Headline

Uskup Maumere Ingatkan Lulusan Politeknik Cristo Re: Jangan Malu dengan Tangan Berlumur Oli

waktu baca 6 menit

MAUMERE, FLORESPEDIA-Uskup Maumere, Mgr. Edwaldus Martinus Sedu, mengingatkan para lulusan Politeknik Cristo Re Maumere agar tidak malu menjalani pekerjaan teknis yang mengandalkan keterampilan tangan.

Menurutnya, keahlian yang diperoleh melalui pendidikan vokasi bukan hanya bekal untuk memasuki dunia kerja, tetapi juga dapat menjadi jalan untuk melayani sesama.

“Karena itu, jangan pernah malu dengan tangan yang berlumur oli atau kaki yang berdebu di jalan setapak. Di situlah keterampilan kalian menjadi jalan pelayanan,” ungkap Uskup Maumere dalam sambutannya pada Rapat Senat Terbuka Wisuda ke-III Program Diploma Tiga (D-III) Politeknik Cristo Re Maumere Tahun Akademik 2025/2026 di Aula Susteran Alma, Jalan Wairklau, Kelurahan Kota Uneng, Kecamatan Alok, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, Sabtu (24/10/2026) pagi.

Pesan tersebut disampaikan di hadapan 40 wisudawan dan wisudawati yang mengikuti prosesi kelulusan dengan tema Spirit of Learning atau semangat untuk terus belajar.

Uskup Edwaldus mengatakan, tema tersebut mengajak para lulusan untuk memahami bahwa belajar bukan sekadar aktivitas selama berada di bangku kuliah. Semangat belajar harus terus hidup sepanjang perjalanan mereka, termasuk ketika mulai memasuki dunia kerja dan menghadapi perubahan zaman.

Ia menjelaskan, kata spirit tidak sekadar berarti semangat, tetapi juga roh yang menghidupi dan menggerakkan seseorang. Ia mengaitkan makna tersebut dengan janji Yesus dalam Injil Yohanes 16:13, bahwa Roh Kebenaran akan memimpin manusia ke dalam seluruh kebenaran.

“Perhatikanlah kata memimpin. Orang hanya dipimpin selama ia masih berjalan, sebab kebenaran tidak pernah kita genggam sekali jadi, melainkan kita tempuh seumur hidup,” ungkapnya.

Karena itu, ia meminta para lulusan tidak menganggap wisuda sebagai akhir perjalanan pendidikan. Ijazah, menurutnya, menjadi bukti bahwa seseorang pernah belajar, tetapi kehidupan akan menguji kesediaannya untuk terus mengembangkan diri.

“Karena itu, wisuda bukanlah garis akhir, melainkan perhentian untuk menarik napas sebelum melangkah lebih jauh. Ijazah membuktikan bahwa kalian pernah belajar, tetapi hidup akan menguji apakah kalian terus belajar,” katanya.

Uskup Maumere juga mengingatkan bahwa perkembangan mesin dan teknologi berlangsung sangat cepat. Kondisi tersebut menuntut para lulusan untuk terus memperbarui pengetahuan dan keterampilan agar mampu menyesuaikan diri dengan kebutuhan dunia kerja.

“Yang bertahan bukanlah yang paling pintar, melainkan yang rendah hati untuk terus belajar. Dan hanya orang yang mau terus belajar yang mampu melihat peluang di tempat orang lain hanya melihat kesulitan,” ujarnya.

Keterampilan vokasi sebagai jalan pelayanan

Selain menekankan pentingnya belajar sepanjang hayat, Uskup Edwaldus mengajak para lulusan menghidupi nilai-nilai yang terkandung dalam nama Cristo Re, yang berarti Kristus Raja.

Ia mengingatkan bahwa Yesus datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani. Teladan itu, katanya, tampak ketika Yesus membasuh kaki para murid-Nya, sebagaimana dikisahkan dalam Injil Yohanes 13:4–15.

Bagi Uskup Edwaldus, teladan tersebut mengajarkan bahwa pelayanan tidak selalu dilakukan melalui pekerjaan yang dianggap tinggi atau bergengsi. Pekerjaan teknis yang membutuhkan keterampilan tangan juga memiliki nilai ketika dilakukan dengan sungguh-sungguh dan memberikan manfaat bagi orang lain.

Karena itu, ia meminta para lulusan tidak merendahkan pekerjaan yang bersentuhan langsung dengan kebutuhan masyarakat.

Pesan tersebut menjadi penegasan bahwa pendidikan vokasi tidak hanya mempersiapkan seseorang untuk memperoleh pekerjaan, tetapi juga membentuk sikap profesional, kerendahan hati, dan tanggung jawab dalam menjalankan profesi.

Sepuluh lulusan sudah bekerja

Sementara itu, Direktur Politeknik Cristo Re Maumere, RD. Yakobus Donnisius Migo, S.Fil., M.Th., Lic.Th.Com., yang akrab disapa Romo Donnie, menyampaikan bahwa 10 dari 40 lulusan yang diwisuda telah bekerja.

“Dari 40 wisudawan hari ini, dengan bangga kami perlu menyampaikan kepada Bapa Uskup bahwa 10 dari antara mereka sudah bekerja,” ujar Romo Donnie.

Ia menjelaskan, lulusan lainnya masih memiliki peluang karena sebagian sedang menjalani proses rekrutmen di sejumlah perusahaan dan lembaga.

Pihak kampus juga telah menerima tawaran kebutuhan tenaga kerja dari Pekanbaru dan Labuan Bajo untuk tiga program studi yang ada di Politeknik Cristo Re Maumere.

“Saat ini kami menerima juga tawaran dari Pekanbaru, ada yang sudah apply, dan ada juga dari Labuan Bajo untuk tiga program studi. Jadi, adik-adik ini akan segera kita kirim ke dunia industri,” katanya.

Romo Donnie mengatakan, sejak didirikan pada 24 Juni 2020, Politeknik Cristo Re Maumere telah mendekati angka 100 lulusan. Ia berharap para alumni terus meningkatkan kompetensi agar mampu menjadi tenaga profesional sesuai bidang masing-masing.

Ia juga menekankan pentingnya transformasi dari Spirit of Learning menjadi Spirit of Mastery, yakni dari semangat belajar menuju penguasaan keahlian secara profesional.

“Untuk itu, kita berharap agar ada transformasi dari Spirit of Learning menjadi Spirit of Mastery, dari semangat untuk belajar menjadi semangat untuk menjadi seorang profesional, ahli di bidangnya. Bukan hanya memiliki hard skill, tetapi juga soft skill,” ujarnya.

Bupati Sikka dorong Job Fair di Maumere

Dalam kesempatan yang sama, Bupati Sikka, Juventus Prima Yoris Kago, mengapresiasi Politeknik Cristo Re Maumere karena sejumlah alumninya telah memperoleh pekerjaan sebelum mengikuti wisuda.

“Saya sudah dua kali ikut wisuda dan saya bangga karena selalu diberikan data bahwa sebelum wisuda, alumni selalu ada yang sudah bekerja dan diterima pada perusahaan dan lembaga yang luar biasa,” kata Juventus.

Menurutnya, capaian tersebut tidak terlepas dari dukungan ekosistem pendidikan yang melibatkan yayasan, dosen, tenaga pendidik, direktur, dan seluruh jajaran kampus.

Bupati juga menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk mendukung peningkatan kualitas pendidikan melalui program Sikka Cerdas Merata, yang melibatkan enam perguruan tinggi di Kabupaten Sikka.

“Kami bersama enam perguruan tinggi dalam satu tekad kami, ‘Sikka Cerdas Merata’, memastikan bahwa seluruh program bantuan kami bisa tersalur pada enam kampus tersebut,” ujarnya.

Juventus turut mendorong agar kegiatan bursa kerja atau Job Fair tidak hanya dilaksanakan di Kupang dan Larantuka, tetapi juga di Maumere. Ia berharap Dinas Nakertrans Provinsi NTT bersama Dinas Nakertrans Kabupaten Sikka berkoordinasi agar kegiatan tersebut dapat digelar di Maumere mulai tahun-tahun mendatang.

“Hari ini hadir pula Kepala Dinas Nakertrans NTT, Yosep Rasi. Kami berharap Job Fair itu tidak hanya terjadi di Kupang, terjadi di Larantuka. Ka Yos ini orang Maumere, saya sudah omong beberapa kali, ‘Kae, kenapa Job Fair di Larantuka saja?’ Rasanya lulusan perguruan tinggi paling banyak di Maumere,” katanya.

Ia melanjutkan, “Pak Kadis Nakertrans Sikka juga mulai koordinasi, supaya mulai tahun-tahun depan, Job Fair bisa digelar di Maumere.”

Bupati juga mengingatkan para orang tua agar mendukung anak-anak yang telah menyelesaikan pendidikan tinggi untuk mengembangkan karier, termasuk ketika mereka harus bekerja di luar daerah.

“Maksud saya harusnya bisa dibicarakan. Kalau anak sudah kuliah, anak sudah terbang lebih tinggi gapai cita-cita, kita punya tugas sebagai orang tua untuk mendoakan supaya mereka sukses dan bahagia,” katanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Exit mobile version