Tiga Desa di Kecamatan Doreng Terdampak Kekeringan, Camat Ignas: Warga Butuh Bantuan Air Bersih dari Pemkab Sikka

MAUMERE-Kekeringan mulai berdampak pada warga di tiga desa di Kecamatan Doreng, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT). Warga di Desa Wolomotong, Kloang Popot, dan Nenbura membutuhkan bantuan suplai air bersih dari pemerintah melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sikka.
Camat Doreng, Ignasius Depa, mengatakan, debit air di sejumlah wilayah tersebut menurun akibat musim kemarau. Kondisi ini membuat air yang tersedia tidak lagi mencukupi untuk didistribusikan kepada seluruh warga.
“Memang potensi airnya ada, tetapi karena musim kemarau, debitnya menurun sehingga air tidak bisa didistribusikan ke semua warga. Jadi, kita memang butuh sekali bantuan suplai air bersih supaya kebutuhan masyarakat bisa terpenuhi,” kata Ignasius Depa saat diwawancarai di Kantor BPBD Sikka pada Senin (19/10/2026) siang.
Ia menjelaskan, dampak kekeringan di Desa Wolomotong terjadi di empat dusun. Sementara di Desa Kloang Popot, wilayah terdampak di Dusun Kloang Popot dan Dusun Wualadu, khususnya kawasan sekitar kantor desa hingga ke bawah.
Adapun di Desa Nenbura, wilayah yang paling terdampak berada di Dusun Hepang, tepatnya RT 6, RT 7, dan RT 8.
Ignasius menyebutkan, sebanyak 154 kepala keluarga (KK) di Dusun Hepang merupakan kelompok warga yang paling terdampak kekeringan.
Menurut dia, kondisi tersebut membutuhkan penanganan segera, terutama untuk memastikan warga tetap mendapatkan air bersih bagi kebutuhan sehari-hari.
“Kita butuh air bersih, artinya bantuan air menggunakan mobil tangki. Kami terus berkoordinasi supaya bantuan ini bisa segera diberikan,” ujarnya.
Pemerintah Kecamatan Sudah Melapor ke BPBD

Ignas mengatakan, pemerintah desa bersama pemerintah kecamatan telah menyampaikan laporan mengenai kondisi kekeringan tersebut kepada BPBD Kabupaten Sikka.
Laporan dari pemerintah desa, kata dia, telah disampaikan sejak satu hingga dua minggu sebelumnya. Pemerintah kecamatan juga telah berkoordinasi untuk mempertegas kebutuhan bantuan bagi masyarakat terdampak.
“Secara administrasi kita sudah membuat laporan. Hari ini juga saya berkoordinasi untuk mempertegas supaya mungkin bisa dibantu dulu akses air minum bersih,” katanya.
Meski demikian, hingga wawancara berlangsung, pemerintah kecamatan masih terus melakukan koordinasi agar bantuan air bersih dapat segera disalurkan.
Ignas memahami BPBD Kabupaten Sikka juga menangani berbagai kebutuhan kebencanaan di wilayah kabupaten. Namun, ia berharap kondisi warga di tiga desa tersebut mendapat perhatian karena keterbatasan air mulai mengganggu pemenuhan kebutuhan sehari-hari.
“Kita yakin BPBD juga menangani satu kabupaten. Dengan kesibukan itu, mungkin kita perlu koordinasi lebih lanjut,” ujarnya.
Di luar tiga desa tersebut, Ignas mengatakan, pemerintah kecamatan telah berkoordinasi dengan para kepala desa dan penjabat kepala desa untuk memantau kondisi ketersediaan air.
Sejauh ini, sebagian besar desa lainnya masih memiliki akses air dan belum menyampaikan keluhan berarti terkait kebutuhan air bersih.
Ia menyebutkan, sempat ada persoalan distribusi air di Dusun Dat, wilayah Desa Waihawa, di sekitar SMA Restorasi Doreng. Namun, masalah tersebut disebabkan kebocoran sarana dan prasarana air sehingga distribusi tidak berjalan maksimal.
Pemerintah desa setempat telah diminta segera memperbaiki kerusakan tersebut.
Sementara itu, persoalan distribusi air di wilayah Desa Pelibaler dilaporkan telah teratasi. Menurut Ignasius, air sudah kembali mengalir dan warga tidak lagi menyampaikan keluhan.
Dengan kondisi yang berbeda-beda di setiap wilayah, pemerintah kecamatan memprioritaskan perhatian pada Desa Wolomotong, Kloang Popot, dan Nenbura yang saat ini mengalami dampak kekeringan.
