Ombudsman NTT Minta Pemprov NTT Lakukan Kajian Terkait Harga Jual Rumput Laut Rendah

waktu baca 2 menit
Keterangan foto:Petani sedang menjemur rumput laut.
Sumber foto:Istimewa.

LEMBATA-Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat dinilai masa bodoh dengan masalah rumput laut yang dialami para pengepul dan petani di Kabupaten Lembata.

“Dia (gubernur.red) masa bodoh, padahal masalah ini sudah berbulan-bulan,” kata Nuswan, salah satu pengepul rumput laut di kecamatan Ile Ape, Kabupaten Lembata, Kamis (24/11).

Nuswan sangat kecewa dengan aturan yang dibuat Gubernur Viktor Bungtilu Laiskodat, karena telah dan sedang membuat susah masyarakat di daerah.

“Menyesal sekali dengan pa Gubernur ini,” ujarnya.

Dia juga menyoroti pernyataan Gubernur Viktor Bungtilu Laiskodat pada Senin (21/11/2022) di Kupang, yang menyatakan bahwa tidak akan mencabut Pergub Nomor 39 Tahun 2022 tentang Tata Niaga Perikanan.

Bagi dia, pernyataan tersebut menunjukan arogansi Gubernur Viktor Bungtilu Laiskodat terhadap masalah yang dihadapi masyarakat di daerah.

“Dia (gubernur.red) jangan arogan begitu, keras tapi ingat dengan kami masyarakat kecil sedikit,” tandasnya.

Sementara itu Kepala Ombudsman NTT, Darius Beda Daton mempertanyakan alasan apa sehingga harga beli rumput laut di NTT lebih murah dibandingkan petani menjual ke Makassar.

Darius juga meminta Pemprov NTT melakukan diskusi dan kajian mendalam terkait harga supaya kedepannya tidak terjadi penolakan oleh pengusaha kecil dan petani di daerah.

“Pergub ini bermaksud mendatangkan para pengusaha rumput laut agar pabriknya di NTT. Hanya saja perlu di diskusikan lagi mengapa harga belinya lebih murah dibandingkan jika petani menjual ke pengusaha lain di Makassar,” kata Beda Daton, ketika dihubungi media, Kamis (24/11).

Dia berharap ada solusi dari Gubernur NTT supaya masalah ini bisa segera teratasi, karena jangan sampai di biarkan berlarut-larut tanpa penyelesaian.

“Semoga ada solusi. Pak Gubernur minta rumput laut hanya dijual di NTT ke perusahaan yang akan beroperasi di NTT dengan harga Rp 20 ribu per kilogram, sementara petani merasa lebih untung jual langsung ke Makassar,” tandasnya.

Sebelumnya, Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Viktor Bungtilu Laiskodat pada tanggal 14 Januari 2022 mengeluarkan Peraturan Gubernur (Pergub) Nomor 39 Tahun 2022 tentang Tata Niaga Komoditas Hasil Perikanan di Provinsi NTT.

Dalam Pergub itu, Gubernur Viktor Bungtilu Laiskodat melarang mengekspor rumput laut ke luar NTT. Dan sesuai petunjuk Pergub, semua rumput laut kering hanya bisa dijual ke tiga perusahaan di NTT yakni PT. Algae Sumba Timur Lestari, PT. Rote Karaginan Nusantara dan CV. Agar Kembang.(ted)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *