Rujuk Tengah Malam, Bayi Meninggal di Atas Perahu Saat Persalinan Dibantu Dukun Beranak, DPRD Sikka Desak Evaluasi Layanan Kesehatan di Kojagete

waktu baca 3 menit
Anggota DPRD Kabupaten Sikka, Higinus Claudius Daga.

MAUMERE -Peristiwa tragis menimpa Siti Zahara, warga Gusung Karang, Desa Kojagete, Kecamatan Alok Timur, Kabupaten Sikka. Bayi yang dikandungnya meninggal dunia saat dilahirkan di atas perahu dalam perjalanan menuju rumah sakit pada Selasa dini hari, 16 Juni 2026.

Persalinan darurat itu terjadi setelah keluarga memutuskan merujuk Siti Zahara ke rumah sakit sekitar pukul 02.00 Wita karena kondisi sakit yang semakin parah.

Dalam perjalanan menuju Nangahale untuk selanjutnya dirujuk ke Rumah Sakit Kewapante, Siti Zahara melahirkan di perairan sekitar Pulau Kondo yang masih berada dalam wilayah Desa Kojagete.

Bayi tersebut dilahirkan di atas perahu dengan bantuan seorang dukun beranak yang ikut dalam rombongan. Namun, bayi yang dilahirkan dalam kondisi tidak bernyawa.

Setelah proses persalinan, Siti Zahara langsung dibawa ke Rumah Sakit Kewapante untuk mendapatkan penanganan medis, sementara jenazah bayinya dibawa kembali ke kampung untuk dimakamkan.

Berdasarkan keterangan keluarga, sebelum kejadian itu Siti Zahara mulai merasakan sakit perut dan tanda-tanda persalinan sekitar pukul 19.00 Wita pada Senin malam.

Keluarga kemudian memanggil seorang bidan yang tinggal di Kampung Nanga, Desa Kojagete, untuk memeriksa kondisi ibu hamil tersebut. Setelah dilakukan pemeriksaan, bidan menyampaikan bahwa belum terjadi pembukaan sehingga persalinan diperkirakan belum akan berlangsung dalam waktu dekat.

Namun seiring berjalannya waktu, rasa sakit yang dialami Siti Zahara semakin meningkat. Bidan tersebut kemudian kembali ke rumahnya. Menjelang pukul 02.00 Wita, kondisi Siti Zahara semakin memburuk dan tidak lagi mampu menahan rasa sakit. Keluarga pun bersepakat untuk segera membawanya ke rumah sakit.

Sebelum berangkat, keluarga kembali memanggil bidan tersebut untuk meminta pendampingan ke rumah sakit.

“Sebelum berangkat, salah satu anggota keluarga pergi panggil lagi ibu bidan. Datanglah ibu bidan itu bersama suaminya. Datang bukannya mau membantu untuk proses mendampingi ke rumah sakit, malah datang dan marah-marah sama yang bersangkutan dengan suami beserta orang tuanya dan akhirnya ibu bidan juga tidak ikut mendampingi mereka,” ungkap salah seorang anggota keluarga.

Keluarga mengaku sempat mempertimbangkan membawa pasien ke Puskesmas Teluk. Namun karena kondisi cuaca yang kurang bersahabat, mereka memutuskan langsung menuju Nangahale untuk mendapatkan akses rujukan ke Rumah Sakit Kewapante.

Peristiwa meninggalnya bayi saat persalinan dalam perjalanan rujukan tersebut mendapat sorotan dari Anggota DPRD Kabupaten Sikka, Higinus Claudius Daga.

Ketua Fraksi Garda Solidaritas DPRD Sikka itu meminta Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka melakukan investigasi menyeluruh terhadap rangkaian pelayanan kesehatan yang diterima pasien sebelum dirujuk ke rumah sakit.

“Ini menyangkut nyawa manusia. Pemerintah harus memastikan seluruh prosedur pelayanan kesehatan ibu dan anak berjalan sesuai standar. Jika memang ada kelalaian atau pelayanan yang tidak maksimal, maka harus dievaluasi secara terbuka dan objektif,” tegas Higinus.

Menurutnya, kasus tersebut tidak boleh dipandang sebagai kejadian biasa karena menyangkut pelayanan kesehatan dasar bagi masyarakat di wilayah kepulauan.

Ia juga menyoroti keberadaan tenaga kesehatan yang bertugas di wilayah tersebut. Berdasarkan Surat Keputusan penugasan dari Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka, bidan yang disebut keluarga dalam peristiwa tersebut ditempatkan di Poskesdes Gusung Karang. Namun yang bersangkutan diketahui tinggal di Poskesdes Nanga yang berjarak sekitar dua kilometer dari lokasi tempat tinggal pasien.

“Pimpinan harus melakukan evaluasi. Tenaga kesehatan harus tinggal sesuai lokasi penempatan yang telah ditetapkan. Masyarakat membutuhkan pelayanan cepat, terutama dalam situasi darurat seperti ibu yang akan melahirkan,” katanya.

Higinus menegaskan bahwa pemerintah daerah harus menjadikan kasus ini sebagai bahan evaluasi serius untuk memperkuat pelayanan kesehatan ibu dan anak di wilayah kepulauan Kabupaten Sikka.

“Kita tidak boleh menunggu sampai muncul korban berikutnya. Kasus ini harus menjadi bahan evaluasi serius untuk memperkuat pelayanan kesehatan ibu dan anak, terutama di wilayah kepulauan yang aksesnya masih sangat terbatas,” ujarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *