Pelaku Usaha Kreatif Maumere Kecewa, Sudah Keluar Modal Tetapi Tidak Dilibatkan dalam FMTI 2026 di PJC
MAUMERE, FLORESPEDIA-Sejumlah pelaku usaha kreatif lokal yang tergabung dalam In-Tim Project mengaku kecewa karena tidak dilibatkan dalam penyediaan kebutuhan teknis Festival Musik Tradisisi Indonesia 2026 yang diselenggarakan di Kota Maumere, Kabupaten Sikka.
Padahal, mereka mengklaim telah mengeluarkan modal, menyiapkan penawaran, portofolio, hingga desain tata panggung sesuai permintaan awal penyelenggara.
Koordinator In Tim Project, Wily, mengatakan keterlibatan mereka bermula ketika pihak terkait meminta spesifikasi peralatan dan portofolio untuk mendukung pelaksanaan festival.
Kelompok yang menghimpun sejumlah pelaku usaha lokal itu kemudian menyiapkan penawaran kebutuhan teknis, termasuk tata suara, pencahayaan, genset, dekorasi, dan perlengkapan pendukung lainnya.
Wily menjelaskan, mereka juga menyiapkan desain tata letak panggung dalam bentuk tiga dimensi atau 3D. Desain tersebut mencakup penempatan alat musik, panggung, serta pencahayaan.
Menurut dia, dokumen dan portofolio telah disampaikan kepada pihak yang berkoordinasi dengan mereka. Mereka juga mengikuti dua kali pertemuan melalui Zoom bersama pihak terkait.
“Kami sudah kasih masuk penawaran, portofolio, sampai desain tata letak dalam bentuk 3D. Kami pikir sudah ada perkembangan karena sudah dua kali Zoom meeting,” kata Wily, Jumat (23/10/2026) sore.
Namun, setelah rangkaian komunikasi tersebut, mereka mengaku tidak memperoleh kepastian mengenai kelanjutan penawaran maupun alasan apabila kebutuhan teknis festival tidak menggunakan jasa mereka.
Wily mengatakan, menjelang pelaksanaan kegiatan, mereka justru mengetahui adanya vendor dari luar daerah yang menangani pekerjaan tersebut.
Ia mengaku baru memperoleh informasi bahwa kemungkinan vendor berasal dari luar Nusa Tenggara Timur setelah menanyakan perkembangan kepada pihak yang selama ini menjadi penghubung mereka.
“Kami kecewa karena sudah mengeluarkan uang untuk menyesuaikan spesifikasi yang diminta, tetapi sampai hari ini tidak ada penjelasan yang pasti,” ujarnya.
Mengeluarkan Modal Sekitar Rp 15 Juta
Wily mengungkapkan, penyesuaian peralatan yang dilakukan untuk memenuhi spesifikasi kegiatan membuat mereka harus mengeluarkan biaya tambahan sekitar Rp15 juta.
Pengeluaran itu, antara lain, digunakan untuk melengkapi perlengkapan mikrofon, kabel, serta kebutuhan teknis lain sesuai spesifikasi yang mereka terima.
Ia menjelaskan, salah satu perbedaan peralatan yang dimiliki timnya dengan spesifikasi yang diminta terletak pada konsol mixer. Pihak penyelenggara disebut meminta konsol digital, sedangkan peralatan yang mereka miliki masih menggunakan sistem analog.
Meski demikian, Wily menilai peralatan mereka masih dapat digunakan untuk mendukung pertunjukan musik tradisional, khususnya Gong Waning, dengan tetap memperhatikan kebutuhan teknis dan standar penyelenggaraan.
“Kalau kecewa, pasti kecewa. Karena kita sudah belanja dan mengeluarkan uang,” katanya.
Temi menambahkan, anggota timnya memiliki pengalaman melayani berbagai kegiatan musik dan pertunjukan di Maumere, meskipun In-team Project sebagai sebuah kelompok baru dibentuk setelah adanya permintaan penawaran untuk festival tersebut.
Ia juga menyebut sejumlah anggota tim telah memiliki pengalaman kerja secara perorangan dalam menangani kegiatan musik, tata suara, pencahayaan, dan dekorasi.
Karena itu, mereka berharap ada komunikasi yang terbuka apabila penawaran yang diajukan belum memenuhi kebutuhan penyelenggaraan.
“Kalau memang ada kekurangan dari kami, seharusnya disampaikan. Sampai sekarang kami belum mendapatkan alasan yang jelas mengapa tidak diakomodasi,” ujarnya.
Selain tidak memperoleh pekerjaan, Temi mengungkapkan keberatan terkait penggunaan desain tata letak yang menurutnya memiliki kemiripan dengan rancangan yang disiapkan In Tim Project.
Ia mengaku sempat melihat unggahan di media sosial yang menampilkan desain serupa dengan rancangan timnya. Temi mengatakan, desain awal tersebut memiliki tanda air atau watermark yang mencantumkan identitas pembuatnya.
Menurut Temi, setelah muncul keberatan dari pihaknya, ia melihat adanya perubahan pada beberapa bagian tata letak.
Temi juga mengaku memperoleh informasi bahwa perwakilan penyelenggara dari Jakarta datang ke Maumere untuk mencari informasi mengenai vendor lokal karena sejumlah data yang dibutuhkan disebut belum mereka terima.
Ia menduga dokumen yang telah diserahkan melalui jalur koordinasi di daerah tidak seluruhnya diteruskan kepada pihak terkait. Dugaan tersebut belum memperoleh konfirmasi dari Dinas Pariwisata Kabupaten Sikka maupun penyelenggara festival.
Persoalan ini juga mendapat sorotan Wakil Ketua DPRD Kabupaten Sikka, Gorgonius Nago Bapa, yang akrab disapa Us Bapa. Ia mempertanyakan alasan penyedia jasa dari luar daerah dipilih, sementara pelaku usaha lokal telah berupaya memenuhi kebutuhan penyelenggaraan kegiatan tersebut.
Us Bapa mengatakan, dirinya menerima pengaduan dari sejumlah anak muda yang bergerak di bidang tata suara atau sound system, pencahayaan atau lighting, genset, videotron, dan dekorasi.
Menurut dia, penyelenggaraan kegiatan di Maumere semestinya turut membuka ruang bagi pelaku usaha lokal untuk menunjukkan kemampuan dan memperoleh manfaat ekonomi.
“Yang paling penting sekarang ini, kita berdayakan kemampuan lokal kita. Kita punya di sini juga mampu, masa diambil dari luar?” kata Us Bapa.
Ia mengaku mendapat informasi bahwa vendor yang akhirnya menangani kebutuhan teknis kegiatan tersebut berasal dari Ruteng, Kabupaten Manggarai.
Bagi Us Bapa, persoalan utamanya bukan semata-mata mengenai besaran biaya, melainkan kesempatan bagi pelaku usaha lokal untuk terlibat dalam kegiatan yang berlangsung di daerah mereka sendiri.
“Kenapa tidak ambil kita punya orang-orang di dalam daerah ini? Ini saya kritik tegas kepada kementerian dan juga Dinas Pariwisata Kabupaten Sikka,” ujarnya.
Ia menilai Dinas Pariwisata Kabupaten Sikka perlu memberikan penjelasan mengenai proses pemilihan vendor, termasuk bagaimana dokumen dan penawaran yang disampaikan pelaku usaha lokal ditindaklanjuti.
Us Bapa juga mengingatkan bahwa pelaku usaha dapat mengalami kerugian apabila sudah mengeluarkan modal untuk menyesuaikan peralatan dengan spesifikasi kegiatan, tetapi pada akhirnya tidak mendapatkan pekerjaan.
“Bagaimana pariwisata Sikka mau maju kalau modelnya begini? Jangan sampai ada permainan-permainan. Ini masih dugaan yang harus dijelaskan,” katanya.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan