Headline

Jaga Hutan, Warga Kampung Hoder, Sikka Kini Tak Perlu Beli Air Tangki, Air Mengalir di Halaman Rumah

waktu baca 7 menit

MAUMERE-Hanya sepelemparan batu dari rumahnya, Maria Indrawati kini bisa mengambil air melalui sebuah tugu kran yang berdiri di Kampung Hoder, Dusun Habijanang, Desa Wairbleler, Kecamatan Waigete, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur.

Air mengalir melalui pipa yang terhubung dengan Mata Air Wairkoro, salah satu sumber air yang berada di kawasan Hutan Kemasyarakatan (HKm) Hoder Ruha Nukak.

Bagi Maria Indrawati dan warga lainnya, kran air itu bukan sekadar bangunan semen dengan pipa yang menonjol di atasnya. Kehadirannya membawa perubahan dalam kehidupan sehari-hari, terutama ketika kemarau panjang membuat air semakin sulit diperoleh.

Dahulu, warga harus mencari air dari tempat yang jauh. Ketika sumber air mengering, mereka terpaksa mengandalkan mobil tangki untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Satu tangki air bahkan harus dibeli dengan harga Rp 200.000.
Kini, warga tak perlu lagi mengeluarkan uang sebanyak itu untuk mendatangkan air tangki.

Melalui program Forest Programme V (FP-V) tahun 2026, jaringan pipanisasi air dibangun dari Mata Air Wairkoro hingga Kampung Hoder. Air kini mengalir melalui enam tugu kran yang dibangun berkat dukungan program dan swadaya warga Kampung Hoder.

Bagi warga yang setiap hari membutuhkan air untuk memasak, minum, mandi, dan mencuci, perubahan itu terasa nyata. Air yang dahulu harus dicari dengan susah payah kini bisa dijangkau hanya dengan berjalan kaki dari rumah. Namun, kemudahan yang kini dinikmati warga Kampung Hoder tidak datang begitu saja. Di balik aliran air tersebut, ada perjuangan masyarakat yang pernah menghadapi kekeringan sekaligus berupaya menjaga hutan agar mata air tetap hidup.

Pernah Kehilangan Sumber Air
Eliseus Loku (56), Ketua Kelompok Perhutanan Sosial Hutan Kemasyarakatan (HKm) Hoder Ruha Nukak, masih mengingat bagaimana perubahan kondisi mata air memengaruhi kehidupan masyarakat.
Di dalam kawasan HKm Hoder Ruha Nukak terdapat tiga mata air, yakni Wairkoro, Hapewair, dan Rotat. Ketiganya berada di lokasi berbeda dan menjadi bagian penting dari sumber air di wilayah tersebut.

Eliseus Loku (56), Ketua Kelompok Perhutanan Sosial Hutan Kemasyarakatan (HKm) Hoder Ruha Nukak

Sekitar 2019-2020, pemerintah membangun jaringan perpipaan melalui program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas). Jaringan itu melayani warga Dusun Wolemapa dan Dusun Habijanang.

Pada awalnya, masyarakat masih dapat menikmati air dari jaringan tersebut. Namun, keadaan berubah ketika kemarau panjang melanda. Debit mata air menurun, bahkan Mata Air Wairkoro pernah mengering.

Menurut Eliseus, salah satu persoalannya adalah perlindungan pepohonan di sekitar mata air yang saat itu belum memadai.

“Pernah kering mata air,” katanya saat ditemui di halaman rumahnya di Kampung Hoder, Kamis (15/10/2025) pagi.

Warga pun kembali kesulitan mendapatkan air. Mereka harus mencari sumber lain dengan jarak yang lebih jauh. Sebagian keluarga mengandalkan pasokan mobil tangki yang dibantu melalui anggaran desa.
Tetapi, membeli air tangki bukan perkara mudah bagi semua keluarga. Harga yang semula sekitar Rp 170.000 per tangki pada tahun sebelumnya meningkat menjadi Rp200.000 pada 2026.

“Kalau tahun kemarin itu Rp 170 ribu. Tahun ini sudah Rp 200 ribu satu tangki,” ujar Eliseus.

Di tengah kondisi tersebut, warga mulai memikirkan cara agar air bisa kembali dinikmati lebih dekat dengan rumah. Mereka tidak ingin terus bergantung pada pasokan air tangki setiap kali kemarau datang.

Kesulitan itulah yang kemudia mendorong anggota kelompok HKm Hoder Ruha Nukak mengusulkan pembangunan jaringan perpipaan baru melalui program Forest Programme V (FP-V) pada 2026.

“Kami memang sangat membutuhkan air. Jadi, saat itu kami mengusulkan supaya ada anggaran untuk perpipaan, menarik pipa langsung dari Mata Air Wairkoro ke Kampung Hoder untuk melayani tiga RT ini,” kata Eliseus.

Enam Tugu Kran dari Program dan Gotong Royong Warga


Usulan tersebut mendapat dukungan anggaran sebesar Rp 20 juta untuk pembangunan jaringan perpipaan dan empat tugu kran air.

Pengerjaan dimulai pada akhir September 2026. Dana program digunakan untuk pengadaan pipa, semen, dan pasir. Sementara batu kali untuk fondasi serta tenaga kerja disediakan melalui swadaya masyarakat.

Warga tidak hanya menunggu bantuan selesai dikerjakan. Mereka ikut bekerja, menyiapkan material yang dibutuhkan, dan bergotong royong membangun fasilitas air bersih tersebut.

Pekerjaan itu berlangsung sekitar enam hari atau kurang lebih satu minggu.
Dari anggaran program, dibangun empat tugu kran. Masyarakat kemudian berinisiatif menambah dua tugu kran lagi melalui swadaya sehingga totalnya menjadi enam titik.

