Headline

Rencana Bangun Galangan Kapal, Investor Ingin Wairterang Jadi Penopang Wisata Bahari di Kawasan Timur Indonesia

waktu baca 4 menit
Keterangan foto:Sejumlah warga tengah berpose dengan latar vila PT ATS di Desa Wairterang, Kecamatan Waigete, Kabupaten Sikka.

MAUMERE-Investor PT Atlas Samudera Perkasa (PT ASP), Steven Wang, mengaku ingin menjadikan Desa Wairterang, Kecamatan Waigete, Kabupaten Sikka, sebagai salah satu penopang pengembangan wisata bahari di kawasan timur Indonesia melalui pembangunan galangan kapal dan fasilitas pendukung lainnya.

Menurut Steven Wang, investasi yang dilakukan PT ASP di Wairterang tidak semata-mata bertujuan mengembangkan usaha, tetapi juga mendukung kemajuan sektor pariwisata, membuka lapangan kerja bagi masyarakat, dan memperkuat infrastruktur penunjang pelayaran wisata yang melintasi wilayah Flores hingga Raja Ampat.

Dalam wawancara dengan media ini, Rabu (17/6/2026), Steven Wang menjelaskan bahwa ketertarikannya berinvestasi di Wairterang berawal dari besarnya potensi wisata yang dimiliki Kabupaten Sikka.

Ia menilai posisi Maumere sangat strategis karena berada di jalur pelayaran wisata yang menghubungkan berbagai destinasi unggulan di kawasan timur Indonesia.

“Kami melihat potensi wisata bahari di daerah ini sangat besar. Karena itu, kami ingin ikut berkontribusi melalui investasi yang bisa memberikan manfaat bagi masyarakat dan mendukung perkembangan pariwisata,” ujarnya.

Steven Wang menjelaskan bahwa rencana investasi di Wairterang awalnya dimulai dengan pembangunan vila wisata. Langkah tersebut dilakukan sebagai bentuk keseriusan perusahaan untuk berinvestasi di Kabupaten Sikka.

“Untuk menunjukkan keseriusan bahwa saya akan membangun, saya menemui Bupati Sikka saat itu Robi Idong bersama Ibu Plt Sekda Sikka. Saya ajukan izin untuk mulai membangun. Bupati Robi sampaikan untuk di wilayah darat silakan melakukan pembangunan. Kita kemudian membangun vila untuk menunjukkan bahwa kita serius untuk berinvestasi,” katanya.

Setelah pembangunan vila berjalan, PT ASP kemudian merancang pembangunan galangan kapal yang diproyeksikan menjadi fasilitas pendukung bagi kapal-kapal wisata yang berlayar di kawasan Flores, Alor hingga Raja Ampat.

Menurut Steven Wang, ide pembangunan galangan kapal muncul karena melihat kebutuhan fasilitas perawatan dan perbaikan kapal wisata yang masih sangat terbatas di wilayah tersebut.

Ia menjelaskan, kapal-kapal wisata dan kapal pesiar yang melintasi jalur wisata bahari Indonesia bagian timur membutuhkan tempat perbaikan ketika mengalami kerusakan di tengah perjalanan. Kehadiran galangan kapal di Maumere diharapkan dapat menjawab kebutuhan tersebut.

“Kapal-kapal wisata yang berlayar tentu membutuhkan fasilitas perbaikan dan perawatan. Kalau ada kerusakan di tengah perjalanan, mereka membutuhkan tempat yang representatif untuk memperbaiki kapal sebelum melanjutkan pelayaran,” ujarnya.

Steven Wang mengatakan bahwa pembangunan galangan kapal juga dirancang untuk mendukung pelaksanaan event wisata Sail Indonesia nanti yang melintasi rute Labuan Bajo, Flores, Alor hingga Papua.

Menurutnya, event internasional tersebut membutuhkan fasilitas pendukung yang memadai agar kapal-kapal peserta dapat berlayar dengan aman dan nyaman.

Ia menilai Kabupaten Sikka memiliki peluang besar untuk menjadi salah satu pusat layanan maritim bagi kapal wisata yang beroperasi di kawasan timur Indonesia.

Selain mendukung sektor pariwisata, investasi yang dilakukan PT ASP juga diharapkan dapat membuka lapangan kerja baru dan menggerakkan perekonomian masyarakat sekitar.

Steven Wang mengaku prihatin karena masih terbatasnya kesempatan kerja bagi masyarakat di daerah tersebut. Karena itu, ia berharap investasi yang dilakukan dapat memberikan dampak ekonomi yang nyata bagi warga setempat.

“Saya ingin melihat Wairterang berkembang dan lebih maju. Jika tidak ada investor yang tertarik dan diajak berinvestasi di daerah ini, lalu siapa yang akan datang? Saya bahkan mengajak teman-teman saya di luar negeri untuk melihat potensi daerah ini,” katanya.

Menurutnya, investasi yang masuk ke daerah tidak hanya memberikan manfaat bagi perusahaan, tetapi juga dapat menciptakan peluang usaha baru bagi masyarakat, mulai dari sektor jasa, perdagangan, hingga usaha mikro dan kecil yang tumbuh di sekitar kawasan investasi.

Steven Wang menegaskan bahwa seluruh proses investasi yang dilakukan PT ASP selalu mengikuti ketentuan dan regulasi yang berlaku. Ia menjelaskan bahwa pengurusan berbagai dokumen perizinan telah dimulai sejak sekitar tahun 2021 dan dilakukan secara bertahap sesuai arahan instansi terkait.

Salah satu proses yang memakan waktu cukup panjang adalah pengurusan Persetujuan Teknis (Pertek) PB-PWSA yang menjadi syarat pembangunan breakwater atau pemecah gelombang di lokasi investasi.

Saat ini, sejumlah perizinan lain yang berkaitan dengan rencana pembangunan galangan kapal masih dalam proses pengajuan. PT ASP juga telah melakukan sosialisasi kepada pemerintah desa dan masyarakat setempat mengenai rencana investasi tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Exit mobile version