Headline

Warga Dobo, Sikka Bertahan Tanpa Sumber Air Bersih, Andalkan Hujan dan Beli Air Tangki hingga Rp 350 Ribu

waktu baca 8 menit

MAUMERE, FLORESPEDIA.ID-Warga Kampung Dobo, Desa Iantena, Kecamatan Kangae, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), masih menghadapi persoalan air bersih.

Di tengah kondisi pascagempa yang mengguncang Sikka pada 15 Agustus 2026, warga di wilayah tersebut harus mengandalkan air hujan sebagai sumber utama kebutuhan air sehari-hari.

Ketua BPD Desa Iantena, Fensilia Aurelia Nona Onci (47), mengatakan warga RT 01 Kampung Dobo yang berjumlah 34 kepala keluarga (KK) tidak memiliki sumber air bersih permanen.

“Di RT 01, kami di sini ada 34 KK. Dan sumber air minum kami itu dari air hujan,” kata Fensilia saat ditemui di Kampung Dobo.

Menurut dia, selain air hujan, warga tidak memiliki sumber air lain yang dapat diandalkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Selain air hujan, tidak ada,” ujarnya.

Kondisi tersebut semakin sulit setelah gempa 15 Agustus menyebabkan sejumlah bak penampung air hujan milik warga mengalami kerusakan.

Fensilia menyebut terdapat sekitar tiga hingga empat bak penampung air di RT 01 yang mengalami kerusakan. Beberapa di antaranya bahkan mengalami retakan cukup besar sehingga air yang ditampung langsung habis.

“Ada sekitar 3 sampai 4 bak. Bahkan ada beberapa bak yang keretakannya cukup besar sehingga air di bak itu kering langsung,” katanya.

Kerusakan bak membuat warga harus mencari alternatif untuk mendapatkan air. Salah satunya dengan membeli air tangki dan menumpang menampung air di bak milik warga RT 02.

Jarak antara RT 01 dan RT 02 sekitar 500 hingga 600 meter. Warga harus mengambil air dari wilayah tersebut menggunakan jeriken, dipikul, atau menggunakan sepeda motor jika tersedia.

Untuk air tangki yang ditempatkan di RT 02, Fensilia mengatakan warga membayar sekitar Rp175.000 per tangki.

“Kalau kami beli tangki dan taruh di RT 02, itu harganya 1 tangki Rp175.000,” katanya.

Namun, jika air tangki harus dibawa hingga Kampung Dobo, harganya bisa mencapai Rp350.000 untuk satu tangki.

“Kalau di sini Rp 350.000 satu tangki,” ujarnya.

Menurut Fensilia, perbedaan harga tersebut berkaitan dengan kondisi medan menuju Kampung Dobo.

“Ya karena mungkin kondisi jalan yang terjal dan faktor jarak juga sehingga mobil tangki air sulit masuk ke Kampung Dobo,” katanya.

Saat Kemarau, Mata Air Ikut Kering

Ketergantungan warga terhadap air hujan juga tidak mudah ketika memasuki musim kemarau.

Fensilia mengatakan memang terdapat mata air di sekitar wilayah tersebut. Namun, mata air itu sangat bergantung pada curah hujan sehingga ikut mengering ketika musim panas berlangsung.

“Ada memang mata air, tapi mata air itu kayak mata air curah hujan. Jadi ketika musim panas begini, mata airnya kering,” katanya.

Karena itu, warga tidak dapat mengandalkan mata air tersebut untuk kebutuhan konsumsi.

“Terpaksa kami harus beli air tangki,” ujarnya.

Bagi warga yang tidak memiliki bak penampung air sendiri, pilihan yang tersedia adalah menumpang kepada tetangga.

“Pastilah minta sama tetangga,” kata Fensilia.

Warga bahkan harus patungan untuk membeli air. Menurut dia, satu tangki air biasanya digunakan bersama oleh dua hingga tiga tetangga.

“Benar,” katanya ketika ditanya mengenai kebiasaan warga mengumpulkan uang untuk membeli satu tangki air bersama-sama.

Kepala Dusun Dobo, Hendrikus Hengki Yuvaldi, mengatakan wilayah Dusun Dobo terdiri dari empat RT dengan total sekitar 135 KK.

Menurut dia, persoalan kekurangan air bersih sebenarnya sudah dialami warga sebelum gempa, terutama ketika memasuki musim kemarau. Namun, gempa 15 Agustus membuat persoalan tersebut semakin berat karena sejumlah bak penampung air mengalami kerusakan.

“Sebelum-sebelumnya kalau sudah musim-musim begini pasti ya mengalami kekurangan air bersih,” kata Hendrikus.

Setelah gempa, khusus di RT 01 Dobo, sekitar tujuh hingga delapan bak penampung air mengalami retak.

“Jadi kami khususnya untuk RT 01 Dobo ini, itu ada sekitar 7 atau 8 bak yang retak akibat gempa kemarin,” ujarnya.

Bak-bak tersebut tidak dapat digunakan sebelum diperbaiki.

“Itu tidak bisa dipakai lagi. Harus ya perbaikan dulu baru mungkin bisa dipakai kembali,” katanya.

Hendrikus mengatakan hingga saat ini bantuan pemerintah yang diterima warga lebih banyak berupa sembako. Untuk bantuan air bersih, baru PMI Sikka yang datang menyalurkan air kepada warga Dobo.

“Air bersih belum ada, hanya hari ini baru dari PMI yang menyumbangkan air bersih pada kami,” katanya.

PMI Sikka menyalurkan sekitar 5.000 liter air bersih untuk warga Dobo.

“Saya mewakili seluruh masyarakat Dobo ini mengucapkan banyak-banyak terima kasih kepada PMI Cabang Sikka,” ujar Hendrikus.

Persoalan air di Dobo juga berkaitan dengan kondisi akses jalan menuju kampung tersebut.

Hendrikus mengatakan sebelumnya mobil tangki masih dapat masuk ke Kampung Dobo ketika jalan tani baru dibuka. Namun, kondisi jalan yang rusak akibat cuaca dan hujan membuat mobil tangki kini tidak dapat lagi mencapai kampung tersebut.

“Kalau kemarin yang pas jalan tani pertama dibuka, itu memang mobil bisa masuk, mobil tangki bisa masuk. Tapi karena cuaca, curah hujan, habis jalan juga sudah rusak begini, untuk dua tahun belakangan ini mobil tangki tidak bisa masuk lagi,” katanya.

Meski demikian, kebutuhan air tetap dipenuhi dengan membeli air tangki yang kemudian diturunkan di RT 02, kampung yang berada lebih rendah.

“Kami tetap pakai tangki, tapi kami taruhnya di bawah, di kampung sebelah. Itu di RT 02,” katanya.

Warga kemudian mengambil air dari bak milik warga RT 02 untuk dibawa ke rumah masing-masing.

“Kalau ada motor, pakai motor. Kalau tidak, pakai pikul,” ujar Hendrikus.

Menurutnya, kondisi tersebut dialami warga Dobo secara bersama-sama karena mereka harus menampung air di bak milik warga di kampung sebelah.

“Kami semua di sini. Kebetulan kami yang korban gempa, terjadi bencana ini, jadi kami semua itu semuanya taruh di bawah baru kami ambil,” katanya.

Untuk harga air tangki yang seharusnya dibawa sampai Kampung Dobo, Hendrikus menyebut satu tangki berkapasitas sekitar 5.000 liter dapat mencapai Rp400.000.

“Kalau untuk Kampung Dobo sendiri, itu air satu tangki yang isinya sekitar 5.000 liter, kami di sini Rp400.000,” ujarnya.

Air Bersih Jadi Kebutuhan Mendesak

Fensilia mengatakan bantuan air bersih yang diberikan PMI menjadi perhatian penting bagi warga. Ia berharap kepedulian terhadap kondisi warga Dobo tidak berhenti pada bantuan yang datang hari ini.

“Yang pertama pastinya kami berterima kasih karena masih ada banyak pihak yang menaruh perhatian terhadap keadaan kami di sini,” katanya.

Ia berharap pihak lain juga dapat melihat persoalan yang dihadapi warga, terutama kebutuhan air bersih.

“Harapan saya, semoga ada lagi pihak-pihak lain yang prihatin atau menaruh perhatian terhadap keadaan kami,” ujarnya.

Fensilia menegaskan bahwa harapan tersebut bukan berarti warga hanya ingin bergantung pada bantuan.

“Bukan berarti kami mengemis bantuan dari siapa pun, ya,” katanya.

Bagi warga Dobo, kata dia, persoalan paling mendesak saat ini adalah air bersih.

“Air bersih,” jawabnya ketika ditanya mengenai kebutuhan warga yang paling mendesak.

Di sisi lain, Fensilia juga berharap kerusakan bak penampung air akibat gempa mendapat perhatian dari pemerintah karena fasilitas tersebut sangat penting bagi kehidupan warga.

Ia berharap pemerintah segera turun melihat kondisi di lapangan dan menindaklanjuti kerusakan yang telah dilaporkan.

“Harapan saya, Pemda mungkin bisa segera survei dan menindaklanjuti hal ini,” katanya.

PMI Sikka Salurkan Bantuan Air Bersih dan Tandon Air

Pantauan media ini, pada Senin (28/9/2026) sore, Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Sikka melakukan pelayanan kemanusiaan bagi warga terdampak gempa bumi di Kampung Dobo, Dusun Dobo, Desa Iantena, Kecamatan Kewapante, Kabupaten Sikka.

Pelayanan PMI kali ini menyasar kebutuhan mendesak warga, terutama air bersih, sekaligus menyalurkan bantuan kebutuhan dasar dan memberikan edukasi kesehatan.

Koordinator Tanggap Darurat Bencana (TDB) Gempa Bumi PMI Kabupaten Sikka, Octavianus Aryo Adityo, mengatakan persoalan paling mendesak yang ditemukan di Kampung Dobo adalah kebutuhan air bersih.

Kondisi medan yang sulit menjadi salah satu kendala utama distribusi air ke wilayah tersebut.

“Kalau untuk kebutuhan mendesak, itu air bersih. Nah, karena kondisi medan yang cukup sulit untuk bisa sampai ke dusun, maka kami bersama warga sebenarnya itu memutuskan meletakkan dua tandon air,” jelasnya.

Dua tandon ditempatkan di lokasi. Satu merupakan bantuan warga, sedangkan satu lainnya merupakan bantuan dari Ciputra Group melalui PMI dengan kapasitas 2.300 liter.

“Jadi satu tandon air itu dibantu oleh warga sendiri, satu tandon air itu merupakan sumbangan dari kami melalui Ciputra Group, itu ukurannya 2.300,” kata Adityo.

Dengan dua tandon tersebut, total kapasitas penampungan mencapai 4.600 liter. PMI juga memobilisasi tangki air untuk mengisi tandon hingga penuh.

Selain distribusi air, PMI juga memberikan pelayanan promosi kesehatan dan memberikan bantuan kebutuhan dasar berdasarkan data masyarakat. Di RT 01 Kampung Dobo terdapat 34 kepala keluarga dengan jumlah penduduk 92 jiwa.

PMI menyalurkan family kit kepada 34 kepala keluarga, sementara pakaian dan sarung diberikan kepada seluruh 92 jiwa.

“Kebetulan di sini ada 34 KK dan 92 jiwa. Jadi kita bantu untuk family kit-nya itu 34 KK, karena sifatnya untuk kepala keluarga. Sedangkan untuk pakaian, sarung berupa sarung dan baju, itu kita bantu langsung ke 92,” kata Adityo.

Bantuan khusus perempuan berupa dignity kit juga diberikan. Data PMI juga mencatat terdapat 24 lansia di wilayah tersebut. Mereka menjadi sasaran bantuan dignity kit.

Sementara untuk ibu hamil dan bayi atau balita, PMI menyalurkan empat baby kit.

Adityo mengatakan pelayanan PMI di Kampung Dobo merupakan respons darurat berdasarkan kebutuhan masyarakat di lapangan.

“Karena memang jarak yang cukup jauh, lalu juga dengan kondisi medan yang cukup sulit, nah, lalu ketiadaan sumber air, ini yang membuat PMI akhirnya kita coba untuk membantu dengan tandon dan tadi, memobilisasi tangki air ke sini,” katanya.

Ia berharap pemerintah dapat memberikan perhatian lanjutan karena PMI pada dasarnya mendukung pemerintah dalam penanganan bencana.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Exit mobile version