Dalam Lima Tahun Terakhir, Kelahiran Bayi di Sikka Cenderung Menurun, Tahun 2025 Jadi yang Terendah

waktu baca 2 menit

MAUMERE-Jumlah kelahiran bayi di Kabupaten Sikka menunjukkan tren menurun dalam lima tahun terakhir. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Sikka, pada 2025 tercatat hanya 4.144 kelahiran, menjadi angka terendah selama periode 2021–2025.

Data BPS menunjukkan jumlah kelahiran bayi di Kabupaten Sikka mengalami fluktuasi dari tahun ke tahun.

Pada 2021 tercatat sebanyak 5.860 bayi lahir, kemudian turun menjadi 4.679 bayi pada 2022. Angka tersebut sedikit meningkat menjadi 4.774 bayi pada 2023, lalu kembali naik menjadi 5.789 bayi pada 2024.

Namun, pada 2025 jumlah kelahiran turun cukup tajam menjadi 4.144 bayi, atau berkurang 1.645 kelahiran dibandingkan tahun sebelumnya.

Jika dibandingkan dengan 2021, jumlah kelahiran pada 2025 juga turun sekitar 29,3 persen, mencerminkan perubahan yang cukup signifikan dalam dinamika kependudukan daerah.

Dari total 4.144 kelahiran pada 2025 tersebut, sebanyak 4.089 bayi lahir hidup, sedangkan 55 bayi lahir mati.
Dalam keterangan infografisnya, BPS Kabupaten Sikka menyebutkan bahwa perubahan jumlah kelahiran dari tahun ke tahun merupakan salah satu indikator penting yang menggambarkan dinamika kependudukan. Data tersebut dapat menjadi bahan pertimbangan dalam perencanaan pembangunan, khususnya di bidang kesehatan dan kependudukan.
Secara nasional, BPS juga mencatat bahwa tingkat kelahiran di Indonesia terus menunjukkan kecenderungan menurun. Hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025 mencatat Total Fertility Rate (TFR) Indonesia sebesar 2,13 anak per perempuan, mendekati tingkat penggantian penduduk (replacement level). Kondisi ini menunjukkan laju pertumbuhan penduduk Indonesia semakin melambat.

Meski demikian, data BPS Sikka hanya menggambarkan jumlah kelahiran yang tercatat selama periode 2021–2025 dan belum menjelaskan faktor-faktor penyebab penurunan tersebut.

Untuk mengetahui penyebabnya diperlukan kajian lebih lanjut, termasuk melihat pengaruh perubahan struktur penduduk, usia perkawinan, tingkat fertilitas, maupun faktor sosial dan ekonomi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *