Headline

Fenomena Langit Sikka Gelap di Siang Hari, Forecaster BMKG: Ada Kaitannya dengan Sebaran Polutan Karhutla

waktu baca 5 menit
Kondisi langit di wilayah Desa Hoder, Kecamatan Waigete, Kabupaten Sikka pada Senin (19/20)2026) pagi tampak gelap.

MAUMERE-Langit Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), tampak kabur dalam beberapa hari terakhir. Sejumlah kawasan yang biasanya terlihat jelas dari Kota Maumere, termasuk perbukitan di kejauhan, kini tampak samar seperti diselimuti kabut.

Fenomena ini bukan semata-mata disebabkan oleh kabut biasa. Prakirawan Cuaca (Forecaster) BMKG Sikka, Mulya Afiyanto, menjelaskan bahwa kondisi udara kabur di Maumere berkaitan dengan sebaran partikulat atau polutan dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Meski demikian, Mulya menegaskan, Maumere tidak terdampak secara langsung oleh sebaran asap karhutla. Partikel polutan yang dihasilkan dari kebakaran tersebut dapat terbawa angin dan mencapai wilayah Sikka meskipun sumber kebakarannya berada jauh dari daerah ini.

“Wilayah Maumere khususnya tidak terdampak oleh sebaran asap secara langsung. Tapi kalau kita lihat pada sebaran partikulat karhutla, Maumere terdampak walaupun tidak terlalu banyak,” kata Mulya saat diwawancarai pada Senin (19/10/2026) pagi.

Ia menjelaskan, partikulat karhutla merupakan partikel kecil yang melayang di udara. Partikel ini dapat terbawa dari wilayah kebakaran menuju daerah lain mengikuti pergerakan angin.

Dalam pemantauan yang dijelaskan Mulya melalui peta sebaran partikulat BMKG, wilayah Sikka terpapar dalam konsentrasi relatif tipis. Sementara itu, sejumlah wilayah lain, terutama bagian Kalimantan yang ditunjukkan dalam pemantauan tersebut, mengalami konsentrasi lebih tinggi.

Angin Timur Membawa Partikulat ke Wilayah Sikka
Mulya menjelaskan, arah angin menjadi salah satu faktor yang memungkinkan partikulat dari wilayah lain mencapai Sikka.

Forecaster BMKG Sikka, Mulya Afiyanto

Berdasarkan penjelasannya saat menunjukkan peta pergerakan angin, angin secara umum bergerak dari timur ke barat. Pola tersebut memungkinkan partikulat dari wilayah timur, termasuk kawasan Papua yang terdampak karhutla, terbawa menuju wilayah Nusa Tenggara.

“Kurang lebih dari timur ke barat. Sehingga sangat mungkin dari sini dia bergerak ke kita di sini,” ujarnya sembari menjelaskan pergerakan angin pada peta pemantauan.

Ia menekankan bahwa kondisi yang terjadi di Maumere berbeda dengan wilayah yang berdekatan langsung dengan sumber kebakaran. Masyarakat di Sikka tidak serta-merta terpapar kepulan asap pekat dari lokasi kebakaran, tetapi dapat menerima dampak dari partikel polutan yang telah terbawa dan menyebar di atmosfer.

Untuk memudahkan pemahaman, Mulya mengibaratkan fenomena tersebut seperti asap pembakaran sampah. Asap yang terlihat secara langsung mungkin hanya mencapai jarak tertentu, tetapi partikel yang dihasilkan dapat terbawa lebih jauh oleh angin.

Karena itu, keberadaan partikulat karhutla di Sikka tidak berarti kebakaran terjadi di sekitar Maumere atau bahwa wilayah ini diselimuti asap secara langsung.

Kondisi Atmosfer Stabil Membuat Udara Kabur
Selain pergerakan angin, kondisi atmosfer juga memengaruhi tingkat kekaburan udara di Sikka.
Mulya mengatakan, atmosfer yang relatif stabil membuat partikel polutan sulit terangkat ke lapisan udara yang lebih tinggi. Akibatnya, partikel tersebut bertahan di dekat permukaan bumi dan membuat udara tampak kabur.

“Partikulat, aerosol, atau polutan ini mengambang di udara, kemudian dia tidak terangkat ke atas. Ini disebabkan kurang lebih karena terjadinya kondisi udara yang stabil,” jelasnya.

Kondisi itu membuat tingkat kekaburan dapat berubah dari waktu ke waktu. Menurut Mulya, udara cenderung lebih kabur pada pagi dan sore hari ketika kelembapan relatif tinggi.

Partikel polutan dapat berinteraksi dengan uap air di udara. Ketika cahaya matahari mengenai partikel-partikel tersebut, cahaya dapat dihamburkan sehingga pemandangan terlihat samar dan langit tampak lebih kusam.

Sebaliknya, ketika suhu meningkat dan kondisi atmosfer memungkinkan udara bercampur lebih baik secara vertikal, kekaburan dapat berkurang.

“Ketika udara lebih hangat atau suhu udara lebih tinggi, visibility-nya bisa mencapai tujuh sampai delapan kilometer, bahkan beberapa kali juga sampai lebih dari 10 kilometer,” katanya.

Fenomena udara kabur tersebut, menurut Mulya, sudah berlangsung lebih dari sepekan, meskipun tidak terjadi setiap hari dengan tingkat kekaburan yang sama.
Berdasarkan pemantauan yang ditunjukkan Mulya pada Senin pagi, jarak pandang atau visibility di Maumere berada pada kisaran lima kilometer atau 5.000 meter.
Jarak pandang ini berarti objek masih dapat terlihat hingga sekitar lima kilometer dalam kondisi pengamatan tersebut. Saat udara lebih bersih, jarak pandang dapat mencapai 10 kilometer atau lebih.

Mulya membandingkan kondisi Maumere dengan sejumlah daerah lain. Dalam data yang ditunjukkannya, jarak pandang di Ende sekitar empat kilometer. Sementara itu, di Sampit, Kalimantan Tengah, jarak pandang dilaporkan sekitar 100 meter, sedangkan di Palangka Raya sekitar 800 meter.

Angka-angka tersebut menggambarkan perbedaan tingkat kekaburan udara di sejumlah wilayah pada waktu pemantauan. Namun, data itu merupakan kondisi pada saat pengamatan dan dapat berubah mengikuti cuaca serta konsentrasi partikel di udara.

“Kalau di Sampit, jarak pandangnya 100 meter. Kabur sekali. Sementara kita di Maumere masih lima kilometer, jadi kondisi kita masih lebih terang,” ujarnya.

Ia juga menyebutkan bahwa jarak pandang sekitar lima kilometer di Maumere secara umum belum memengaruhi penerbangan secara langsung berdasarkan kondisi yang diamati saat itu.

“Jarak pandang yang lima kilometer ini secara umum memang tidak memengaruhi penerbangan secara langsung di Maumere,” katanya.

BMKG: Konsentrasi di Sikka Relatif Tipis

Meski kondisi udara di Maumere tampak kabur, Mulya mengatakan konsentrasi partikulat karhutla di wilayah Sikka relatif tipis berdasarkan peta sebaran yang dipantaunya.

Namun, ia mengingatkan bahwa polutan di udara tetap berpotensi berdampak terhadap kesehatan, terutama apabila konsentrasinya mencapai tingkat tertentu yang membahayakan sistem pernapasan.

“Kalau untuk berbahayanya tentu saja ada tingkat konsentrasi tertentu yang berbahaya buat pernapasan,” ujarnya.

Mulya tidak menyampaikan penilaian medis mengenai dampak partikulat yang terpantau di Sikka. Ia menjelaskan bahwa keterangan BMKG dalam konteks tersebut berfokus pada sebaran partikulat dan kondisi meteorologi yang memengaruhi jarak pandang.

Kapan Langit Sikka Kembali Cerah?
Terkait kapan kondisi udara di Sikka akan kembali jernih, penjelasan Mulya menunjukkan bahwa perubahan tersebut dipengaruhi oleh aktivitas kebakaran di wilayah sumber, pergerakan angin, serta kondisi atmosfer setempat.

Jika kebakaran masih berlangsung, partikulat dapat terus dihasilkan dan terbawa menuju wilayah lain. Sementara itu, kondisi atmosfer yang stabil dapat membuat partikel bertahan lebih lama di dekat permukaan bumi.

Perubahan suhu, kelembapan, dan pergerakan udara dapat memengaruhi seberapa cepat partikulat tersebar atau terangkat. Karena itu, langit yang tampak kabur tidak selalu akan langsung kembali cerah hanya karena perubahan cuaca dalam waktu singkat.

BMKG Sikka belum memberikan kepastian waktu kapan fenomena ini akan berakhir berdasarkan keterangan yang disampaikan dalam wawancara tersebut.

Penulis: Mario Sina

Editor: Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Exit mobile version