Headline

HIV/AIDS Sikka Capai 1.225 Kasus: Stigma Masyarakat Bikin Pasien Sembunyi dan Berhenti Pengobatan

waktu baca 3 menit
Keterangan foto: Wakil Bupati Sikka, Simon Subandi Supriadi (tengah), Kadis Kominfo Sikka, Very Awales (kiri), Ketua Pelaksana Harian KPAD Sikka, Yohanes Siga, dalam konferensi pers HIV dan AIDS terkini di Kabupaten Sikka.

Sikka-Kasus Human Immunodeficiency Virus dan Acquired Immuno Deficiency Syndrome (HIV/AIDS) di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), menunjukkan tren peningkatan yang mengkhawatirkan. Komisi Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD) Kabupaten Sikka mencatat total kasus telah mencapai 1.225 orang, dengan temuan 35 kasus baru sepanjang tahun 2025.

Wakil Bupati Sikka, Simon Subandi, dalam konferensi pers pada Kamis (27/11/2025), mengungkapkan data terkini tersebut.

“Total ada 1.225 kasus HIV/AIDS di wilayah ini, terdiri dari 369 kasus HIV dan 857 kasus AIDS. Sangat disayangkan, tingkat kematian tercatat sebanyak 260 orang,” ujar Subandi.

Stigma Sosial, Hambatan Terbesar Penanggulangan

Wabup Simon, yang didampingi Pelaksana Harian KPAD, Yohanes Siga, mengakui bahwa hambatan terbesar dalam penanggulangan HIV di Sikka bukanlah sekadar masalah anggaran atau distribusi obat, melainkan stigma sosial yang mengakar kuat di masyarakat.

Di banyak desa, bisik-bisik dan penghakiman terhadap orang yang menjalani tes HIV masih terdengar lebih keras daripada suara edukasi kesehatan. Stigma ini bukan hanya membuat warga enggan untuk menjalani tes, tetapi juga mendorong pasien (ODHIV) untuk menyembunyikan status mereka, bahkan dari anggota keluarga.

Hal ini sering menyebabkan ODHIV mengonsumsi obat Antiretroviral (ARV) secara diam-diam, atau bahkan berhenti total dari pengobatan ketika status mereka terungkap.

“Kalau stigma tidak diberantas, angka tidak akan berubah. Sikka butuh perubahan cara berpikir, bukan hanya perubahan teknis layanan,” kata seorang anggota WPA yang telah mendampingi ODHIV selama lebih dari tujuh tahun.

Menyebar ke Semua Profesi dan Kecamatan

Data kasus menunjukkan bahwa kasus HIV dan AIDS telah ditemukan di semua wilayah kecamatan di Sikka. Penyakit ini menyerang semua kelompok umur dan hampir semua profesi dalam masyarakat, menunjukkan penyebaran yang merata.

Mengenai faktor risiko penularan, data menunjukkan bahwa risiko heteroseksual menempati urutan teratas dengan 1.012 kasus. Ini disusul oleh homoseksual sebanyak 135 kasus, perinatal (penularan dari ibu ke anak) 51 kasus, tidak diketahui 23 kasus, dan pengguna narkoba suntik (penasun) 4 kasus.

Lebih lanjut, Subandi menambahkan bahwa temuan kasus baru selama periode Januari hingga Juli 2025 sudah mencapai 35 kasus.

Menghadapi situasi ini, Pemerintah Daerah Sikka berkomitmen untuk mewujudkan Sikka Bebas AIDS pada tahun 2030. Upaya penanggulangan didukung oleh ketersediaan sumber daya dan fasilitas, termasuk klinik VCT di Puskesmas, Klinik CSR di RSUD Maumere, serta tenaga medis dan konselor terlatih.

“Ada tiga pusat kesehatan yang memberikan layanan penanggulangan HIV/AIDS secara gratis, yaitu di Puskesmas Beru, Puskesmas Nita, dan Puskesmas Waipare,” kata Subandi.

Sementara itu, Yohanes Siga menjelaskan bahwa KPAD telah membentuk 87 kelompok Warga Peduli AIDS (WPA) di berbagai desa dan kelurahan. Pemda juga akan mendorong desa-desa untuk aktif terlibat dan mengalokasikan anggaran untuk penanggulangan AIDS, serta TBC dan Malaria.

Sebagai langkah pencegahan, KPAD terus memberikan imbauan agar semua pasangan wajib melakukan pemeriksaan kesehatan sebelum menikah, serta melaksanakan program sosialisasi bahaya AIDS di sekolah-sekolah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Exit mobile version