Menanti Terang di Kampung Hepang, Sikka, 159 KK Hidup dalam Ketiadaan Akses Listrik

waktu baca 5 menit
Keterangan foto: Maria Ayuningsih Larasati siswa kelas IV SDN Hepang saat belajar bersama temannya menggunakan lampu pelita di Kampung Hepang, Desa Nenbura, Kecamatan Doreng, Kabupaten Sikka, Selasa (13/10/2026) malam. FOTO:Mario Sina.

MAUMERE-Bagi sekitar 600 jiwa yang tinggal di Dusun Hepang, Desa Nenbura, Kecamatan Doreng, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, malam masih identik dengan keterbatasan penerangan.

Ketika matahari terbenam, sebagian besar permukiman kembali gelap. Warga mengandalkan lampu pelita, lilin, atau lampu tenaga surya yang sebagian besar sudah tidak berfungsi.

Di kampung yang berada di dataran tinggi itu, listrik masih menjadi kebutuhan yang belum sepenuhnya terpenuhi. Sekitar 159 kepala keluarga atau hampir 160 KK yang mendiami 102 rumah harus menjalani aktivitas sehari-hari dengan fasilitas penerangan seadanya.

Bagi warga Hepang, ketiadaan listrik bukan sekadar persoalan lampu yang tidak menyala. Kondisi itu turut membatasi aktivitas rumah tangga, menyulitkan anak-anak belajar pada malam hari, dan membuat penggunaan peralatan elektronik menjadi sesuatu yang tidak mudah dilakukan.

Yansenus Yansen, salah seorang warga Dusun Hepang, mengatakan masyarakat telah bertahun-tahun hidup tanpa akses listrik yang memadai. Ketika malam tiba, warga harus menyesuaikan kegiatan dengan ketersediaan penerangan.

“Kalau tidak ada uang beli minyak tanah, kadang kami pakai lilin atau lepas gelap saja sampai pagi tiba. Sekarang sudah 81 tahun Indonesia merdeka, kampung kami belum juga menikmati listriknya,” ungkap Yansenus.

Menurut dia, sebagian warga pernah menerima bantuan lampu tenaga surya dari pemerintah desa. Namun, penerangan tersebut terbatas dan tidak bisa memenuhi seluruh kebutuhan rumah tangga.

“Hanya untuk tiga bola lampu saja. Kalau mau cas HP, warga mesti turun tiga kilometer ke Kampung Doreng. Untuk alat elektronik sama sekali tidak bisa,” ujarnya.

Kondisi tersebut membuat warga harus mencari cara lain untuk memenuhi kebutuhan dasar yang di tempat lain dapat dilakukan dengan mudah. Mengisi daya telepon seluler, misalnya, bisa mengharuskan warga menempuh perjalanan menuju kampung yang sudah memiliki akses listrik.

159 KK Menanti Jaringan Listrik

Keterangan foto: Makan malam di rumah salah satu warga mengunakan cahaya dari lampu pelita di Kampung Hepang, Desa Nenbura, Kecamatan Doreng, Kabupaten Sikka, Selasa (13/10/2026) malam. FOTO:Mario Sina.


Dusun Hepang dihuni masyarakat yang sebagian besar menggantungkan kehidupan pada hasil bumi, seperti kemiri, pala, jambu mete, dan kelapa. Namun, potensi ekonomi tersebut belum diikuti akses listrik yang memadai bagi sebagian besar warga.

Dari tiga dusun di Desa Nenbura, Hepang menjadi satu-satunya dusun yang sebagian besar wilayahnya belum menikmati layanan listrik. Dua dusun lainnya telah mendapatkan akses listrik.

Ambrosius Edison, perwakilan pemerintah Desa Nenbura yang ditemui di lokasi, mengatakan pemerintah desa telah beberapa kali mengusulkan perluasan jaringan listrik ke Hepang.

Menurut dia, usulan tersebut telah disampaikan sekitar empat kali. Pemerintah desa juga pernah berkomunikasi langsung dengan pihak PLN dan menyampaikan kebutuhan warga melalui sejumlah jalur pemerintahan maupun wakil rakyat.
Namun, hingga kini, sebagian besar warga masih harus bertahan dengan penerangan seadanya.

