Wamenkes Puji Pelayanan RSUD Tc Hillers Maumere Pascagempa: Pasien Tetap Dilayani Meski di Tenda
MAUMERE-Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Republik Indonesia, dr.Benjamin Paulus Octavianus, S.p.P (K) memuji kinerja tenaga medis di RSUD dr. Tc Hillers Maumere yang tetap memberikan pelayanan kepada pasien di tengah situasi darurat pascagempa bumi yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT).
Wamenkes menyampaikan apresiasi tersebut setelah meninjau langsung kondisi dan pelayanan di RSUD dr. TC Hillers, Kabupaten Sikka, Minggu (16/8/2026).
Menurut Wamenkes, pelayanan kesehatan di rumah sakit tersebut tetap berjalan dengan baik meskipun sebagian besar pasien harus dirawat di luar gedung, termasuk di tenda dan selasar rumah sakit.
“Saya lihat sendiri, saya berterima kasih untuk semua tenaga medis di sini. Saya sangat kagum,” kata Wamenkes.
Ia menilai tenaga medis RSUD dr. TC Hillers tetap bekerja sesuai standar operasional prosedur (SOP), meskipun berada dalam kondisi pascabencana.
“Terjadi di situasi seperti itu mereka kerjakan persis standar SOP-nya, bagus sekali,” ujarnya.
Wamenkes mengatakan, selama berada di RSUD dr. TC Hillers, dirinya mengecek langsung sistem pencatatan dan pelaporan pelayanan pasien.
Ia menemukan berbagai jenis pelayanan medis tetap berjalan, mulai dari penanganan bayi baru lahir atau neonatus, persalinan, operasi caesar, hingga penanganan pasien dengan penyakit infeksius dan stroke.
“Setiap hari mulai dari bayi, neonatus itu artinya umur di bawah 28 hari, ada begitu banyak. Ada banyak partus, ada melahirkan di situ, ada seksio di situ,” katanya.
Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa pelayanan kesehatan di RSUD dr. TC Hillers tetap berjalan meskipun rumah sakit menghadapi situasi darurat akibat gempa.
Tidak hanya pasien umum, Wamenkes juga melihat penanganan terhadap pasien dengan kondisi kritis tetap dilakukan.
“Penanganan-penanganan untuk pasien yang infeksius ada semua, penyakit pasien stroke juga saya cek semuanya,” ujarnya.
Ia menyebut terdapat lebih dari 80 pasien yang saat itu mendapatkan pelayanan di rumah sakit tersebut.
“Pasien stroke juga saya cek semuanya tadi ada 80 pasien lebih. Itu luar biasa,” kata Wamenkes.
Salah satu hal yang mendapat perhatian Wamenkes adalah kemampuan tenaga medis RSUD dr. Tc Hillers dalam mempertahankan pelayanan bagi pasien dengan kondisi kritis.
Ia mengatakan, pasien tidak seluruhnya ditempatkan di dalam gedung rumah sakit. Sebagian pelayanan dilakukan di tenda dan selasar untuk menyesuaikan dengan kondisi pascagempa.
“Semua di tenda dan di selasar-selasar, termasuk pasien-pasien yang sangat kritis, pasien ICU,” katanya.
Wamenkes memberikan penghormatan kepada seluruh tenaga kesehatan yang tetap menjalankan tugas dalam kondisi tersebut.
Ia menilai kemampuan rumah sakit mempertahankan pelayanan terhadap pasien kritis, persalinan, bayi baru lahir dan berbagai kasus lainnya di tengah situasi bencana merupakan hal yang patut diapresiasi.
Selain melakukan peninjauan, Wamenkes memastikan Kementerian Kesehatan akan memberikan dukungan terhadap kebutuhan pelayanan kesehatan di wilayah terdampak gempa.
Untuk itu, Wamenkes membawa tim Pusat Krisis Kementerian Kesehatan yang akan berada di lapangan dan melakukan koordinasi dengan fasilitas kesehatan serta pemerintah daerah.
“Kalian minta apa, kita lengkapi. Supaya tepat sasaran, apa yang dibutuhkan, kita kirim,” tegasnya.
Menurut dia, kebutuhan masing-masing rumah sakit harus dipetakan secara detail agar bantuan yang dikirim dari pemerintah pusat benar-benar sesuai kebutuhan di lapangan.
Termasuk kebutuhan alat kesehatan habis pakai maupun perlengkapan yang diperlukan untuk tindakan operasi.
“Misalnya untuk operasi kan perlu tambahan. Kalau di sini enggak ada, tolong segera koordinasi,” katanya.
Tim Pusat Krisis Kemenkes, kata Wamenkes, akan terus berkoordinasi dengan pemerintah pusat untuk memastikan kebutuhan di daerah terdampak dapat segera dipenuhi.
Dalam kesempatan tersebut, Wamenkes juga menjelaskan strategi penanganan kesehatan pascagempa di NTT.
Pemerintah memfokuskan penanganan di sejumlah wilayah yang mengalami dampak dan jumlah korban cukup berat, terutama Manggarai, Manggarai Timur dan Nagekeo.
Dukungan tenaga medis dan logistik kesehatan disebar melalui beberapa titik, termasuk Labuan Bajo, Maumere dan Bajawa.
Menurut Wamenkes, sejumlah dokter spesialis dari berbagai wilayah Indonesia telah disiapkan untuk membantu penanganan korban, termasuk dokter spesialis ortopedi dan neurologi.
Ia menegaskan, prinsip utama pemerintah dalam penanganan korban bencana adalah menyelamatkan nyawa secepat mungkin.
“Prinsip kita sekarang: selamatkan nyawa dulu. Jangan sampai kelamaan luka terbuka akhirnya jadi infeksi, jadi lebih berbahaya,” ujarnya.
Wamenkes juga mengungkapkan, hingga saat dirinya memberikan keterangan, tercatat 51 orang meninggal dunia akibat gempa. Namun, angka tersebut masih dapat berubah seiring proses pemutakhiran data di lapangan.
“Yang paling berat itu Manggarai, Manggarai Timur sama Nagekeo,” katanya.
Kunjungan Wamenkes ke Sikka menjadi bagian dari koordinasi pemerintah pusat dalam memastikan pelayanan kesehatan tetap berjalan sekaligus memetakan kebutuhan penanganan korban gempa di sejumlah wilayah NTT.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan