaan rumah lainnya, sehingga hasil tenun juga jauh berkurang,” ujarnya.