Ambrosius menjelaskan, dari 102 rumah yang ada di Dusun Hepang, baru 12 rumah yang telah teraliri listrik. Sementara itu, bantuan lampu tenaga surya yang pernah diterima warga tidak lagi berfungsi di banyak rumah.

Bantuan penerangan tenaga surya mulai disalurkan sejak 2015 dan kembali diberikan pada tahun-tahun berikutnya. Namun, perangkat tersebut memiliki masa pakai terbatas.

“Lampu solar cell itu kan sudah rusak,” ujarnya.

Ambrosius memperkirakan sekitar 50 rumah pernah menerima bantuan penerangan tenaga surya. Saat ini, hanya sekitar 20 rumah yang perangkatnya masih dapat digunakan.

Angka tersebut merupakan perkiraan berdasarkan kondisi yang diketahui pemerintah desa di lapangan.
Ia mengatakan pemerintah desa terakhir kali mengusulkan perluasan jaringan listrik pada 2017.

Ia menuturkan, dalam komunikasi dengan pihak PLN, pemerintah desa memperoleh penjelasan bahwa pembangunan jaringan dengan panjang kurang dari satu kilometer dapat ditangani lebih cepat.

Namun, berdasarkan survei yang dilakukan, kebutuhan jaringan listrik di Hepang ternyata lebih dari satu kilometer. Menurut penjelasan yang diterima pemerintah desa, pembangunan tersebut membutuhkan dukungan anggaran APBN.

Keterbatasan Listrik Merembet ke Sekolah


Dampak ketiadaan listrik juga dirasakan di SDN Hepang. Sekolah tersebut telah memiliki perangkat pembelajaran digital berupa Interactive Flat Panel (IFP) atau papan interaktif digital yang merupakan bagian dari bantuan pemerintah. Namun, fasilitas itu belum dapat dimanfaatkan secara optimal karena keterbatasan pasokan listrik.

Keterangan foto: perangkat pembelajaran digital berupa Interactive Flat Panel (IFP) atau papan interaktif digital di SDN Hepang, Desa Nenbura, Kecamatan Doreng, Kabupaten Sikka, belum dapat dimanfaatkan secara optimal akibat keterbatasan akses listrik. FOTO:Mario Sina.

Kepala SDN Hepang, Paulus Arabaha, mengatakan kegiatan belajar mengajar sehari-hari masih berlangsung secara manual dengan menggunakan papan tulis putih atau whiteboard.
Sekolah sesekali menghidupkan perangkat digital menggunakan generator set (genset). Akan tetapi, penggunaannya sangat terbatas karena membutuhkan biaya operasional yang tidak sedikit.

“Sepanjang saat ini kami menggunakan genset, tapi sekali-sekali mungkin dalam satu bulan satu kali, untuk istilahnya pemanasan saja,” kata Paulus, Rabu (14/10/2026) pagi.

Menurut dia, penggunaan genset selama beberapa jam, dari pagi hingga siang, dapat menghabiskan biaya hingga ratusan ribu rupiah. Sementara itu, bahan bakar yang dijual di kampung tersebut mencapai Rp20.000 per botol air mineral.

Biaya itu membuat sekolah tidak bisa mengandalkan genset untuk memenuhi kebutuhan listrik setiap hari. Akibatnya, perangkat pembelajaran digital yang seharusnya mendukung kegiatan belajar belum dapat digunakan secara rutin.

Paulus berharap persoalan listrik di Hepang mendapat perhatian serius. Akses listrik, menurut dia, akan membantu masyarakat menjalankan aktivitas sehari-hari sekaligus membuka kesempatan bagi sekolah untuk memanfaatkan fasilitas pembelajaran yang telah tersedia.

Setelah bertahun-tahun menanti, warga Hepang mendapat kabar mengenai rencana pembangunan jaringan listrik di wilayah mereka.

Manajer PT PLN (Persero) Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Flores Bagian Timur, Eko Riduan, saat dihubungi secara terpisah, menyampaikan bahwa jaringan listrik menuju Dusun Hepang, Desa Nenbura, direncanakan dibangun pada 2027.

“Wilayah Dusun Hepang, Desa Nenbura sudah masuk ke roadmap listrik desa tahun 2027,” ungkap Eko.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *