​Tokoh Koperasi Internasional Ingatkan Bahaya Laten Kapitalisme Terselubung di Tubuh Koperasi Kredit

waktu baca 3 menit

​MAUMERE-Pertumbuhan aset finansial dan kuantitas anggota koperasi kredit (Credit Union/CU) di Nusa Tenggara Timur (NTT), khususnya di Kabupaten Sikka, memang berkembang sangat pesat. Namun, di balik angka-angka fantastis tersebut, tersimpan sebuah ancaman serius berupa krisis ideologi yang luput dari pandangan jika tidak diwaspadai sejak dini.

​Lampu kuning ini dinyalakan langsung oleh Tokoh Koperasi Internasional, Drs.Robby Tulus, saat membekali para pengelola dan anggota KSP Kopdit Obor Mas dalam dialog interaktif bertajuk “Ngopi Bareng” di Maumere, Kamis (9/7/2026).

​Dalam catatan kritisnya, Robby Tulus secara blak-blakan mengingatkan adanya bahaya laten kapitalisme terselubung yang perlahan bisa menggerogoti tubuh gerakan koperasi. Kondisi ini terjadi ketika koperasi kredit mulai terjebak pada orientasi bisnis murni dan hanya fokus pada perputaran uang, sementara ruh utamanya sebagai gerakan pemberdayaan masyarakat justru terabaikan.

​”Koperasi kredit atau CU itu sejatinya lahir sebagai gerakan pemberdayaan masyarakat, bukan sekadar lembaga bisnis keuangan murni. Tantangan terbesar kita hari ini adalah bagaimana agar pertumbuhan usaha yang besar itu tetap berjalan seiring dengan penguatan nilai-nilai dasar dan ideologi koperasi,” tegas Robby.

​Robby memberikan analogi mendalam mengenai pertumbuhan sebuah pohon untuk menggambarkan situasi tersebut. Menurutnya, sebuah pohon hanya dapat tumbuh dengan sehat dan berbuah lebat apabila ditopang oleh tanah yang subur. Dalam konteks gerakan koperasi, tanah yang subur tersebut adalah pendidikan terhadap anggotanya.

​Sayangnya, pembiaran terhadap minimnya pendidikan anggota memicu maraknya praktik menyimpang yang mengatasnamakan koperasi di lapangan. Robby dengan tajam menyoroti fenomena “koperasi berbaju rentenir” yang marak merusak citra gerakan moral ini.

​”Kita dirusak di lapangan oleh praktik-praktik yang lain, berbaju koperasi dan perorangan-perorangan lain. Banyak sekali yang berbaju koperasi tapi praktiknya tidak lain dan tidak bukan sebagai rentenir! Bahkan ada yang juga koperasi sebenarnya, akhirnya menjadi rentenir. Ini harus kita perhatikan, supaya jangan sampai citra buruk koperasi itu merasuk ke dalam diri gerakan kita sebagai Credit Union,” urai Robby.

​Guna menangkal bahaya laten kapitalisme terselubung dan mengikis stigma miring publik yang mencap koperasi sebagai lembaga yang kolot, miskin, atau tidak menarik bagi anak muda, Robby Tulus mengajak seluruh keluarga besar KSP Kopdit Obor Mas untuk menggerakkan citra baru koperasi di Indonesia melalui strategi reideologisasi.

​Koperasi didesak untuk kembali teguh memegang lima pilar utamanya: solidaritas, pendidikan, swadaya, inovasi, dan persatuan. Selain itu, tolok ukur kesuksesan sebuah koperasi tidak boleh hanya diukur dari penumpukan kapital semata, melainkan dari penguasaan tiga komponen jati diri perkoperasian internasional (International Co-operative Alliance/ICA).

​”Apa itu jati diri koperasi? Itu terdiri dari tiga: definisinya, nilai-nilainya, dan prinsip-prinsipnya. Ketiga hal ini harus betul-betul kita kuasai dengan baik, karena ini yang akan menjadi tolok ukur koperasi berkembang baik atau tidaknya. Jati diri koperasi ini berlaku untuk semua sektor, termasuk Credit Union,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *