Dampak Kekeringan di Desa Werang, Sikka, Panen Mente Turun Drastis, Debit Mata Air Menyusut
MAUMERE-Musim kemarau yang berkepanjangan mulai memukul kehidupan petani di Desa Werang, Kecamatan Waiblama, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur. Hasil panen jambu mete yang selama ini menjadi salah satu andalan ekonomi warga menurun drastis. Pada saat yang sama, debit mata air ikut menyusut sehingga warga kesulitan mendapatkan air bersih.
Dampak kekeringan dirasakan pada tanaman perkebunan, terutama jambu mete, yang juga pernah terdampak abu erupsi gunung. Kondisi ini membuat petani menghadapi persoalan berlapis: hasil kebun berkurang, sementara kebutuhan air untuk rumah tangga semakin sulit dipenuhi.
Penjabat Kepala Desa Werang, Rusnadi Rus, mengatakan musim kemarau tahun ini berlangsung cukup panjang. Hingga pertengahan Oktober 2026, belum terlihat tanda-tanda hujan akan turun di wilayah tersebut.
“Selaku penjabat, saya melihat musim kemarau tahun ini cukup panjang karena sampai detik ini belum ada tanda-tanda hujan akan datang. Sehingga, petani di Desa Werang sangat terdampak kekeringan, terutama petani yang memiliki tanaman komoditas seperti kakao, mente, kelapa, dan kopi,” ujarnya, Sabtu (17/10/2026) siang.
Menurut Rusnadi, dampak kekeringan juga terasa pada sumber air yang selama ini dimanfaatkan masyarakat. Meskipun jaringan pipanisasi telah menjangkau rumah warga, pasokan air kini tidak lagi lancar karena debit mata air terus menurun.
“Kami sekarang memang sangat kesulitan berkaitan dengan air bersih. Memang ada pipanisasi ke rumah warga, tetapi kami sangat merasakan debit air turun. Warga kemudian harus ke kali, ada juga yang beli air tangki,” katanya.
Rusnadi menyebutkan, harga air tangki yang diantar hingga ke Desa Werang bisa mencapai lebih dari Rp1 juta. Biaya tersebut menjadi beban tambahan bagi masyarakat, terutama petani yang pada saat bersamaan mengalami penurunan pendapatan akibat hasil panen yang tidak maksimal.
Panen Mente dari 115 Kilogram Menjadi 25 Kilogram
Dampak penurunan produksi itu dirasakan langsung Petrus Petu, salah seorang petani di Desa Werang. Ia mengatakan, hasil panen mente dari kebun seluas satu hektare miliknya merosot tajam dibandingkan tahun sebelumnya.
Jika pada musim panen sebelumnya ia masih bisa mendapatkan sekitar 115 kilogram mente, tahun ini hasilnya hanya 25 kilogram.
“ Oh, mente tahun ini saya hanya dapat 25 kilo,” kata Petrus saat menceritakan hasil panennya.
Penurunan tersebut membuat hasil kebunnya menyusut sekitar 78 persen dibandingkan hasil panen sebelumnya. Dengan harga jual sekitar Rp 20.000 per kilogram, 25 kilogram mente itu hanya menghasilkan pendapatan kotor sekitar Rp500.000.
Petrus menduga abu erupsi gunung Lewotobi Laki-laki menjadi salah satu penyebab utama merosotnya hasil panen. Menurut pengamatannya, abu memengaruhi kondisi daun dan bunga tanaman, terutama ketika mente mulai memasuki masa berbunga.
“ Itu hanya karena abu Letobi ini,” ujarnya, merujuk pada dampak abu erupsi yang menurutnya merusak tanaman.
Ia menjelaskan, ketika daun rusak dan berguguran, bunga mente ikut terdampak. Akibatnya, bunga yang seharusnya berkembang menjadi buah justru gugur sebelum waktunya.
Kondisi tersebut menambah berat beban petani yang juga menghadapi kemarau panjang. Tanpa hujan, tanaman semakin rentan mengalami gangguan pertumbuhan, sementara petani tidak bisa mengandalkan hasil mente seperti musim-musim sebelumnya.
Petrus mengatakan, penurunan hasil panen itu sangat terasa jika dibandingkan dengan produksi tahun lalu. Dari kebun seluas satu hektare, ia sebelumnya mampu menghasilkan sekitar 115 kilogram, tetapi tahun ini hanya memperoleh 25 kilogram.
Selain mente, Petrus juga memiliki tanaman kemiri dan kelapa. Ia menilai dampak terhadap kemiri tidak terlalu terasa, sedangkan buah kelapa yang masih muda terkadang jatuh sebelum waktunya.
Sementara itu, Fasilitator Perhutanan Sosial Desa Werang sekaligus warga setempat, Yohanes Hendra Chanto, mengatakan penurunan produktivitas jambu mete telah dirasakan masyarakat selama beberapa tahun terakhir.
Menurut dia, kondisi tanaman mente tidak hanya dipengaruhi kekeringan. Dampak abu erupsi gunung pada tahun-tahun sebelumnya juga disebut ikut memengaruhi produktivitas tanaman perkebunan tersebut.
“Dari tiga tahun sebelum erupsi dan pascaerupsi sampai sekarang, produktivitasnya mengalami penurunan,” kata Yohanes.
Ia menjelaskan, petani selama ini menaruh harapan besar pada jambu mete karena komoditas tersebut menjadi salah satu sumber penghidupan masyarakat. Namun, harapan untuk mendapatkan hasil panen yang baik kerap tidak sesuai kenyataan ketika tanaman mulai berbunga dan memasuki fase pembentukan buah.
Paparan abu saat tanaman berbunga, menurut Yohanes, dapat menyebabkan bunga mati sehingga gagal berkembang menjadi buah. Dalam beberapa tahun terakhir, kondisi itu memperburuk hasil panen yang diperoleh petani.
Di tengah penurunan hasil mente, masyarakat mulai mengembangkan komoditas perkebunan lain untuk mempertahankan sumber penghasilan.
Yohanes mengatakan kelapa menjadi salah satu tanaman yang diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan hidup masyarakat. Selain itu, sejumlah komoditas lain juga dikembangkan melalui kelompok tani dan pemanfaatan potensi kawasan perhutanan sosial.
Pada Blok 1 hingga Blok 2, komoditas yang dikembangkan antara lain cengkeh, pala, alpukat, dan kelapa. Sementara itu, Blok 3 dan Blok 4 memiliki potensi kemiri dan kelapa.
Tanaman-tanaman tersebut sebagian telah berproduksi dan memberikan manfaat ekonomi bagi anggota kelompok.
“Dari hasil yang dimanfaatkan dan dikembangkan oleh anggota kelompok itu, untuk situasi sekarang sangat membantu kebutuhan ekonomi mereka,” ujar Yohanes.
Meski demikian, pengembangan komoditas alternatif membutuhkan waktu dan tidak serta-merta menggantikan pendapatan yang hilang akibat menurunnya produksi mente. Petani juga harus menghadapi risiko kekeringan apabila musim panas terus berlangsung.
Yohanes mengingatkan, kemarau berkepanjangan dapat mengancam tanaman yang baru ditanam maupun tanaman yang sudah produktif. Keterbatasan air dan unsur hara dapat menghambat pertumbuhan tanaman sehingga upaya petani memulihkan pendapatan melalui komoditas alternatif juga menghadapi tantangan.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan