Headline

Ketum PMI Jusuf Kalla Dialog dengan Pengungsi Gempa di Posko Gelora Maumere, Mereka Minta Sembako dan Beasiswa

waktu baca 5 menit

MAUMERE-Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI yang juga Ketua Umum Palang Merah Indonesia (PMI), Jusuf Kalla (JK), tiba di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, Jumat (28/8/2026) pagi.

JK tiba di Bandara Frans Seda, Maumere, sekitar pukul 09.35 Wita setelah bertolak dari Surabaya. Kedatangannya disambut di ruang VVIP Bandara Frans Seda sebelum melanjutkan kunjungan kerja menemui warga yang masih bertahan di Posko Pengungsian Gelora Samador.

Kunjungan tersebut dilakukan JK untuk melihat langsung kondisi masyarakat terdampak gempa bumi yang melanda Sikka dan sejumlah wilayah di NTT sekaligus memastikan kebutuhan kemanusiaan di lapangan.

Dari Bandara Frans Seda, JK kemudian menuju Posko Pengungsian Gelora Samador. Di lokasi ini, ia berdialog langsung dengan para pengungsi yang hingga Jumat pagi masih memilih bertahan di tenda pengungsian.

Dalam dialog tersebut, sejumlah warga mengungkapkan alasan mereka belum berani kembali ke rumah. Bukan semata karena kondisi bangunan, tetapi terutama karena trauma dan rasa takut terhadap gempa susulan.

Seorang pengungsi mengatakan rumahnya hanya mengalami keretakan ringan. Namun, ia belum berani kembali karena masih diliputi kecemasan, terutama ketika malam hari.

“Kalau kami pulang sebentar, hati kami masih berdebar-debar. Malam terjadi apa-apa,” ujar warga tersebut.

JK kemudian memastikan apakah rasa takut itu masih dirasakan warga.
“Takut lagi?” tanya JK.
“Takut lagi, masih,” jawab warga tersebut.

Pengungsi lainnya mengatakan rasa takut semakin kuat karena di rumah mereka terdapat anak-anak kecil dan bayi.

“Kalau sampai di rumah kami punya hati sudah deg-deg begitu. Malam… kejadian malam,” katanya.
“Malam kembali lagi?” tanya JK.
“Iya, malam. Apalagi ada cucu, anak-anak kecil semua, bayi-bayi. Yang kami takutkan ini,” jawabnya.

Mendengar keluhan tersebut, JK menyampaikan simpati kepada warga yang masih diliputi ketakutan pascagempa.

Ia mengatakan masyarakat di wilayah rawan bencana memang harus tetap waspada. Namun, setelah masa tanggap darurat, kehidupan masyarakat secara bertahap juga harus mulai dipulihkan.

“Yang penting untuk sekarang ini harus rehabilitasi dan juga perbaikan kehidupan, kembali pekerjaan nanti pada waktunya. Anak-anak sekolah tentu kembali ke sekolah, perbaikan-perbaikan semuanya,” kata JK.

Sebagai Ketua Umum PMI, JK mengatakan organisasi kemanusiaan tersebut sejak awal telah terlibat dalam membantu masyarakat terdampak bencana, terutama untuk memenuhi kebutuhan dasar.

Ia menyebut bantuan kemanusiaan juga telah dikirim menggunakan kapal untuk kemudian didistribusikan ke sejumlah wilayah di Flores.

“Palang Merah selalu membantu sejak awal dan juga kebutuhan-kebutuhan sehari-hari, apa-apa yang dibutuhkan. Hari ini ada kapal bantuan di Labuan Bajo, disebarkan ke seluruh daerah Flores,” ujarnya.

Menurut JK, penanganan bencana tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Pemerintah, organisasi kemanusiaan, relawan dan masyarakat harus bergerak bersama untuk membantu warga terdampak.

“Karena bagi kita semua sesama manusia, tentu harus selalu sama-sama membantu,” katanya.

Di hadapan JK, kebutuhan warga yang masih bertahan di Gelora Samador juga disampaikan secara langsung.

