Penyerapan Dunia Kerja Jadi Tanggung Jawab Penting Sekolah Vokasi Selain Kelulusan Siswa

waktu baca 3 menit
Keterangan foto: Kepala Sekolah SMK Negeri I Maumere Adelbertus Hasulie saat memberikan arahan penutupan ujian sertifikasi pemesinan 54 siswa, Jumat (1/7) siang. Foto: Athy Meaq.

MAUMERE – Tanggung jawab sekolah vokasi tidak semata pada angka kelulusan siswa, tetapi yang terpenting adalah penyerapan angka kelulusan pada industri kerja dan wirausaha.

Oleh karena itu, tuntutan pendidikan vokasi sebanyak 60 persen praktek dan 40 persen teori, serta mampu membangun kerjasama dalam konsep link and match dengan industri kerja.

Penegasan itu disampaikan Kepala Sekolah SMK Negeri I Maumere, Adelbertus Hasulie, dalam acara penutupan Kegiatan Uji Sertifikasi Siswa Teknik Pemesinan SMK Negeri I Maumere Tahun Pelajaran 2021 2022, Jumat (1/7) siang.

“Tanggung jawab sekolah tidak hanya kelulusan siswa, tetapi serapan di dunia kerja setelah tamat. Perlu kerjasama link and match lembaga pendidikan vokasi dengan industri kerja,” kata Adelbertus Hasulie.

Adelbertus Hasulie menjelaskan bahwa bukti kerja sama SMK Negeri I Maumere dengan industri kerja, dimana dalam satu tahun, tamatan jurusan kelistrikan semua terserap di industri kerja.

Selain itu 54 siswa jurusan pemesinan dinyatakan lulus sertifikasi dan semua terserap di industri kerja. Sebanyak 5 orang siswa mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang Perguruan tinggi.

“Ini sebuah langkah maju kemitraan antara SMK Negeri I Maumere dengan industri kerja dalam kerjasama link and match dalam memajukan pendidikan vokasi,” kata Adelbertus Hasulie.

Menurut Adelbertus Hasulie tingginya angka pengangguran disebabkan oleh salah satu faktor yakni Sumber Daya Manusia (SDM). Karena itu Lembaga Pendidikan Vokasi harus mampu menjadi solusi bangsa dalam mengatasi pengangguran.

“Konsep ini mengacu pada link and match, berbasis kolaborasi yang saling menguntungkan antara lembaga pendidikan dan industri kerja,” kata Adelbertus Hasulie.
 
Adelbertus Hasulie menegaskan program pendidikan vokasi dan Industri kerja meliputi keselarasan kurikulum, jumlah guru dari industri, magang, serapan lulusan, program beasiswa, transfer teknologi dan ilmu pengetahuan, sertifikasi kompetensi dan riset terapan.

Oleh karena itu pembelajaran di SMK Negeri I Maumere didominasi praktek dari teori dalam memperkuat sumber daya manusia yang unggul dan terampil.

Direktur Operasinal PT. Langit Laut Biru, sebuah industri kerja pemesinan, Anastasia Dian Satiati, mengatakan sebanyak 54 siswa SMK Negeri I Maumere, yang mengikuti ujian sertifikasi semuanya dinyatakan lulus.

Ia menegaskan bahwa program sertifikasi kompetensi bagi siswa SMK untuk meningkatkan kapasitas dan kapabilitas sumber daya manusia.

Hal itu agar memiliki kemampuan pengetahuan dan keterampilan yang standar dan relevan antara proses pembelajaran di SMK dengan kebutuhan dunia usaha dan industri.

“Bagi kami praktek itu sangat penting, karena tentunya praktek itu dari teori. Kemampuan praktek membuktikan siap kerja di industri kerja,” ujarnya.

Dian, Assessor tim teknik dari Politeknik ATMI Cikarang menegaskan ATMI Cikarang adalah lembaga pendidikan vokasi yang memberlakukan praktek 60 persen dan teori 40 persen.

“Karena itu, kami siap menerima tamatan SMK Negeri I Maumere yang ingin melanjutkan pendidikan ke Perguruan Tinggi, baik D2, D3 dan D4,” kata Dian.

Kontributor: Athy Meaq

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *