NTT Dijuluki Provinsi Koperasi,Gubernur Minta Kopdit Obor Mas dan Koperasi Lain Masuk Sektor Produktif

waktu baca 3 menit

MAUMERE-Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Emanuel Melkiades Laka Lena, menegaskan bahwa koperasi-koperasi di NTT harus mulai mengambil peran lebih besar dalam sektor ekonomi produktif dan tidak hanya berkutat pada usaha simpan pinjam.

Pernyataan itu disampaikan Melki saat kegiatan Ngopi Bareng Menteri Koperasi Republik Indonesia, Ferry Juliantono, di Kantor Pusat KSP Kopdit Obor Mas, Jalan Kesehatan, Kota Maumere, Kabupaten Sikka, Jumat (29/5/2026).

Menurut Melki, NTT selama ini dikenal sebagai “Provinsi Koperasi” dengan total aset koperasi yang telah mencapai lebih dari Rp10 triliun. Nilai tersebut bahkan setara dengan sekitar setengah total aset Bank NTT. Namun, besarnya aset dan jumlah anggota koperasi belum sepenuhnya diikuti dengan keterlibatan koperasi dalam sektor-sektor produktif yang mampu menggerakkan perekonomian daerah.

“Saya titip satu hal saja bagi teman-teman di koperasi. NTT sudah lama dikenal sebagai provinsi koperasi, tetapi belum terlalu banyak koperasi yang masuk ke sektor produktif. Asetnya besar, anggota juga banyak, tetapi kita masih urus simpan pinjam saja,” kata Melki.

Ia mempertanyakan mengapa koperasi di NTT belum berani melakukan lompatan usaha ke sektor riil yang sesuai dengan potensi daerah masing-masing.

“Apakah kita tidak bisa melompat lebih jauh lagi masuk ke sektor produktif? Kalau bisa diperlebar sesuai potensi daerah masing-masing,” ujarnya.

Melki menilai koperasi memiliki peran strategis untuk membantu mengatasi persoalan defisit perdagangan yang selama ini dialami NTT. Berdasarkan data yang disampaikannya, nilai defisit perdagangan NTT telah mencapai lebih dari Rp51 triliun karena sebagian besar kebutuhan masyarakat masih dipenuhi dari luar daerah.

“Daripada kita ribut soal dana transfer daerah yang turun, seharusnya kita mengurus bagaimana mengurangi defisit perdagangan NTT yang mencapai Rp51 triliun lebih. Kita belanja ke mana-mana. Uang tidak berputar di NTT, tetapi keluar dari NTT,” tegasnya.

Karena itu, ia mendorong koperasi-koperasi besar, termasuk KSP Kopdit Obor Mas, untuk mulai masuk ke sektor produksi dan pengolahan berbagai kebutuhan masyarakat yang selama ini didatangkan dari luar daerah.

“Koperasi bersama lembaga-lembaga lain bisa mengambil peran di sana agar uang tidak keluar dari NTT. Kita tekan defisit perdagangan supaya uang dibelanjakan di NTT,” katanya.

Melki bahkan mencontohkan sejumlah produk kebutuhan sehari-hari yang menurutnya dapat diproduksi sendiri di NTT.

“Sabun, sampo, minyak goreng, air mineral, kalau bisa kita buat di NTT saja. Kita tekan defisitnya. Sikka saja hampir Rp2 triliun defisit perdagangannya, padahal Sikka bisa menghasilkan banyak produk,” ujarnya.

Menurut Melki, kehadiran Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) yang menjadi program prioritas Presiden Prabowo Subianto dapat menjadi pelengkap bagi ekosistem koperasi yang sudah berkembang selama ini.

Ia juga memberikan apresiasi kepada KSP Kopdit Obor Mas yang dinilainya berhasil membangun tata kelola koperasi yang sehat dan profesional hingga berkembang menjadi salah satu koperasi terbesar di NTT.

“Pak Yanto dan kawan-kawan di Kopdit Obor Mas telah melakukan tata kelola koperasi yang baik. Dengan aset yang besar, koperasi turut menentukan arah ekonomi di NTT,” katanya.

Sementara itu, Menteri Koperasi Republik Indonesia, Ferry Juliantono, meminta KSP Kopdit Obor Mas mengambil peran sebagai kakak asuh bagi Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih yang telah terbentuk di Kabupaten Sikka.

Menurut Ferry, hingga saat ini sebanyak 11.030 unit KDKMP di seluruh Indonesia telah selesai dibangun dan siap beroperasi. Pemerintah juga sedang menyiapkan sekitar 37.000 unit koperasi lainnya untuk memperkuat ekonomi masyarakat desa dan kelurahan.

Meski pembangunan fisik koperasi terus berjalan, Ferry menegaskan bahwa tantangan terbesar adalah memastikan koperasi-koperasi baru tersebut mampu dikelola secara profesional dan berkelanjutan.

“Kami berharap koperasi-koperasi besar, termasuk KSP Kopdit Obor Mas, dapat menjadi kakak asuh bagi KDKMP di Kabupaten Sikka, khususnya dalam pengelolaan keuangan dan administrasi koperasi,” kata Ferry.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *