Kunjungi SDN Lirikelang Usai Siswa Meninggal Gantung Diri, Plt Kadis PKO Sikka Minta Guru Peka terhadap Kondisi Psikologis Anak

MAUMERE-Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga (PKO) Kabupaten Sikka, Patrisius Pederiko mengunjungi SDN Lirikelang, Desa Wuliwutik, Kecamatan Nita, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), Rabu (21/10/2026) siang, menyusul meninggalnya seorang siswa kelas V berinisial AP (10) dalam peristiwa gantung diri di Dusun Lirikelang, Desa Wuliwutik, Selasa (20/10/2026).
Dalam kunjungan tersebut, Patrisius Pederiko bertemu dengan kepala sekolah dan para guru untuk menggali informasi mengenai keseharian korban di lingkungan sekolah, termasuk kemungkinan adanya perubahan sikap atau perilaku sebelum peristiwa itu terjadi.
Dalam wawancara dengan media, Patris Pederiko mengatakan, kunjungan tersebut merupakan tindak lanjut atas peristiwa yang menyisakan duka bagi keluarga, pihak sekolah, dan dunia pendidikan di Kabupaten Sikka.
“Hari ini kami dengan para pengawas datang melakukan kunjungan ke SDN Lirikelang terkait dengan peristiwa kematian salah satu siswa. Tadi Pak Bupati menyampaikan berita duka dan meminta supaya kami menindaklanjuti, kira-kira peristiwa ini terjadi kenapa,” ujarnya saat ditemui di SDI Lirikelang, Rabu siang.
Ia menjelaskan, pihaknya telah meminta keterangan dari kepala sekolah dan para guru, terutama mengenai kondisi psikologis, karakter, serta perkembangan akademik korban selama mengikuti kegiatan belajar mengajar.
Berdasarkan informasi awal yang disampaikan pihak sekolah, korban dikenal sebagai anak yang ceria dan memiliki keberanian. Secara akademik, kemampuannya disebut berada pada tingkat standar.
Namun, dari keterangan guru yang dihimpun dalam pertemuan itu, belum ditemukan perubahan perilaku yang menonjol pada korban dalam kesehariannya di sekolah, termasuk selama sepekan terakhir sebelum peristiwa tersebut.
“Disampaikan oleh wali kelas bahwa anak ini memang riang. Anaknya juga secara mental bagus, secara akademiknya standar, tetapi dia punya satu sikap yang bagus, yakni keberanian,” kata Patris Pederiko.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa informasi dari lingkungan sekolah tersebut masih menjadi bagian dari upaya menggali peristiwa yang terjadi. Penyebab kematian korban tidak dapat disimpulkan hanya berdasarkan pengamatan terhadap kesehariannya di sekolah.
Guru Diminta Kenali Karakter Setiap Siswa

Peristiwa ini, menurut Plt. Kadis PKO Sikka, menjadi pengingat bagi para pendidik agar tidak hanya berfokus pada proses pembelajaran dan pencapaian akademik, tetapi juga memperhatikan perkembangan karakter serta kondisi psikologis setiap siswa.
Ia meminta wali kelas mengenali kemampuan akademik, karakter, dan kondisi mental anak-anak yang menjadi tanggung jawab mereka. Dengan begitu, guru diharapkan dapat mengenali perubahan perilaku dan memberikan pendampingan ketika diperlukan.
“Setiap wali kelas wajib mengetahui setiap anak. Mulai dari kemampuan akademiknya, kemudian karakternya, dan juga mentalnya harus diikuti secara persis per anak,” ujarnya.
Menurut dia, perhatian terhadap perubahan perilaku siswa penting agar guru dapat mengambil langkah pendampingan lebih awal apabila menemukan kondisi yang membutuhkan perhatian khusus.
Ia juga mengakui bahwa ketersediaan guru bimbingan dan konseling (BK) masih menjadi tantangan di sejumlah satuan pendidikan di Kabupaten Sikka.
“Kalau ada perubahan, bapak dan ibu guru punya kewajiban untuk melakukan bimbingan ataupun pendampingan agar kondisi mental anak ini bisa diperkuat,” katanya.
Libatkan 34 Fasilitator untuk Dampingi 1.136 Guru
Sebagai bagian dari upaya memperkuat dukungan psikologis bagi peserta didik, pemerintah juga menyiapkan program Layanan Dukungan Psikososial (LDP) yang dijadwalkan berlangsung pada 26-31 Oktober 2026.
Program tersebut akan melibatkan 34 fasilitator daerah yang berasal dari unsur pengawas dan kepala sekolah untuk memberikan bimbingan teknis kepada 1.136 guru di Kabupaten Sikka.
Setiap sekolah diharapkan mengirimkan setidaknya satu guru untuk mengikuti kegiatan tersebut. Setelah mengikuti bimbingan teknis, para guru diharapkan meneruskan pengetahuan yang diperoleh kepada rekan-rekan pendidik di sekolah masing-masing dan selanjutnya memperkuat pendampingan bagi siswa.
“Ada 34 fasilitator daerah yang akan melakukan bimbingan kepada 1.136 guru yang ada di Kabupaten Sikka. Sehingga setiap sekolah itu minimal satu orang guru harus mengikuti kegiatan ini,” jelasnya.
Ia berharap program tersebut dapat membantu guru mengenali perubahan perilaku anak dan memberikan penguatan psikososial secara lebih baik di lingkungan sekolah.
Kadis PKO juga menyinggung bahwa persoalan keselamatan dan kondisi psikologis warga sekolah perlu mendapat perhatian serius, mengingat sejumlah peristiwa yang melibatkan warga satuan pendidikan pernah terjadi di Kabupaten Sikka.
Menurut dia, penguatan budaya sekolah yang aman dan nyaman serta kepedulian terhadap kondisi siswa perlu menjadi tanggung jawab bersama, baik pemerintah, pihak sekolah, guru, maupun keluarga.