JK menanyakan kepada para pengungsi mengenai kebutuhan paling mendesak yang diperlukan agar mereka dapat kembali berdaya.

“Apa yang dibutuhkan ini yang mendesak? Supaya kembali berdaya,” tanya JK kepada warga.

“Sembako! Sembako, Pak!” jawab para pengungsi serentak.

Selain kebutuhan pangan, warga meminta perhatian terhadap keberlangsungan pendidikan anak-anak mereka yang terdampak bencana.

“Kebutuhan sekolah… Beasiswa buat anak sekolah… Sembako, Pak! Beasiswa,” ujar warga.

Mendengar permintaan tersebut, JK mengatakan kebutuhan masyarakat akan diupayakan untuk dipenuhi secara bertahap.

“Karena itu, saya minta kesabaran Ibu-Ibu. Nanti kita selesaikan semuanya bantuan yang ada. Baik tentang materi, tentang pendidikan, dan sebagainya,” kata JK.

Suasana dialog kemudian mencair ketika JK melontarkan candaan kepada warga. Para pengungsi pun tertawa dan suasana di lokasi menjadi lebih santai.

Sementara itu, Bupati Sikka Juventus Prima Yoris Kago mengatakan jumlah warga yang masih bertahan di Posko Pengungsian Gelora Samador terus berubah seiring proses pemulangan pengungsi.

Berdasarkan data terakhir yang diterima pemerintah hingga Jumat pagi, masih terdapat sekitar 655 jiwa yang bertahan di posko tersebut.

“Sampai hari ini sekiranya data terakhir dari tadi malam sampai pagi tadi sisa 600-an, 655 jiwa,” kata Juventus.

Menurut dia, pemerintah daerah terus berkoordinasi dengan BNPB dan BMKG untuk memastikan informasi mengenai kondisi kegempaan yang diterima masyarakat berasal dari sumber resmi.

Langkah tersebut dinilai penting karena masyarakat masih berada dalam situasi rentan dan mudah terpengaruh oleh informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.

Bupati Juventus meminta masyarakat tidak mudah mempercayai informasi yang beredar di media sosial apabila tidak jelas sumbernya.

“Kami berdasarkan arahan dari BNPB, dari BMKG, untuk terus melakukan komunikasi menyampaikan perihal kondisi riil hari ini dan memberikan kekuatan kepada mereka, seluruh masyarakat kami bahwa tidak perlu percaya yang hoaks,
informasi-informasi di sosial media dan lain sebagainya yang bisa kemudian menyesatkan,” ujarnya.

Ia meminta warga mengikuti perkembangan situasi melalui informasi resmi BMKG, pemerintah dan PMI.

Penanganan warga terdampak gempa di Sikka, kata Bupati Juventus, tidak hanya berfokus pada pemenuhan kebutuhan dasar seperti makanan, minuman dan tempat tidur.
Kondisi psikologis warga, terutama anak-anak yang mengalami langsung situasi gempa, juga menjadi perhatian pemerintah.

Di lokasi pengungsian, aktivitas psikososial terus dilakukan dengan melibatkan relawan dari Kementerian Sosial. Pendampingan tidak hanya diberikan kepada anak-anak, tetapi juga kepada orang tua.

“Selain kita siapkan kebutuhan makan, minum, dan tidurnya, tetapi aktivitas psikososial untuk anak-anak… kami terus-menerus melakukan pendampingan ini, baik pada anak-anak maupun pada orang tua,” katanya.

Menurut Bupati Juventus, dukungan psikososial menjadi bagian penting dalam proses pemulihan karena sebagian warga masih mengalami ketakutan untuk kembali ke rumah meski kondisi bangunannya relatif masih dapat ditempati.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh unsur yang sejak awal terlibat dalam penanganan bencana, mulai dari TNI, Polri, Kejaksaan hingga PMI Kabupaten Sikka.

“Kita semua sejak awal sampai hari ini tidak lepas dari kerja sama semua pihak,” ujarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Exit mobile version