Jaringan pipa yang dibangun membentang sekitar satu kilometer, dari Mata Air Wairkoro hingga titik kran terakhir di Kampung Hoder. Jarak dari mata air menuju titik kran pertama sekitar 500 meter.

Enam tugu kran tersebut melayani 109 kepala keluarga (KK) yang tersebar di tiga RT. Sebanyak 60 KK berada di RT 012, kemudian 27 KK di RT 013, dan 22 KK di RT 026.

Bagi Eliseus, keberhasilan ini menunjukkan bahwa kebutuhan bersama bisa dijawab melalui kerja sama antara dukungan program dan partisipasi masyarakat.

“Warga merasa senang karena air sudah dekat. Kami tidak capek-capek lagi dan tidak perlu memesan mobil tangki untuk mengantar air dengan biaya yang begitu tinggi. Satu tangki Rp200 ribu, sekarang kami tidak perlu lagi,” katanya.

Kini, warga bisa mengambil air di tugu kran yang lebih dekat dengan rumah. Mereka tidak lagi harus mengeluarkan biaya besar hanya untuk mendatangkan satu tangki air, seperti yang pernah dialami ketika sumber air mengalami kekeringan.

Menjaga Hutan agar Air Tetap Mengalir
Bagi Eliseus dan anggota kelompok HKm Hoder Ruha Nukak, keberhasilan mengalirkan air ke kampung tidak bisa dipisahkan dari upaya menjaga kawasan hutan.

Kelompok tersebut memiliki 108 anggota yang mengelola kawasan melalui skema perhutanan sosial.
Selain memanfaatkan potensi hutan, mereka juga bertanggung jawab menjaga kelestarian kawasan, termasuk mata air yang menjadi sumber kehidupan masyarakat.

Sejak 2023, anggota kelompok mulai melakukan penghijauan di sekitar mata air. Kegiatan serupa dilanjutkan pada 2024 dan 2025. Pada 2026, penanaman kembali direncanakan dengan menyesuaikan kondisi hujan.

Beberapa jenis pohon yang ditanam untuk mendukung penghijauan antara lain ara, beringin, dan lawan.
Upaya perlindungan juga dilakukan dengan mengawasi kawasan dari ancaman kebakaran dan penebangan pohon.

Warga turut menjaga agar hewan ternak tidak diikat sembarangan di sekitar mata air.

Menurut Eliseus, usaha merawat dan melindungi kawasan itu mulai memperlihatkan hasil. Pada 2026, ia melihat debit air di Mata Air Wairkoro semakin meningkat, bahkan muncul mata air baru.

“Anggota selalu merawat, melindungi, dan menjaga. Kami juga mengawasi supaya tidak terjadi kebakaran dan penebangan di sekitar mata air. Puji Tuhan, tahun 2026 ini debit air semakin naik, bahkan muncul lagi mata air yang baru,” ujarnya.

Pengalaman pernah kehilangan sumber air membuat masyarakat semakin memahami pentingnya menjaga hutan. Sebab, ketika pepohonan dan kawasan sekitar mata air tidak terpelihara dengan baik, masyarakat sendiri yang akan merasakan dampaknya.

Sebaliknya, ketika kawasan dijaga dan mata air tetap mengalir, manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh warga.

Air Bersih dan Tanggung Jawab Bersama

Pembangunan jaringan perpipaan di Kampung Hoder merupakan salah satu bentuk dukungan Forest Programme V (FP-V), program yang berfokus pada percepatan pengembangan Perhutanan Sosial dan peningkatan kesejahteraan masyarakat di sekitar kawasan hutan lindung.

Di Kabupaten Sikka, program ini dijalankan melalui kerja sama lintas sektor, antara lain Kementerian Kehutanan, Balai Perhutanan Sosial Kupang, BAPPERIDA Sikka, UPT Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Sikka, serta mitra pendamping seperti LATIN.

FP-V di Kabupaten Sikka memayungi sekitar 23 izin Hutan Kemasyarakatan dengan luas pengelolaan mencapai 12.262 hektare.

Selain perlindungan hutan, pengembangan perhutanan sosial juga diarahkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui potensi hasil hutan bukan kayu dan tanaman pangan, seperti kopi, bambu, kemiri, jambu mete, cengkeh, kakao, jagung, padi lahan kering, dan singkong, serta pengembangan peternakan.

Di Hoder Ruha Nukak, dukungan program kali ini menjawab kebutuhan yang sangat mendesak yakni akses air bersih yang lebih mudah bagi masyarakat.

Meski demikian, Eliseus menyadari bahwa tersedianya jaringan perpipaan tidak berarti pekerjaan selesai. Pipa, kran, dan sumber mata air harus tetap dirawat agar manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang.

Karena itu, kelompok bersama pemerintah desa Wairbleler bersepakat melakukan sosialisasi kepada warga mengenai pemanfaatan air, perawatan jaringan, dan perlindungan mata air.

Warga juga menyepakati iuran sebesar Rp 2.000 per KK setiap bulan. Iuran tersebut digunakan untuk membiayai perbaikan apabila kran atau jaringan pipa mengalami kerusakan.

“Kalau suatu saat ada kran yang rusak, uang iuran itu yang kami gunakan untuk memperbaikinya,” jelas Eliseus.

Kesepakatan itu menjadi bagian dari upaya masyarakat menjaga keberlanjutan layanan air bersih. Warga diharapkan tidak hanya menikmati air yang kini lebih dekat, tetapi juga ikut bertanggung jawab memelihara fasilitas yang telah dibangun bersama tersebut.

Penulis: Mario WP Sina.

Editor: Redaksi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Exit mobile version