Lonjakan Kasus Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak di Sikka dan Ende: Peringatan Serius bagi Pemerintah

waktu baca 2 menit

Maumere-Kabupaten Sikka dan Kabupaten Ende, NTT menghadapi lonjakan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak sepanjang tahun 2024. Laporan tahunan yang dirilis Perkumpulan Divisi Perempuan Tim Relawan Untuk Kemanusiaan Flores (TRUK F) mencatat 127 korban dari 77 kasus yang dilaporkan, meningkat drastis 30,85% dibanding tahun sebelumnya.

Demikian disampaikan Kordinator TRUK F, Suster Fransiska Imakulata, SSpS dalam Catatan Akhir Tahun 2024 (Catahu) yang diterima media ini.

“Data menunjukkan bahwa anak-anak masih menjadi kelompok paling rentan, dengan 73 dari total korban berusia di bawah umur. Kekerasan ini terjadi dalam berbagai ranah, mulai dari lingkungan keluarga, komunitas, hingga kekerasan berbasis gender online (KBGO),” ungkapnya.

Dalam Catahu 2024 itu, juga disebutkan, modus yang digunakan pelaku semakin beragam, termasuk manipulasi media sosial, janji pekerjaan bergaji tinggi, hingga eksploitasi dalam hubungan asmara.

Sayangnya, berbagai hambatan masih menghalangi perlindungan bagi korban. Kabupaten Ende, misalnya, belum memiliki rumah aman, sehingga banyak korban terpaksa bertahan di lingkungan yang tidak aman. Biaya visum yang masih ditanggung korban juga menjadi kendala besar, terutama bagi mereka yang berasal dari keluarga kurang mampu.

Suster Ika juga menyampaikan, TRUK F menyerukan aksi nyata dari pemerintah daerah dan aparat penegak hukum untuk meningkatkan kebijakan perlindungan dan akses layanan bagi korban.

“Jika tidak ada langkah konkret, kasus-kasus kekerasan ini hanya akan semakin meningkat, sementara para korban terus berjuang sendirian,” jelasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *