Pulihkan Trauma Siswa Pascagempa, Sekolah di Sikka Kembali Dibuka dengan Pendekatan Psikososial

MAUMERE-Aktivitas pembelajaran tatap muka di sejumlah sekolah di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, kembali dimulai pada Senin (31/8/2026), setelah dihentikan selama lebih dari dua pekan akibat gempa bumi Flores yang terjadi pada 15 Agustus 2026.
Namun, hari pertama sekolah tidak langsung diisi dengan kegiatan belajar mengajar secara normal. Pemerintah Kabupaten Sikka mengarahkan sekolah untuk lebih mengutamakan keselamatan peserta didik serta pemulihan kondisi psikologis siswa melalui kegiatan trauma healing.
Untuk jenjang SD hingga SMP, pembelajaran tatap muka kembali dimulai Senin, 31 Agustus 2026. Sementara peserta didik PAUD dan Taman Kanak-Kanak (TK) masih menjalani pembelajaran dari rumah atau Belajar dari Rumah (BDR) selama satu minggu.
Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga (PKO) Kabupaten Sikka, Patris Federiko, mengatakan pelaksanaan pembelajaran tatap muka selama masa tanggap darurat harus menempatkan keselamatan siswa sebagai prioritas.
“Sesuai hasil rapat bersama Bupati Sikka, KBM untuk TK dan PAUD dilakukan belajar dari rumah (BDR) selama seminggu, sedangkan SD dan SMP dilakukan mulai Senin, 31 Agustus 2026,” kata Patris.
Kebijakan tersebut tertuang dalam Surat Edaran Plt. Kepala Dinas PKO Kabupaten Sikka Nomor PKO.400.3.5/32/VIII/2026 tentang Aktivitas Pembelajaran Tatap Muka di Masa Tanggap Darurat Bencana.
Empat Hari Pertama Fokus Trauma Healing
Dalam masa pemulihan pascabencana, kegiatan sekolah juga diarahkan untuk tidak langsung mengejar materi pelajaran.
Metode pembelajaran pada tiga hingga empat hari pertama akan diisi dengan kegiatan trauma healing bagi siswa. Sementara pendampingan dan penguatan bagi guru dijadwalkan pada hari kelima dan keenam.
Pendekatan tersebut dilakukan untuk membantu siswa dan tenaga pendidik beradaptasi kembali dengan lingkungan sekolah setelah mengalami bencana dan menghadapi kemungkinan gempa susulan.
Pada hari pertama sekolah, Bupati Sikka, Juventus Prima Yoris Kago, turut turun langsung ke sejumlah sekolah untuk mendampingi kegiatan trauma healing.
Bupati mengunjungi SMPK Frater Maumere dan SDI Iligetang. Dalam kunjungan tersebut, Juventus berinteraksi langsung dengan para siswa dalam suasana santai dan penuh keakraban.
Kegiatan itu menjadi bagian dari upaya Pemerintah Kabupaten Sikka memberikan dukungan psikososial kepada anak-anak dan pelajar yang terdampak secara emosional akibat gempa bumi Flores.
Kehadiran Bupati di tengah para siswa diharapkan dapat memberikan rasa aman, membangun kembali semangat belajar, sekaligus membantu anak-anak mengurangi rasa takut setelah mengalami situasi traumatis akibat bencana.
Juventus juga mengajak para siswa tetap bersemangat mengikuti proses pembelajaran dan tidak larut dalam rasa takut.
Pemerintah Kabupaten Sikka, kata dia, terus berupaya memastikan kebutuhan masyarakat pascabencana, termasuk pemulihan psikologis anak-anak, mendapat perhatian.
Sekolah Harap Trauma Healing Berkelanjutan
Wakil Kepala SDI Iligetang, Maria Yuldensia Kila, mengapresiasi perhatian Pemerintah Kabupaten Sikka yang hadir langsung bersama para siswa pada hari pertama sekolah.
“Kami menyampaikan terima kasih kepada Bapak Bupati Sikka yang sudah hadir dan memberikan perhatian kepada anak-anak kami. Kegiatan seperti ini sangat membantu anak-anak untuk kembali merasa tenang, nyaman, dan bersemangat,” ujar Maria saat dikonfirmasi awak media seusai kegiatan, Senin (31/8/2026).
Menurut Maria, anak-anak yang mengalami bencana tidak hanya membutuhkan bantuan berupa kebutuhan dasar, tetapi juga pendampingan psikologis dan dukungan emosional.
Karena itu, kegiatan trauma healing dinilai penting untuk membantu siswa mengelola rasa takut, kecemasan, maupun pengalaman traumatis yang mereka alami selama bencana.
Ia menilai kehadiran pemerintah secara langsung di lingkungan sekolah juga memberikan penguatan moral bagi siswa maupun tenaga pendidik.
“Anak-anak membutuhkan suasana yang membuat mereka merasa aman dan diperhatikan. Kehadiran Bapak Bupati bersama tim dalam kegiatan ini memberikan semangat baru bagi kami untuk terus mendampingi anak-anak,” katanya.
Maria mengatakan, sekolah memiliki peran penting dalam memastikan proses pemulihan anak berlangsung secara berkelanjutan.
Para guru, kata dia, tidak hanya bertugas memastikan kegiatan belajar mengajar kembali berjalan, tetapi juga harus peka terhadap perubahan perilaku dan kondisi emosional siswa setelah bencana.
Karena itu, pihak SDI Iligetang berharap kegiatan pendampingan psikososial dan trauma healing dapat terus dilakukan, terutama bagi anak-anak yang mengalami langsung dampak gempa.
“Kami berharap pendampingan seperti ini tidak berhenti sampai di sini. Anak-anak membutuhkan proses untuk benar-benar kembali pulih dan siap mengikuti kegiatan belajar seperti biasa,” tambahnya.
