Jenazah Pasien di Desa Mahe Tanah, Sikka Diangkut Pakai Mobil Pick-up, Keluarga Sebut Ambulans Puskesmas Bola Tak Diberikan

waktu baca 3 menit
Keterangan foto:
Jenazah warga Hebar, Desa Mahetanah yang dibawa ke rumah duka menggunakan mobil pick up pada Kamis (15/10/2026) malam.

MAUMERE-Keluarga Tadeus Kruut (70), pasien yang meninggal dunia setelah menjalani perawatan di Puskesmas Bola, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), harus menyewa mobil pick-up untuk mengangkut jenazahnya ke Kampung Hebar, Desa Mahe Tanah, Kecamatan Doreng, Kabupaten Sikka.

Keluarga mengaku tidak mendapatkan layanan ambulans dari Puskesmas Bola, meskipun mereka telah meminta agar jenazah diantar menggunakan kendaraan tersebut. Alasannya, menurut keluarga, ambulans tidak memiliki bahan bakar.

Eustabius Tanah, salah satu anggota keluarga, menuturkan Tadeus mengalami sesak napas dan demam tinggi. Pasien tersebut dibawa untuk mendapatkan pertolongan medis pada Rabu sore, 14 Oktober 2026.

Sebelum tiba di Puskesmas Bola, keluarga sempat membawa Tadeus ke Puskesmas Habibola. Namun, menurut Eustabius, mereka tidak mendapatkan pelayanan karena petugas menyampaikan bahwa pelayanan sudah tutup.

“Kami datang sekitar pukul 15.30 sampai 16.00 Wita. Mereka langsung bilang, ‘Di sini sudah tutup, sudah lewat jam.’ Kami kemudian bingung harus membawa pasien ke mana,” kata Eustabius.

Keluarga akhirnya membawa Tadeus ke Puskesmas Bola dengan mobil pick-up. Mereka berharap pasien bisa mendapatkan perawatan sekaligus memperoleh rujukan apabila kondisinya membutuhkan penanganan lebih lanjut.

Menurut Eustabius, keluarga sempat mendapat informasi bahwa Tadeus akan dirujuk ke rumah sakit di Kewapante pada Rabu malam. Namun, rencana tersebut belum terlaksana karena, berdasarkan penjelasan yang diterima keluarga, rumah sakit tujuan masih penuh.

Tadeus kemudian tetap menjalani perawatan di Puskesmas Bola hingga meninggal dunia pada Kamis, 15 Oktober 2026, sekitar pukul 16.00 Wita.

Persoalan lain muncul ketika keluarga hendak membawa jenazah ke kampung halaman. Eustabius mengatakan, pihak keluarga telah meminta bantuan ambulans kepada petugas puskesmas.

Menurut dia, seorang petugas sempat menyampaikan bahwa ambulans akan mengantar jenazah, dengan catatan keluarga berkoordinasi dengan sopir kendaraan tersebut.

“Kami tunggu karena mereka bilang nanti ambulans yang antar ke kampung. Kami juga sudah bilang, kalau memang harus bayar untuk bahan bakar, kami bersedia,” ujarnya.

Namun, setelah menunggu lebih dari satu jam, keluarga mendapat informasi bahwa ambulans tidak bisa digunakan karena kehabisan bahan bakar.

Eustabius mengaku keluarga kembali menawarkan untuk membayar biaya bahan bakar agar jenazah bisa diantar. Akan tetapi, menurut keterangannya, tawaran tersebut tidak membuat kendaraan diberangkatkan.

“Kalau bahan bakar itu kurang, berapa biayanya, biar kami yang bayar. Yang penting bapak tua ini bisa diantar sampai di kampung,” kata Eustabius menirukan permintaan keluarga.

Karena tidak mendapatkan layanan ambulans, keluarga akhirnya mencari mobil pick-up untuk mengangkut jenazah Tadeus. Mereka harus membayar Rp 400.000 untuk perjalanan dari Puskesmas Bola menuju Kampung Mahe Tanah.

Eustabius menyayangkan kejadian tersebut. Menurut dia, keluarga sedang berduka dan berharap jenazah dapat dibawa pulang dengan kendaraan yang lebih layak.

“Kasihan, bapak sudah meninggal, tetapi kami masih harus mencari mobil lain untuk membawa jenazah. Padahal, kami sudah meminta ambulans dan bersedia membayar bahan bakarnya,” ujarnya.

Keterangan serupa disampaikan Andreas, warga Desa Mahe Tanah yang mengetahui kejadian tersebut dari keluarga korban. Ia mengatakan keluarga mendapat informasi bahwa ambulans puskesmas tidak bisa digunakan karena tidak tersedia bahan bakar.

“Mereka datang kasih tahu mobil puskesmas tidak ada bahan bakarnya. Keluarga mau kasih uang untuk beli solar, tetapi tidak bisa. Mereka tidak mau melayani,” ungkap Andreas.

Andreas juga menyebutkan bahwa berdasarkan informasi yang diterimanya, terdapat dua unit ambulans di puskesmas. Namun, ia tidak mengetahui secara langsung kondisi kendaraan maupun alasan operasional yang membuat ambulans tidak bisa digunakan saat itu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *