Fraksi Garda Solidaritas Desak Pemerintah Benahi Pelayanan Kesehatan di Sikka, Ungkap Sejumlah Kesenjangan Fasilitas Puskesmas

Sikka-Fraksi Garda Solidaritas DPRD Kabupaten Sikka memberikan apresiasi terhadap capaian kinerja Pemerintah Daerah selama tahun 2024.
Dalam Pemandangan Umum atas Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) Bupati Sikka Akhir Tahun Anggaran 2024, fraksi menilai dari 30 indikator kinerja utama, hampir semuanya mengalami peningkatan meskipun terjadi rasionalisasi dan perubahan anggaran pada semester kedua.
Fraksi Garda Solidaritas menegaskan bahwa pencapaian ini harus terus diperkuat agar visi “Maumere Baru” dapat terwujud.
Selain mengapresiasi capaian kinerja pemerintah selama tahun 2024, Anggota Fraksi Garda Solidaritas, Agustinus Feliksius Segon saat membacakan pemandangan umum fraksi juga menyoroti berbagai permasalahan di sektor kesehatan, termasuk krisis dokter anestesi di BLUD dr. TC Hillers Maumere yang sempat menghambat layanan bedah.
Selain itu, fraksi juga mempertanyakan keterlambatan pembagian jasa COVID-19 bagi tenaga kesehatan sejak 2020.
Fraksi Garda Solidaritas juga menyoroti kesenjangan fasilitas antar Puskesmas di Kabupaten Sikka. Dikatakan Feliks Segon, berdasarkan hasil kunjungan kerja DPRD Kabupaten Sikka pada sejumlah UPT Puskesmas di wilayah kabupaten Sikka ditemukan masih ada kesenjangan antara puskesmas yang satu dengan puskesmas yang lain.
Lanjutnya, ada puskesmas yang fasilitas memadai dan pelayanan yang ramah dan terlaksana dengan baik.
“Pada kesempatan ini kami memberi apresiasi kepada UPT Puskesmas Bola, yang memberikan pelayanan kesehatan secara baik, disiplin, situasi lingkungan kerja yang sangat mendukung dan juga fasiltas yang cukup memadai dan fraksi menyarankan agar UPT Puskesmas Bola bisa dijadikan puskesmas contoh (role model) pelayanan kesehatan,” ungkapnya.
Di sisi lain ada puskesmas yang fasilitas sangat minim dan pelayanan seadanya. Fraksi menyoroti UPT Puskesmas Habibola di kecamatan Doreng. Puskesmas Habibola memiliki banyak sekali kekurangan mulai dari fasilitas yakni tidak memiliki rumah tunggu persalinan, padahal secara geografis sasaran berasal dari daerah/desa yang cukup jauh dari Puskesmas (6 km), gudang/ruangan penyimpanan vaksin yang sangat miris menggunakan ruangan bekas PPL Pertanian yang sudah reyot dan penuh rayap, juga pagar pengaman puskesmas.
Pagar pengaman puskesmas ini menjadi sangat penting karena pernah terjadi kasus pencurian dan percobaan pembunuhan tenaga kesehatan (bidan An sempat mendapat perawatan intensif di rumah sakit beberapa tahun yang lalu).
Lanjut Feliks Segon, Fraksi Garda Solidaritas juga menyoroti tenaga kesehatan yang bertumpuk pada puskesmas tertentu di wilayah kota dan sekitar kota Maumere, sementara puskemas di daerah terpencil dan kepulauan masih kurang tenaga kesehatan.
Selain itu fraksi menyoroti ada kepala puskesmas yang sudah belasan tahun memimpin puskesmas dengan tidak ada kemajuan apa apa pada puskesmas tersebut.
“Untuk itu fraksi mendesak pemerintah untuk segera melakukan evaluasi dan perombakan manajemen puskesmas yang tidak ada perkembangan dalam rangka penyegaran dan mencari tenaga tenaga terbaik guna memanagemen pengelolaan puskesmas secara baik,” ungkapnya.